Antropomorfisme dalam Perdebatan Mu’tazilah dan Asy’ariah

0
38 views

Perdebatan antropomorfisme antara Mu’tazilah dan Asy’ariah bermuara pada tiga tema utama. Pertama, pada persoalan sifat Tuhan, yakni apakah Tuhan memiliki sifat atau tidak; dan bagaimana sifat tersebut terhadap eksistensi Tuhan. Kedua, tentang penafsiran atas ayat-ayat yang mengisyaratkan makna kebertubuhan Tuhan. Dan Ketiga tentang melihat Tuhan.

Perdebatan Tentang Sifat Tuhan

Dalam pandangan Mu’tazilah, Tuhan adalah zat yang tidak mungkin menempel pada-Nya apalagi ada di dalam zat (esensi)-Nya sesuatu yang lain, termasuk sifat-sifat. Dengan mengatakan bahwa ada sifat pada esensi dan eksistensi Tuhan, sama dengan menambahkan esensi lain pada esensi Tuhan dan itu berarti akan “menodai” keesaan-Nya. Bagi Mu’tazilah, sifat-sifat Tuhan bukanlah eksistensi hypostatik yang berdiri sendiri dan berbeda dengan esensi Tuhan, melainkan sifat-sifat itu adalah esensi Tuhan itu sendiri.[1] Sifat juga bukan aksiden (sesuatu)  yang terdapat di luar esensi Tuhan, sebab jika sifat adalah aksiden di luar esensi Tuhan akan bermuara pada pemahaman bahwa Tuhan adalah jauhar (substansi) yang di dalamnya terdapat aksiden-aksiden.[2] Dan jika begitu, Tuhan tidak lagi esa, dan itu adalah sesuatu yang sangat bertentangan dengan prinsip monoteisme dan ketauhidan dalam Islam. Karena itu, dalam pandangan Mu’tazilah, sifat-sifat itu adalah Tuhan itu sendiri. Sifat dan Tuhan tidak bisa dipahami sebagai dua substansi yang berbeda.

Berbeda dengan Mu’tazilah, kaum Asy’ariyah mengatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat, dan hal tersebut adalah sesuatu yang tidak dapat diingkari. Adanya sifat-sifat Tuhan itu ditunjukkan oleh perbuatan-perbuatan-Nya, seperti Tuhan Mengetahui menunjukkan bahwa Ia memiliki sifat Mengetahui (ilmu), Tuhan menciptakan menunjukkan bahwa Ia memiliki sifat qudrah (kemampuan), dan seterusnya. Sifat-sifat tersebut adalah azaliyah (ada begitu saja) di dalam esensi Tuhan, tetapi sifat itu bukanlah esensi Tuhan. Dengan kata lain, sifat-sifat itu tidaklah sama dengan esensi Tuhan, tetapi berwujud dalam esensi Tuhan itu sendiri.[3]

Kaum Asy’ariyah ingin mengatakan bahwa sifat, meskipun ada dalam esensi Tuhan, tetapi tidak menyebabkan adanya “yang banyak” dalam esensi-Nya, sebab sifat adalah berbeda dengan esensi Tuhan itu. Dikatakan “banyak” jika sifat itu menjadi bagian dari esensi Tuhan. Bagi Asy’ariyah, sifat adalah sesuatu yang “dimiliki” oleh Tuhan, dan itu tidak memberikan pengaruh, baik menambah atau pun mengurangi, pada esensi-Nya.

Penafsiran Ayat-ayat Antropomorfis

Selain berbeda dalam masalah sifat-sifat Tuhan, hal lain yang juga memicu perdebatan adalah, penafsiran atas ayat-ayat al-Qur’an yang bernuansa antropomorfis, yang mengisyaratkan makna bahwa Allah memiliki bentuk “kebertubuhan” seperti pada makhluk, khususnya manusia. Dalam al-Qur’an, Allah beberapa kali menunjuk pada diri-Nya dengan kalimat-kalimat yang menunjukkan adanya kebertubuhan pada esensi-Nya. Ayat-ayat antropomorfis tersebut seperti adanya kata “al-istiwa’” (bersemayam), al-‘ain (telinga), al-wajhu (wajah), dan al-yad (tangan). Ayat-ayat yang memuat kata tersebut dan disandingkan dengan Allah, mengisyaratkan bahwa Allah adalah esensi yang menempati ruang dan waktu (al-istiwa’) dan memiliki tubuh (al-‘ain, al-wajh, al-yad).

Dalam pandangan Mu’tazilah, adalah mustahil jika Allah menempati ruang dan waktu dan memiliki (bagian-bagian) tubuh, sebab hal tersebut menunjukkan bahwa Tuhan tidak lagi bersifat kekal. Sebab, sifat materi yang membentuk kebertubuhan itu, pastilah mengalami perubahan sebagaimana hukum materi. Selain itu, dengan mengatakan bahwa Allah menempati ruang dan berada di dalam waktu, akan membatasi Tuhan dengan segala sifat kemahaan-Nya, dan menjadikan Tuhan sebagai zat yang terbatas.

Karena itu, menurut kalangan Mu’tazilah, ayat-ayat semacam itu harus diberi interpretasi yang lain. Kata al-istiwa (bersemayam/bertahta) diinterpretasikan dengan “kekuasaan”, al-‘ain (mata) diinterpretasikan dengan “ilmu atau pengawasan”, dan al-wajh (wajah) diartikan dengan “zat/esensi”, dan al-yad (tangan) diartikan dengan “nikmat atau kekuasaan”.[4]

Asy’ariyah menyikapi ayat-ayat antropomorfis ini sebagaimana adanya seperti yang terdapat dalam teks al-Qur’an. Meskipun mereka tidak menerima bahwa Tuhan mempunyai sifat kebertubuhan yang sama dengan sifat kebertubuhan pada manusia, tetapi tetap mengatakan bahwa Tuhan, sebagaimana dalam al-Qur’an, mempunyai mata, wajah, telinga, dan sebagainya, tetapi tidak sama dengan yang ada pada manusia. Asy’ariyah mengatakan bahwa Allah memiliki sifat-sifat kebertubuhan tersebut dalam bentuknya sendiri yang “tidak diketahui bagaimana” (bila kaifa).[5]

Tentang Melihat Tuhan

Penolakan Mu’tazilah terhadap kebertubuhan Tuhan sekaligus menegaskan bahwa Tuhan adalah immateri. Karena itu, Tuhan tidak dapat dilihat, baik di dunia maupun di akhirat. Pandangan ini diperkuat dengan dalil al-Qur’an bahwa:

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia mencakup seluruh penglihatan, dan ialah yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. (Q.S. al-An’am[6]: 103)

Dari ayat di atas, kalangan Mu’tazilah berargumentasi bahwa sesuatu yang bisa dilihat adalah yang bisa dicapai oleh penglihatan, sementara dalam ayat ini secara tegas Allah menafikan kemampuan indera penglihatan pada Diri-Nya (la tudrakuhu al-abshar). Kelompok Mu’tazilah selanjutnya menolak penafsiran kata nazhirah yang terdapat dalam  QS. Al-Qiyamah (75): 22-3 dengan arti  ru’yah (melihat), melainkan mengartikannya dengan al-intizhar (menanti), yaitu menanti datangnya pahala dari Tuhan.

Sebaliknya, seiring dengan pandangan Asy’ariyah bahwa Tuhan memiliki sifat kebertubuhan, maka itu berarti Tuhan adalah zat yang dapat dilihat oleh manusia, tetapi Tuhan baru bisa dilihat pada kehidupan akhirat nanti. Hal ini diperkuat oleh dalil al-Qur’an:

“Pada hari kiamat itu, (ada) wajah-wajah (yang) berseri-seri. (Yaitu wajah-wajah yang) melihat kepada Tuhannya”. (Q.S. al-Qiyamah/75: 22-23)

Tentang ayat Q.S. al-An’am[6]: 103 yang menisyaratkan bahwa Tuhan tidak terjangkau oleh penglihatan, bukan berarti “Tuhan tidak dapat dilihat” tetapi menunjukkan bahwa manusia memiliki keterbatasan pada penglihatannya untuk dapat melihat Tuhan. Karena itu, Tuhan baru bisa dilihat di akhirat nanti ketika batasan-batasan keduniawian manusia itu telah hilang. Wallahu a’lam.

 


[1] W. Montgomery Watt, Islamic Philosophy and Theology., h. 49

[2] Ibid., h. 88

[3] Asy-Syahrastani, Al-Milal wa an-Nihal, juz 1, Beirut, Dar ash-Shu’ub, 1986, h. 82

[4] Abdul Jabbar, Syarh al-Ushul al-Khamsah, Beirut: Maktabah Wahbah, 1988, h. 226-8

[5] Lih. Al-Asy’ary, Al-Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah, Kairo, Dar al-Anshar, t.th., h. 124-5

BAGI
Artikel SebelumnyaPengorbanan Ibrahim
Artikel BerikutnyaAmal Yang Dicintai