Ar-Rab

0
16 views

Kata Rabb secara bahasa menurut Ibnu Faris, “Kata Rabb menunjukkan beberapa arti pokok, yaitu memperbaiki dan mengurus sesuatu. Maka ar-Rabb berarti yang menguasai, menciptakan dan memiliki, juga berarti yang memperbaiki atau mengurus sesuatu.(1)

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari memaparkan, “(Kata) ar-Rabb dalam bahasa Arab memliki beberapa (pemakaian) arti, penguasa yang ditaati, orang yang memperbaiki sesuatu dinamakan rabb …, (demikian) juga orang yang memiliki sesuatu dinamakan rabb. Maka Rabb kita (Allah swt) yang maha agung pujian-Nya adalah penguasa yang tidak ada satupun yang menyamai dan menandingi kekuasaan-Nya, dan Dialah yang memperbaiki (mengatur semua) urusan makhluk-Nya dengan berbagai nikmat yang dilimpahkan-Nya kepada mereka, serta Dialah pemilik (alam semesta beserta isinya) yang memiliki (kekuasan mutlak dalam) menciptakan dan memerintahkan (mengatur)”(2)

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Sesungguhnya ar-Rabb adalah (zat) yang maha kuasa, yang mengadakan, pencipta, pembentuk rupa, yang maha hidup lagi berdiri sendiri dan menegakkan urusan makhluk-Nya, maha mengetahui, mendengar, melihat, luas kebaikan-Nya, pemberi nikmat, pemurah, maha memberi dan menghalangi, yang memberi manfaat dan celaka, yang mendahulukan dan mengakhirkan, yang memberi petunjuk dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya (sesuai dengan hikmah-Nya yang agung), yang menganugerahkan kebahagiaan dan menyengsarakan siapa yang dikehendaki-Nya, yang memuliakan dan menghinakan siapa yang dikehendaki-Nya, dan semua makna rububiyah lainnya yang berhak dimiliki-Nya dari (kandungan) nama-nama-Nya yang maha indah”(3)

Dalam ilmu tauhid dikenal dengan tauhid Rububiyah, dimana sebagai mukmin wajib untuk mengimaninya, dengan mengimani Rububiyah Allah swt akan menumbuhkan dalam diri seorang muslim keikhlasan dalam beribadah kepada-Nya dan ketundukan yang seutuhnya di hadapan-Nya. Hal ini disebabkan karena keimanan terhadap Rububiyah Allah swt mengandung konsekwensi penetapan uluhiyah (penghambaan diri dengan ikhlas) bagi Allah swt.

Inilah yang ditunjukkan dalam firman Allah swt,

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai manusia, beribadahlah kepada Rabb-mu (semata-mata), Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa” (QS al-Baqarah [2]:21).

إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Rabb-mu, maka beribadahlah kepada-Ku (semata-mata)” (QS al-Anbiyaa’[21]:92).

Sesungguhnya yang pertama kali tertanam dalam hati (manusia) adalah (mengimani) keesaan Allah swt dalam Rububiyah-Nya, kemudian (kedudukannya) meningkat kepada keimanan terhadap keesaan Allah swt dalam uluhiyah-Nya. Sebagaimana hal inilah yang diserukan oleh Allah swt dalam al-Qur’an, (yaitu) dengan (pengakuan) manusia terhadap tauhid Rububiyah yang (mengandung konsekwensi) mengakui tauhid uluhiyah. Allah swt menegakkan argumentasi kepada mereka dengan pengakuan mereka ini, kemudian Dia menyampaikan bahwa mereka sendiri yang menentang pengakuan mereka itu dengan menyekutukan-Nya dalam uluhiyah. Maka dalam keadaan ini terwujudlah pada diri seorang hamba tingkatan:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” (QS al-Faatihah[1]:5).

Allah swt berfirman,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka:”Siapakah yang menciptakan mereka? niscaya mereka menjawab:”Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS Az-Zukhruf[43]: 87).

Maknanya: bagaimanakah mereka dapat dipalingkan dari mempersaksikan (kalimat) laa ilaaha illallah (tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah) dan dari penghambaan diri kepadanya semata, padahal mereka telah mempersaksikan bahwa tidak ada Rabb (penguasa dan pengatur alam semesta) dan tidak ada pencipta selaun Allah?…” (4)

Demikian pula beriman kepada Rububiyah-Nya dengan benar akan membawa seorang hamba menuju tingkatan ridha kepada Allah swt sebagai Rabb, yang berarti ridha kepada segala perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan dan pilihan-Nya, serta kepada apa yang diberikan dan yang tidak diberikan-Nya. Inilah syarat untuk mencapai tingkatan ridha kepada-Nya sebagai Rabb secara utuh dan sepenuhnya, dan ini merupakan ciri utama orang yang telah merasakan kemanisan dan kesempurnaan iman, sebagaimana sabda Rasulullah saw,

 

عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ رضي الله عنه أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ، مَنْ رَضِيَ بِالله رَبًّا، وَبِالإِسْلامَ دِيناً، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً». رواه مسلم.

Dari ‘Abbas bin Abdil Mutholib ra beliau mendengar Rasulullah saw bersabda:“Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha dengan Allah swt sebagai Rabb-nya dan islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad saw sebagai rasulnya”. (HR Muslim)(5).

Referensi:

  1. Ibnu Faris, Mu’jamu maqaayiisil lughah, (2/313).
  2. Imam Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari, (1/89).
  3. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Bada-i’ul fawa-id, (2/473).
  4. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Madaarijus saalikiin (1/411).
  5. Imam Muslim, Shohih Muslim
BAGI
Artikel SebelumnyaKebebasan
Artikel BerikutnyaJanji