Apakah ‘Dunia Islam’ itu Sesungguhnya?

0
89 views

oleh Joobin Bekhrad

(Editor Majalah Reorient dan pengarang Coming Down Again)

Meskipun awalnya adalah nama dari sebuah agama dan jalan hidup, mengingat term “Islam” sedang terombang-ambing saat ini, maka bisa dimaklumi jika ada yang mengira Islam itu adalah nama sebuah negara. Ada kelompok-kelompok tertentu baik di Barat maupun di wilayah-wilayah yang berpenduduk mayoritas Muslim, seperti Timur Tengah yang memahami bahwa masyarakat “dunia Islam” adalah masyarakat yang berbicara bahasa Islam, memakan makanan Islam, membuat film Islam, menulis buku, dan menciptakan seni serta arsitektur Islam. Singkatnya, mereka didefinisikan semata-mata oleh agama (yang hampir pasti tidak semua menganutnya, bahkan di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim).

Masalahnya adalah seringkali budaya dan identitas individual mereka lebih kompleks daripada yang mampu dirangkum oleh kata ‘Islam’. Akan lebih mudah untuk mengakui keragaman—dalam setiap level—sesuatu yang dinamai ‘Dunia Islam’ dan banyak orang di dalamnya daripada menamakan mereka dengan ‘Islam’ di belakang setiap kata yang mungkin ada. Padahal kita tidak menggunakan kata ‘Kristen’ untuk mendefinisikan Eropa dan Amerika Utara. Sedangkan term ‘Islam’ mungkin saja tidak nyaman bagi kelompok tertentu karena tidak terlalu mewakili kepentingan mereka.

Ada kemungkinan term ‘Islam’ lebih sering disalahgunakan dan disalahartikan daripada term-term di bidang seni dan budaya, baik kontemporer maupun klasik. Saat saya mengujungi dan menikmati koleksi museum-museum di Amerika Utara dan Eropa, saya sering menggaruk-garuk kepala ketika saya melihat, misalnya, artefak pra-Islam dari Sassania Iran yang dipamerkan di bagian ‘Islam’, sebagaimana buku sekular yang menampilkan masa pra-Islam di Iran, seperti folio dari epik Kitab Raja-Raja. Bagaimana itu bisa terjadi? Bukankah Sassania belum tentu Islam?

Dalam setting yang lebih kontemporer, saya tidak bisa tidak bertanya kepada diri sendiri ketika melihat seni pop dari Lebanon yang mana dianggap bagian wilayah Islam. Bagaimana mungkin hanya karena Lebanon adalah wilayah berpenduduk mayoritas Muslim lalu seni pop dari sana pun dianggap Islam? Ketika kontributor untuk penerbitan saya bertanya kepada kurator dari Los Angeles County Museum of Art pada tahun 2015 tentang apa yang dimaksud term ‘Seni Islam’, dia serta-merta menjawab, “Itu tidak berkaitan dengan agama apapun, atau pun seni religius. Sama sekali tidak.” Ya, saya semakin bingung.

Untuk menghindari mengutuk Barat sebagai pengecut ala Edward Said, saya harus mengatakan bahwa orang-orang di Timur Tengah dan juga tempat-tempat lain juga  menambah rumit gambaran tentang Islam. Sebagai contoh, sebuah museum mewah di Teluk Persia yang kecil (saya tidak akan menyebut nama) tidak banyak artefak dan seni khas lokal. Jika museum itu hanya membatasi diri pada benda-benda yang berkaitan dengan negaranya sendiri, akan sangat sulit memenuhi koleksi museum tersebut, bahkan sekadar untuk membuktikan eksistensinya. Namun, jika museum itu menggunakan term ‘Islam’, maka dengan mudah museum itu penuh dengan barang berkilau dari Iran, Suriah, India, Spanyol, dan tempat lain. “Lihatlah kemuliaan dunia Islam,” kata mereka kepada pengunjung. Masalah terpecahkan. Namun bukankah itu membingungkan?

Terlepas dari penyebab, cara bagaimana term ‘Islam’ disalahgunakan dan melahirkan hal yang problematik, karena bukan hanya tidak mengabaikan gagasan monolitik Islam, bahkan juga mengabaikan keragaman masyarakat di Timur Tengah dan tempat lain yang memiliki budaya, warisan, bahasa, agama (banyak praktik berbeda dalam agama di masing-masing negara), cara mengeksresikan hidup; singkatnya, term ‘Islam’ yang mengatasnamakan semuanya adalah seperti perampokan terhadap identitas khas mereka, lalu mengemas identitas-identitas itu dalam satu kata: ‘Islam’ atau ‘Muslim’. Dalam kasus-kasus tertentu, seperti kaligrafi al-Quran, yang memang diakui tepat disebut ‘Islam’, tetapi kemudian ada aliran Persia, Turki, dan Arab dalam kaligrafi, yang sesungguhnya juga perlu pengakuan dan tidak perlu dirangkum dalam kata ‘Kaligrafi Islam’.

Bahkan masjid, sebuah gambaran yang mungkin pertama kali menyihir ketika kata ‘Islam’ diucapkan di Barat, menggambarkan dengan jelas persoalan ini. Banyak masjid di Iran dibangun diatas kuil api Zoroaster, misalnya, tetap mengandung elemen-elemen yang sangat khas Iran dan khas Zoroaster. Dapatkah masjid Iran—dengan segala aksesoris khasnya—dianggap sama dengan masjid di Timbuktu hanya karena adanya kesamaan agama, padahal begitu banyak perbedaan di atara keduanya? Dapatkah kedua masjid itu dirangkum secara sederhana dalam kata ‘arsitektur Islam’?

Jika di Barat kita tidak mengacu pada Andy Warhol sebagai “contoh sukses seni Kristen,” atau tidak berbicara tentang lukisan Mark Rothko sebagai “perwakilan seni modern Yahudi”, jika kita tidak mendefinisikan mereka dengan tradisi keagamaan di mana mereka terlahir—lalu mengapa kita melakukannya kepada seniman Iran, Arab, dan Turki misalnya? Mengapa semua seni, arsitektur, musik, dan masakan, kita namai di bawah label ‘Islam’ jika itu datang dari wilayah seperti Timur Tengah? Padahal bukankah tidak harus dan belum tentu demikian?

Singkatnya, term ‘Islam’, terutama dalam konteks seni dan budaya, telah banyak disalahgunakan, dieksploitasi, disalahterapkan oleh banyak pihak. Meski mungkin dalam beberapa hal itu bisa tepat, tapi kadang kesalahan yang terjadi begitu menggelikan dan konyol. Misalnya, ‘masakan Islam’. Sampai segitunya, masakan pun ada yang Islam dan ada yang bukan?  Dengan term yang diterima secara membabi-buta dan dipakai oleh banyak pihak, sudah saatnya kita mempertanyakan penggunaan dan penerapan istilah ‘Islam’ yang telah salah dipergunakan baik oleh Barat maupun oleh dunia ‘Islam’ sendiri. Memang sudah saatnya berhenti mendefinisikan sepenggal besar bumi yang dihuni oleh begitu beragam budaya dengan satu kata, dan mari mulai mengakui kontribusi berbagai masyarakat dengan budayanya masing-masing tanpa merangkumnya dalam kata term yang membingungkan.[]

Artikel ini bertanggal: 7 Februari 2017

Sumber: http://www.forbes.com/sites/realspin/2017/02/07/what-exactly-is-the-islamic-world/#398c77ba5c63 (diakses pada 21 Februari 2017)