Anugerah dan Amanah

0
46 views

Ada banyak sunnah Rasulullah saw yang harus kita laksanakan dalam kehidupan kita sebagai seorang muslim. Salah satunya adalah yang terkait dengan telah dilahirkannya seorang anak, yakni aqiqah. Secara harfiyah, aqidah artinya sembelihan untuk anak yang baru dilahirkan. Pada saat anak dilahirkan, orang tuanya menyembelihkan kambing pada hari ketujuh dari kelahirannya, satu ekor kambing bila yang dilahirkan anak perempuan dan dua ekor bila yang dilahirkan anak laki-laki.

 Ini merupakan salah satu ibadah yang hukumnya sunnah muaqqad, sesuatu yang sangat ditekankan untuk kita laksanakan.

Anak merupakan anugerah atau pemberian dari Allah swt. Lahir dan terciptanya seorang anak bukanlah karya bapak dan ibunya, karena bapak dan ibunya hanyalah sebab, karenanya sebagai penyebab tidak bisa memastikan bagaimana seharusnya anak sebagaimana yang didambakannya. Ada kalanya seorang bapak ingin punya anak laki-laki, tapi yang lahir malah perempuan atau sebaliknya. Karena anugerah, maka setiap kelahiran seorang anak haruslah kita syukuri sehingga aqiqah sebagai tanda syukur kita kepada Allah swt dan kita turut berbahagia karena satu lagi warga dunia sudah dilahirkan. Itu sebabnya, sudah selayaknya kita bergembira dan mengucapkan selamat atas kelahiran anak dari saudara, sahabat dan tetangga kita. Dengan demikian, anak keberapapun yang dilahirkan dari sahabat atau saudara dan tetangga kita, janganlah kita merasa keberatan apalagi sampai menumbuhkan rasa pesimis atau berkecil hati kepadanya akan kemungkinan ia bisa membesarkan dan mendidik sang anak dengan baik, apalagi sampai menganjurkan pembatasan jumlah anak.  Karena itu, ketika ada orang dianugerahi anak maka kta harus menumbuhkan rasa optimis dan mendo’akan agar ia bisa membesarkan dan mendidik anaknya dengan baik sehingga keberadaan sang anak tidak hanya memberi manfaat bagi diri dan keluarganya, tapi juga bagi kita semua dan masyarakat dunia sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya.

Disamping anugerah, anak juga amanah atau titipan dari Allah swt yang harus dipelihara dengan sebaik-baiknya sehingga pada saatnya ia kembali dalam kematiannya, ia mati dalam keadaan suci sebagaimana saat dilahirkan, disinilah letak tanggungjawab orang tua untuk selalu menjaga kesucian pribadi sang anak, Rasulullah saw bersabda: Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Maka kedua orang tuanyalah yang bertanggung jawab apakah anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau menjadi majusi.

          Untuk membuktikan diri sebagai orang tua yang bersyukur atas anugerah anak dan pandai menjaga amanah dari Allah swt, paling kurang ada empat  hal yang harus diperhatikan dan dilaksanakan oleh orang tua terhadap anak- anaknya.

1. Mendidik

Mendidik anak dengan memberikan bimbingan akhlak yang mulia menjadi keharusan utama orang tua kepada anaknya. Dengan begitu anak menjadi tahu mana yang baik dan mana yang tidak untuk selanjutnya yang baik dilaksanakan dalam kehidupan dan yang buruk ditinggalkannya. Dalam proses pendidikan kepada anak, orang tua tidak cukup hanya memberikan arahan-arahan apalagi sekedar instruksi, tapi orang tua harus mengikuti secara langsung perkembangan kepribadian sang anak sehingga dalam kaitan ini orang tua juga harus bergaul seakrab mungkin dengan anak-anak, Rasulullah saw bersabda:

 اِلْزَمُوْا أَوْلاَدَكُمْ وَأَحْسِنُوْا أَدَبَهُمْ.

Bergaullah dengan anak-anakmu dan bimbinglah kepada akhlak yang mulia (HR. Muslim).

          Mendidik anak agar mereka menjadi generasi yang shaleh dengan akhlaknya yang mulia merupakan bagian terpenting dari tanggung jawab orang tua dalam mencegah anggota keluarganya dari api neraka, Allah swt berfirman: Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu (QS At Tahrim [66]:6).

2. Menafkahi

Memberi nafkah yang halal dan baik  merupakan kewajiban atau tanggungjawab yang sangat penting. Karena itu, seandainya terjadi perceraian antara suami dengan isteri atau bapak dengan ibu dan sang anak ikut ibu, maka tanggungjawab tetap terletak kepada bapak dalam menafkahi anaknya. Karena itu, bila seorang bapak tidak menafkahi anaknya dengan nafkah yang baik, maka ia disebut sebagai orang tua yang tidak bertanggungjawab kepada anaknya, Rasulullah saw bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوْتُ

Cukuplah seseorang itu dianggap berdosa jika dia menyia-nyiakan orang yang menjadi  tanggungannya (HR. Abu Daud, Nasa’I dan Hakim).

          Karena seorang bapak harus menafkahi anaknya disamping isterinya, maka menjadi keharusan baginya untuk mencari nafkah secara halal dan sungguh-sungguh sehingga Allah swt menjadi senang kepadanya dan iapun disejajarkan dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah swt. Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ الْمُحْتَرِفَ، وَمَنْ كَدَّ عَلَى عِيَالِهِ كَانَ كَاالْمُجَاهِدِ فِى سَبِيْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan trampil. Barangsiapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza Wa Jalla (HR. Ahmad).

3. Berlaku Adil

Berlaku adil kepada siapapun membuat kita akan menjadi semakin dekat kepada ketaqwaan. Karenanya, berlaku adil kepada anggota keluarga seperti isteri dan anak amat ditekankan. Berlaku adil terhadap anak adalah dengan memberi perlakuan yang sama kepada mereka, misalnya orang tua mempunyai dua anak, yang satu cantik yang satu lagi jelek. Pada saat bepergian, anak yang cantiklah yang selalu diajak sedang anak yang jelek selalu menunggu rumah, sikap ini merupakan sikap yang tidak adil kepada anak. Begitu juga dengan anak laki-laki yang disekolahkan hingga perguruan tinggi, sedang anak perempuan cukup hanya sampai tingkat SLTA atau SLTP. Perlakuan orang tua yang tidak adil kepada anak-anaknya akan membuat kekecewaan sang anak kepada orang tuanya disamping hal itu juga akan membuat sang anak bila kelak mempunyai anak, ia tidak mendapatkan pengalaman yang baik untuk diteruskan kepada anak-anaknya. Penekanan terhadap orang tua untuk berlaku adil kepada anak-anaknya disebutkan oleh Rasulullah saw:

سَوُّوْا بَيْنَ اَوْلاَدِكُمْ فِى الْعَطِيَّةِ فَلَوْ كُنْتُ مَفَضِّلاً اَحَدًا لَفَضَّلْتُ النِّسَاءَ.

Persamakan diantara anak-anakmu dalam pemberian, dan seandainya aku boleh memberikan kelebihan kepada salah satu diantara mereka, pasti akan aku berikan kepada anak perempuan (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

4. Kasih Sayang

Setiap makhluk seperti air, pohon, binatang dan sebagainya membutuhkan kasih sayang dari orang yang ada di sekitarnya, apalagi anak terhadap orang tuanya. Maka orang tua harus memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya dengan memperlakukan mereka sebaik mungkin, hal ini karena jangankan anak, manusia kadang-kadang memiliki binatang peliharaan yang diurus dan disayang serta diperhatikan. Kalau binatang peliharaan saja sedemikian disayang, kenapa anak sendiri tidak. Karena itu, Rasulullah saw menunjukkan kepada sahabat dan kita semua bahwa beliau begitu sayang kepada anak keturunannya, dalam satu hadits terdapat riwayat berikut: Abu Hurairah ra berkata: Adalah Rasulullah saw mencium Hasan dan Husein, ketika itu ada Aqra bin Habis Tamimi yang berkata: “aku punya sepuluh anak, tak seorangpun diantara mereka yang aku cium.” Rasulullah saw menoleh kepadanya sambil bersabda: “Siapa yang tidak mengasihani, tidak akan dikasihani” (HR. Bukhari dan Muslim).

          Meskipun demikian kasih sayang kepada anak bukan berarti anak terlalu dimanja hingga sang anak tidak bisa mandiri apalagi bila orang tua sampai tidak bisa menunjukkan sikap tegasnya terhadap kesalahan yang dilakukan sang anak, karena itu di dalam hadits lain, Rasulullah saw bersabda:

 مُرُوْا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ اَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ اَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ 

Perintahkanlah anak-anakmu shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah apabila anak itu berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidurnya (HR. Abu Daud)

          Manakala orang tua telah berperan secara baik dan menjalankan kewajiban terhadap anak-anaknya, insya Allah sang anak akan menjadi anak yang shaleh dan menjadi penopang yang sangat penting bagi terwujudnya keluarga yang bahagia, tidak hanya di dunia tapi juga dalam kehidupan di akhirat nanti.

          Mudah-mudahan, pesan-pesan yang singkat ini bermanfaat bagi kita semua, amien.

 

Drs. H. Ahmad Yani

Email: ayani_ku@yahoo.co.id.

Pin: 275d0bb3