Antara al-Qur’an dan Tafsir

0
54 views

manuskripTulisan ini sengaja diposting pertama kali untuk memetakan apa sebenarnya yang ada di kepala kita ketika mengatakan al-Qur’an dan Tafsir. Bukan apa-apa sis/bro, tidak sedikit yang salah interpretasi di antara kedua kata tersebut (I hope we are not part of them). Kadang kita menganggap al-Qur’an itu tafsir dan tafsir itu juga adalah al-Qur’an. Ibarat kata, kita pukul rata pemahaman antara kedua kata tersebut. Padahal, keduanya sungguh-sungguh memiliki perbedaan.

Kita semua meyakini dengan pasti bahwa al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah kepada Muhammad saw dalam bahasa Arab, yang sejak diturunkannya hingga detik anda membaca tulisan ini, tidak mengalami sedikit pun perubahan, susunan, kalimat, kata, bahkan satu huruf pun dari ayat-ayat al-Qur’an itu. Kita bisa mengatakan, dengan haqqul yaqin, bahwa apa yang kita baca di atas lembaran-lembaran al-Qur’an yang kita miliki – mudah-mudahan kita sering membacanya 😛 – sama persis dengan apa yang dibaca oleh Rasulullah saw, para sahabat, dan seluruh umat Islam di mana pun berada. Artinya juga, kalau tidak berbahasa Arab pasti itu bukan al-Qur’an karena al-Qur’an diturunkan berbahasa Arab. Memang benar, kita kadang mendengar orang membaca al-Qur’an dengan suatu bacaan yang berbeda dengan bacaan yang sering kita lafalkan. Itu tidak berarti bahwa al-Qur’an dia berbeda dengan al-Qur’an kita. Masalahnya, dalam cara membaca al-Qur’an ada tujuh bacaan yang masyhur (para ahli bacaan al-Qur’an menyebutnya Qira’ah Sab’ah). Jadi, bukan al-Qur’annya yang beda, tapi cara membacanya.

Nah, ini yang unik (tapi maaf-maaf dulu nih, ini bukan rasis, sekedar fakta), sebagian orang Jawa kalau baca al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin dia mengucapkannya dengan bacaan al-kamdu lillahi rabbil ngalamin, orang Betawi dan masyarakat pulau Jawa secara umum, kalau membaca idza zulzilatil ardhu zilzalaha dibaca ija juljilatil ardhu jiljalaha (huruf z diganti huruf j, makanya orang betawi jarang yang namanya Zainuddin, banyakan Jaenudin – pangilan kerennya Jay :P). Di Sulawesi, orang membacanya dengan isa sulsilatil ardu silsalaha (huruf z diganti huruf s). Begitu juga di berbagai daerah yang lain, terjadi perubahan pengucapan karena faktor dialek yang menyebabkan terjadinya perbedaan bunyi ketika membaca al-Qur’an. Ini, tentu saja tidak berarti merubah al-Qur’an.

Dan untuk urusan keaslian al-Qur’an ini, tidak satu pun umat Islam yang berbeda pendapat, dari dulu ampe sekarang, bahkan sampai kiamat nanti. Itu jaminan dari Allah, pemilik dan Zat yang menurunkan wahyu tersebut (QS. Al-Hijr/15: 9).

Inilah bedanya dengan “Tafsir”. Tafsir adalah bahasa pemahaman kita ketika membaca (secara cerdas dan kritis) terhadap ayat-ayat al-Qur’an. Karena dia adalah bahasa pemahaman, maka setiap penafsir mempunyai kecakapan, wawasan, kedalaman pengetahuan, dan latar historis yang berbeda dan bertingkat-tingkat. Sudah bisa dipastikan (juga dengan haqqul yaqin) bahwa hasil pembacaan itu akhirnya berbeda-beda juga.

Bukan cuma itu, al-Qur’an sendiri telah membuka pintu selebar-lebarnya terjadinya pemahaman yang berbeda. Al-Qur’an menyebutkan bahwa ada ayat-ayatnya yang muhkam (pasti, qath’i, jelas… pokoknya yang semakna dengan itulah) tetapi ada juga yang mutasyabihat (tidak pasti, tidak jelas, samar-samar, dsb) sehingga sangat memungkinkan kita berbeda pendapat tentang ayat-ayat itu.

Mengutip Muhammad Arkoun, seorang pemikir al-Jazair kontemporer (supaya tulisan ini terkesan sedikit ilmiah), ia menulis bahwa al-Qur’an memberikan kemungkinan-kemungkinan arti yang tak tertabas. Dengan demikian, ayat selalu terbuka untuk interpretasi baru, tidak pernah pasti, dan tertutup dalam interpretasi tunggal.

Abdullah Darraz juga menulis bahwa al-Qur’an itu, “Bagaikan intan yang setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut yang lain, dan tidak mustahil jika anda mempersilakan orang lain memandangnya, maka ia akan melihat lebih banyak dari apa yang anda lihat”.

Poin terpenting dari paparan di atas adalah: Pertama, dari awal kita sudah mesti memetakan dalam pikiran dan pemahaman kita ketika berbicara tentang dalil agama, mana yang al-Qur’an dan mana yang tafsir. Kedua, al-Qur’an sebagai wahyu Tuhan memiliki kebenaran transendental sehingga nilai kebenarnnya bersifat mutlak dan tunggal; sementara kebenaran tafsir adalah immanental, sehingga kebenarannya bersifat dialogis dan tidak satu. Ketiga, manakala kita sudah menyadari bahwa tafsir adalah wilayah yang lahir dari sebuah pemahaman atas teks al-Qur’an, maka kita tidak bisa mengatakan bahwa apa yang kita pahami itu adalah “pasti” benar, apalagi menganggapnya sebagai “satu-satunya” yang benar. Atau dengan kata lain, bisa aja kita salah dalam memahami. Konsekuensi logisnya: 1) Kita harus terbuka menerima kritik dan koreksi; 2) Kita mesti “membaca” al-Qur’an itu berulang-ulang, sebab bisa jadi bacaan kita yang sebelumnya itu kurang sempurna, sedikit salah, atau keliru – yah, namanya juga pemahaman bro, bisa saja salah kan!; 3) Buka mata, buka hati, buka wawasan untuk menerima pendapat orang lain yang mungkin lebih benar dari kita, atau setidak-tidaknya bisa menyempurnakan pemahaman yang sudah kita miliki. Dengan begitu, kita sudah ikut ambil bagian dalam upaya pemeliharaan al-Qur’an sehingga pesan-pesannya selalu bisa diterima secara luas; sebab al-Qur’an adalah rahmatan lil ‘alamin dan shalih li kulli zaman wa makan. Bukan begitu?

Ok, saya pikir ini dulu. Sekedar sebuah pemetaan awal antara al-Qur’an dan tafsir, sebelum kita memasuki ranah penafsiran selanjutnya. Thank you.