Arafah

0
73 views

logicprobe10.wordpress.comSecara harfiyah, arafah berasal dari kata ‘arrafa yang artinya memperkenalkan. Akar katanya adalah ‘arafa yang artinya mengenal atau mengetahui. Dari sini berkembang kata arif (bijaksana), ma’ruf (kebaikan)., ma’rifah (pengetahuan yang mendalam tentang sesuatu), ta’aruf (saling berkenalan) hingga ‘urf (adat kebiasaan).

Arafah adalah nama sebuah padang yang terletak sekitar 25 km sebelah timur kota Makkah, lokasi ini merupakan tempat untuk melaksanakan wukuf bagi jamaah haji yang berlangsung setiap tahun, tepatnya tanggal 9 Zulhijjah yang dimulai dari masuknya waktu zuhur dan berakhir saat terbenam matahari, yakni waktu maghrib. Wukuf di ِِArafah merupakan rukun dan puncak ibadah haji, Rasulullah saw bersabda:

 

أَلْحَجُّ عَرَفَةُ

Haji itu (wuquf) di padang Arafah (HR.Ahmad dan Ashhabus sunan)

 

Paling tidak ada lima aspek yang harus kita hayati mengapa tempat ini disebut Arafah dan menjadi tempat bagi puncak pelaksanaan ibadah haji. Pertama, tempat itu diyakini sebagai tempat pertemuan Adam dan Hawa yang telah berpisah sekian lama sesudah dikeluarkan dari surga sehingga keduanya saling mengenal kembali. Kedua, di tempat ini, manusia seharusnya semakin mengenal Allah swt sebagai Tuhan yang benar sehingga para jamaah haji beribadah, dzikir, taubat dan banyak berdo’a kepada Allah swt. Ketiga, di tempat ini, manusia yang berasal dari berbagai penjuru dunia berkumpul dengan maksud yang sama sehingga seharusnya para jamaah haji saling kenal mengenal. Keempat, di tempat ini manusia seharusnya mengenal kembali tentang dirinya; dari mana ia datang, apa yang harus dilakukan di dunia ini, kemana akan kembali dan apa yang dikehendaki Allah swt atas dirinya. Dari pengenalan terhadap dirinya ini bisa jadi seseorang akan menyadari betapa selama ini ia menjadi manusia yang tidak ideal sebagaimana yang diharapkan Allah swt dan Rasul-Nya, itu sebabnya mengapa begitu mudah seorang haji menangis di padang Arafah. Karena itu ketika seorang muslim berada di Arafah apalagi dalam rangka menunaikan ibadah haji, maka ia seharusnya mengenal kembali jati dirinya, menyadari kesalahan-kesalahannya sejak usia balligh hingga sampai di Padang Arafah, bertekad untuk tidak mau mengulangi lagi serta menyadari kebesaran dan keagungan Allah swt sebagai pencipta manusia dan alam semesta. Kelima, di tempat ini manusia seharusnya bisa mengenal kembali bagaimana kondisi umat yang sesungguhnya, apakah umat ini sudah menjalani hidup sesuai dengan kehendak Allah swt atau malah masih jauh dari ketentuan-ketentuan-Nya. Karena itu sebagai bagian dari umat Islam, setiap jamaah haji seharusnya menjadi orang yang selalu menginginkan perbaikan umat.

Satu hal lagi yang harus dipahami dalam kaitan dengan Arafah adalah bahwa berkumpulnya sekitar tiga sampai empat juta jamaah haji di Padang Arafah dilambangkan seperti Padang Mahsyar dimana manusia saat itu menanti keputusan dari Allah swt apakah akan menjadi penghuni surga atau neraka. Pada saat itu, manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas amal-amalnya di dunia. Karena itu, merujuk kepada hadits Rasulullah saw ada baiknya setiap muslim yang berada di Padang Arafah merenungi empat perkara yang nanti akan dimintai petanggungjawaban oleh Allah swt, beliau bersabda:

 

لاَتَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ فِى يَوْمِ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَا فَعَلَ فِيْهِ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ

 

Tidak beranjak seorang hamba dari tempat berdirinya pada hari kiamat sehingga ia ditanya tentang empat perkara: umur untuk apa dihabiskan, ilmu untuk apa diamalkan, harta dari mana ia peroleh dan untuk apa dibelanjakan, jasmani untuk apa dipergunakan (HR. Thabrani).

Oleh karena itu, manakala seorang haji telah meninggalkan Padang Arafah, tekad besar yang ada dalam jiwanya adalah akan menjalani sisa hidup sampai dengan kematiannya untuk selalu dalam pengabdian kepada Allah swt, berjuang menyegarkan dan menegakkan nilai-nilai yang datang dari-Nya dan ini akan memberi pengaruh sampai kematiannya, karena ibadah haji memang hanya diwajibkan sekali seumur hidup. 

 

Amalah hari arafah

Sebagaimana yang disampaikan oleh sahabat Jabir bin Abdullah ra pada hadis yang terdapat pada kitab Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan Ibnu Majah dan Sunan An Nasa’i bahwa pada hari Arafah
Rasulullah saw mengerjakan beberapa hal di bawah ini:

Pertama, Berangkat dari Mina menuju Arafah pada pagi hari tanggal 9 Dzul Hijjah. Beliau berangkat menuju Arafah dengan mengendarai kendaraan (unta) saat matahari terbit di pagi itu. Perjalanan ini diisi dengan talbiyah, tahlil dan takbir.
Kedua, Khutbah Arafah. Rasulullah saw menyampaikannya saat matahari sudah tergelincir dan sebelum pelaksanaan shalat.
Ketiga, Shalat Zhuhur dan Ashar. Kedua shalat ini beliau saw lakukan bersama para sahabat dengan cara jamak (mengumpulkan dua shalat dalam satu waktu) dengan sekali adzan dan dua iqamat. Tidak ada shalat apapun yang beliau saw lakukan selain kedua shalat di atas. Khutbah Arafah dan kedua shalat ini beliau saw lakukan di Namirah, yang kini sudah menjadi sebuah masjid besar di Arafah.

Keempat, Wukuf di Arafah menghadap qiblat. Kegiatan wukuf beliau saw lakukan di dalam wilayah wukuf Arafah (bathni al waadi) sambil menunggang unta dan menghadap qiblat. Beliau saw melakukan hal ini mulai sejak usai shalat hingga matahari tenggelam. Semua aktifitas wukuf beliau saw lakukan di tempat terbuka tak beratap.
Kelima, Memperbanyak ibadah. Meski hadis Jabir ra tidak menyebutkannya namun sambil mengisi waktu wukuf yang kira-kira 4 jam lebih sebaiknya kegiatan wukuf diisi dengan memperbanyak ibadah. Ibadah yang bisa dilakukan adalah dzikrullah, istighfar, doa, tilawah al-Qur’an, dan semua ibadah yang bernilai kebaikan di sisi Allah swt.
Keenam, Meninggalkan tempat wukuf saat matahari sudah benar-benar tenggelam. Saat matahari sudah benar-benar tenggelam, maka Rasulullah saw menyudahi ibadahnya di Arafah lalu bertolak menuju Masy’aril Haram (Muzdalifah dan Mina) untuk merampungkan seluruh rukun dan wajib haji yang tersisa.