Apakah Ikhwanul Muslimin Sukses Ketika Osama bin Laden Gagal?

0
154 views

Oleh Ayaan Hirsi Ali

LONDON – Ribuan orang merayakan penangkapan dan pembunuhan Osama bin Laden. Tapi pembunuhan bin Laden bukanlah akhir Al-Qaeda. Dan bahkan jika Al-Qaeda sama sekali dihilangkan, dunia masih akan harus berurusan dengan nenek moyang Al-Qaeda.

Bin Laden berarti banyak hal, tapi bukan satu-satunhya. Bin Laden sendiri mengenal doktrin jihad dari teolog Palestina Abdullah Yusuf Azzam.Sebelum Azzam mulai mengajar bin Laden dan yang lainnya di Arab Saudi, dia adalah seorang anggota Ikhwanul Muslimin Palestina.

Tidak seperti al-Qaeda, Ikhwanul Muslimin telah berkembang dan belajar dari pengalaman pahit bahwa penggunaan kekerasan akan berbenturan dengan kekerasan yang lebih unggul dengan negara sebagai aktornya. Hal pintar yang bisa dilakukan, ternyata, adalah bersabar dan berinvestasi dalam gerakan bottom-up daripada struktur komando yang berisiko dihancurkan oleh pasukan yang kuat. Selain itu, pendekatan gradualis jauh lebih mungkin untuk memenangkan kekuasaan negara. Khomeini melakukan hal seperti itu sebelum dia berkuasa di Iran. Dia memberitakan manfaat dari suatu masyarakat yang didasarkan pada hukum Islam. Dia tidak terlibat dalam terorisme. Namu ia dan pengikut-pengikutnya mampu mengambil alih Iransuatu prestasi yang jauh lebih besar dari yang pernah dicapai oleh bin Laden. Di Iran, kekerasan datang kemudian.

Intinya adalah bahwa memerangi kekerasan ekstremis hanya salah satu bagian dari pertempuran, mungkin bagian lebih mudah. Mungkin tantangan yang lebih besar para kaum Islamis adalah kesediaan untuk memainkan permainan yang memakan waktu lebih lama. Dan karena itu, butuh kesabaran.

Di Barat, kematian bin Laden dalam persembunyiaannya di Pakistan sering dikontraskan dengan protes massa yang telah menyapu Timur Tengah dalam beberapa bulan terakhir. Para pembuat kebijakan dan komentator menarik kesimpulan bahwa Musim Semi Arab telah menang atas jihad, menguasai wilayah tersebut dan memberikannya jalan lapang untuk demokrasi. Ini adalah kesimpulan yang terlalu terburu-buru. Mari kita jadikan Mesir sebagai contoh.

Seberapa besar kemungkinan Mesir akan berakhirsetelah masa transisi tak terelakkandiperintah langsung atau tidak langsung dengan Ikhwanul Muslimin?

Jawabannya tergantung pada kombinasi dari tiga faktordua faktor domestik dan satu faktor asing:

1. Kekuatan Ikhwanul Muslimin

1.    Kekuatan Ikhwan dalam militer Mesir, yang masih berkuasa di negeri ini;

2.    Tidak adanya saingan sekuler yang tangguh dalam Mesir;

3. Amerika dan sekutunya meremehkan ambisi dan keterampilan politik Ikhwanul Muslimin.

Untuk saat ini terlihat seperti semua tiga faktor tersebut berjalan dalam arah yang mendukung Ikhwanul Muslimin.

Jangan salah: Ikhwanul Muslimin bekerja untuk mewujudkan visi tersebut yang diringkas dalam moto mereka: Allah adalah tujuan kita, Nabi adalah pemimpin kita, AlQur’an adalah hukum kami, Jihad adalah cara kita, mati di jalan Allah adalah harapan tertinggi kami.

Serangkaian tujuan-tujuan Ikhwanul Muslimin berasal dari moto ini biasanhya tersedia di website mereka, meskipun hal ini (mungkin tidak mengherankan) tidak tersedia pada saat ini. Untungnya, sebagian isi telah diterbitkan di http://mideastweb.org.

Di antara “sub tujuan Ikhwanul Muslimin:

– Membangun individu Muslim dengan fisik yang kuat, tata krama tinggi, berbudaya fikir, kemampuan untuk hidup, iman yang kuat, ibadah yang benar,menghargai waktu, bermanfaat bagi orang lain, terorganisir, dan mempunyai karakter pejuang.

– Membangun keluarga Muslim: memilih istri atau suami yang baik, mendidik anak secara Islami;

– Membangun masyarakat Muslim;

– Membangun Khilafah (suatu bentuk persatuan antara semua negara-negara Islam); -Menguasai dunia dengan Islam

Benar, para pemimpin Ikhwan bersikeras bahwa mereka berkomitmen untuk demokrasi dan supremasi hukum. Tapi mereka tetap memberikan komitmen istimewa pada tujuan-tujuan di atas tadi.

Saya berharap mereka membentuk suatu tatanan politik yang didasarkan pada versi Sunni negara Islam. Berdasarkan pelajaran dari saudara-saudara Islam mereka di tempat lain, mereka akan berusaha untuk membentuk suatu tatanan politik syariah, atau Hukum Islam. Hal ini termasuk sistem peradilan.yang hanya memberlakukan hukum syariah, suatu kebajikan dan perwakilan” polisi untuk menegakkan Syariah dan gaya hidup suatu sistem pendidikan dan informasi yang bertujuan untuk indocrinasi pemuda dan membangun individu Muslim.

Sebuah departemen negara atau khalifah akan berusaha untuk membangun dan memelihara hubungan dengan sekutu sambil mendesak sekutu mereka untuk melakukan tindakan ekonomi, diplomatik dan militer bersama melawan pihak yang dianggap musuh. Organisasi Konferensi Islam (OKI) adalah salah satu contoh dalam hal ini. Dan perhatikan peran utama baru-baru ini bahwa pemerintah sementara Mesir telah mengambil peran penting dalam penyatuan Hamas dan Fatah dan tidak memasukkan AS serta Israel dalam kegiatan ini.

Bagaimana tatanan politik di Mesir seperti ini mempengaruhi urusan dalam negeri dan hubungan luar negeri mereka?

Dalam Negeri:

Dalam rangka membangun individu Muslim, Ikhwanul Muslimin akan mengambil alih lembaga-lembaga pendidikan, mulai dari prasekolah ke universitas, mereka akan mendirikan sebuah kurikulum indoktrinasi yang diarahkan untuk menanamkan penyerahan dan loyalitas terhadap rezim, daripada persyaratan pendidikan yang dibutuhkan oleh ekonomi untuk menjadi produktif dan kompetitif dalam ekonomi global. Lulusan dari suatu sistem pendidikan tidak hanya akan terbatas dalam kapasitas mereka untuk mendirikan bisnis yang sukses, kebanyakan lulusan akan menjadi pengangguran.

Dalam rangka membangun keluarga Muslim, kita akan melihat pengenalan dan penegakan hukum (perkawinan, perceraian dan warisan) yang membatasi tempat perempuan dan hak-hak mereka; kebebasan bergerak mereka akan dibatasi di dalam rumah dan sejumlah pekerjaan seperti mengajar, keperawatan/obat-obatan dan lainnya yang merupakan pekerjaan mono-gender. Kekuasaan laki-laki atas perempuan akan menjadi mutlak. Usia pernikahan akan diturunkan untuk anak perempuan dengan saat menstruasi pertama mereka. Cambuk dan rajam akan menjadi norma bagi dugaan pelanggaran kepekaan seksual Islam, yang berarti kehadiran teror abadi untuk perempuan dan homoseksual.

Dalam rangka membangun Masyarakat Muslim, kebebasan dasar seperti kebebasan hati nurani, berbicara, dan berserikat akan sangat dibatasi bagi para pembangkang, kaum moderat dan kaum minoritas, khususnya minoritas agama. Di Mesir, minoritas agama terbesar adalah komunitas Koptik Kristen. Sudah pasti mereka akan menjadi korban diskriminasi, intimidasi dan serangan teroris. Di bawah pemerintahan Ikhwanul Muslimin, represi akan bertambah buruk. Beberapa akan melakukan konversi atau pura-pura masuk Islam untuk bertahan hidup; lebih banyak yang akan melarikan diri. Dalam kasus terburuk, nasib Koptik bisa menyerupai minoritas Kristen Darfur.

Luar Negeri:

Dalam rangka membangun negara muslim (ummah), hubungan luar negeri akan meningkat dalam jangka pendek antara Hamas, rezim Iran, Hizbullah dan Turki. Dana yang banyak akan dibelanjakan untuk memberdayakan organisasi-organisasi Islam lainnya, membuat aliansi di wilayah tersebut, tujuan utama yang akan dicapai, tentu saja, untuk menghilangkan Israel. Perjanjian perdamaian dengan Israel secara bertahap akan terkikis atau Israel akan terprovokasi ke dalam perang. Pemerintahan Ikhwanul Muslimin juga akan bekerja di dalam Organisasi Konferensi Islam untuk melemahkan para pemimpin dan rezim negara-negara anggota yang tidak melaksanakan visi Islam.

Hal yang menarik untuk disaksikan dengan hati-hati adalah hubungan antar Mesir baru dengan Arab Saudi. Bagi Barapt, Kerajaan Arab Saudi adalah tempat yang memiliki cadangan terbesar minyak dunia. Untuk Islamis yang bermimpi tentang kekhilafahan Islam, Arab Saudi adalah lokasi dua Tempat Suci Islam. Ikhwanul Muslimin dan sekutunya akan bekerja untuk mengambil alih kendali atas Hijaz (Makkah dan Madinah), jika mereka menyadari ini, minyak hanya akan menajadi bonus.

Ikhwanul Muslim melihat monarki Saudi sebagai dekaden, munafik dan pengkhianat Islam. Dalam bulan-bulan mendatang kita akan melihat tarian kekuasaan yang akan melihat tarian kekukasaan yang akan dilakukan oleh House of Saud (Kerajaan Saudi) dan Ikhawnul Muslimin di mana salah satunya akan berusaha untuk mengatasi manuver yang lain.

Singkatnya, prospek pemerintahan Mesir yang didominasi oleh Ikhwanul Muslimin adalah hal yang sama mengkhawatirkannya dengan prospek pemerintah Perancis ketika didominasi oleh Jacobin pada awal 1790-an.

Represi domestik akan menyebabkan pelanggaran hak asasi manusia, krisis ekonomi dan eksodus pengungsi, dimulai dengan mereka yang punya uang dan tingkat pendidikan yang wajar, memperparah kemiskinan Mesir dan stabilitas kawasan dan mungkin bahkan Eropa. Konflik dengan Israel akan menguat dan bahkan bisa menimbulkan perang.

Untuk semua alasan ini, pembuat kebijakan Barat harus sangat waspada terhadap pengaruh jihadis gradualis pada peristiwa sekarang sedang berlangsung di Mesir dan seluruh Timur Tengah. Bin Laden sudah mati. Al-Qaeda akan segera mengikutinya ke kekuburan. Tapi doktrin jihad akan tetap hidup.

Oleh Ayaan Hirsi Ali adalah seorang sarjana kependudukan di American Enterprise Institute, penulis “Infidel” dan “Nomad,” dan pendiri AHA Foundation.

Sumber: http://www.digitalnpq.org/articles/global/529/05-05-2011/ayaan_hirsi_ali (diakses pada 2 Juni 2011)

BAGI
Artikel SebelumnyaMukallaf
Artikel BerikutnyaPerlukah Negara Islam?