Anomali Blasteran

0
11 views

by Abd. Muid N.

Salah satu makna blasteran adalah seseorang dengan orang tua yang berbeda ras. Sampai di sini, anak saya adalah blasteran karena ibunya adalah orang dengan ras Malayan Mongoloid sedangkan saya adalah orang Sulawesi Selatan yang dianggap ras Veddoid (jenis ras khusus yang tidak dapat diklasifikasikan kepada empat ras pokok, termasuk Mongoloid). Namun siapa yang akan menyebut anak saya seorang blasteran? Hidungnya tidak cukup panjang untuk disebut mancung. Kulitnya pun tidak cerah-cerah amat. Itu karena blasteran kini sama dengan kebule-bulean dan bicara kecadel-cadelan, dilengkapi dengan kulit putih dan tubuh tinggi semampai.

Walau itu bagian dari arti blasteran tapi itu sudah mengalami sebentuk distorsi makna yang sangat luar biasa. Betapa tidak, bukankah putih, tinggi, bule, cadel dan mancung sama sekali bukan pertanda utama blasteran?

Blasteran mengindikasikan semacam ketercampuran dan karena itu, ketidakaslian dan karena itu pula, blasteran adalah sebuah kekurangan dalam hal-hal tertentu. Masyarakat yang mengagungkan “keaslian” akan gerah dan alergi terhadap blasteran apalagi terhadap sesuatu yang memang “dari “luar”, atau sesuatu yang “buka dari mereka”. Kita jadi sering mendengar ungkapan seperti ini: “Jangan dia yang jadi pemimpin kita karena dia bukan orang asli sini. Ibunya memang orang sini tapi ayahnya orang luar.” Sering terjadi, pertimbangan seperti itu mengaburkan pertimbangan-pertimbangan yang lebih rasional dan objektif.

Namun di tempat dan waktu yang berbeda, blasteran adalah sejenis kemewahan tersendiri dan itu berarti kistimewaan, terutama di dunia selebritas. Di dunia seperti ini, kebule-bulean atau bule beneran berarti daya tarik dan nilai jual yang tinggi. Mungkin ini terjadi pada masyarakat yang secara mentalitas inferior di hadapan segala hal yang berbau Barat, bule, dan putih. Yang pasti, ketidakaslian, tidak selalu bermakna kekurangan.

Dalam wacana budaya, blasteran seperti sebuah keniscayaan sehingga sulit menemukan mana keaslian itu dalam sosok yang sebenarnya dalam budaya. Malah yang hadir adalah bahwa ketidakblasteran adalah kenyataan yang bukan sesungguhnya. Manusia dengan dirinya sendiri adalah sebentuk akumulasi dari sesuatu yang lain yang menempel pada dirinya. Dari ujung rambut ke ujung kaki, manusia tampak sebagai kumpulan budaya. Model rambut saja bisa merupakan blasteran dari berbagai macam budaya; belum lagi kumis, jenggot, dan cambang. Dalam berpakaian juga demikian, dari tutup kepala, kacamata, baju, celana, sampai alas kaki.

Bagaimana dalam hal beragama? Di sini lalu muncul persoalan karena agama mengandaikan finalitas sedangkan budaya mengandaikan proses keberlangsungan terus-menerus dan tentunya perubahan. Agama menekankan kebenaran yang absolut, budaya menekankan kebenaran yang nisbi. Jika mengutip Koentjaraningrat, maka ada beberapa komponen dalam agama: 1) emosi keagamaan; 2) sistem keyakinan; 3) sistem ritus dan upacara; 4) peralatan ritus dan upacara; dan 5) umat agama.

Dari kelima komponen di atas tampak bahwa tidak ada yang steril dari kemungkinan dirasuki oleh perubahan. Atau dengan kata lain, tidak ada yang absolut. Yang paling mungkin absolut—paling tidak bagi para pemeluknya—adalah sistem ritual. Shalat, umpamanya, bagi masyarakat Muslim adalah sesuatu yang absolut dan tidak akan pernah berubah. Hanya saja, sistem ritua hanya bagian kecil dari agama dan itupun sering terjadi adanya kisruh dalam urusan yang satu ini. Padahal kekisruhan itu biasanya tanda kenisbian.

Setiap agama memiliki klaim keaslian dan otentisitas serta keabadian dan tentunya tidak mengakui ketercampuran atau blasteran, dan juga bajakan. Karena itu bisa dimaklumi betapa marahnya umat Islam ketika ada pemikir yang mengatakan bahwa Islam (dalam hal ini kitab suci Al-Qur’an) adalah poto kopi agama-agama sebelumnya, Yahudi dan Nasrani karena itu menodai kesucian dan keaslian. Emang siapa yang tidak marah jika apa yang selama ini dia yakini sepenuh hati dianggap jiplakan (baca: blasteran) dari keyakinan lain?

Bacaan

Budiono Kusumohamidjojo, Filsafat Kebudayaan: Proses Realisasi Manusia, (Yogyakarta: Jalasutra, 2009)

Ernst Cassirer, A Essay on Man: An Introduction to a Philosophy of Human Culture, (New York: Doubleday, 1944)

Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antropologi I, (Jakarta: UI-Press, 1987)