Angka-Angka Bermakna

0
12 views

Kini kita sedang berada di era dunia ‘bunga rampai’. Hidup yang tertata rapih  dan sekaligus menawarkan kelengkapan. Tertata berurutan runut seperti penataan kamus atau ensiklopedi. Contoh yang paling gamblang untuk kenyataan itu mungkin adalah mall, super market, atau hyper market. Untuk mencari mi instant merek tertentu, Anda tidak perlu mengobok-obok seluruh isi pasar, tapi cukup menuju ke direktori makanan instant dan lebih khusus lagi ke bagian mi instant. Di situ, Anda tidak hanya akan menemukan mi instant incaran Anda, tapi akan berjumpa dengan mi instant-mi instant lain yang mungkin baru pertama kali Anda lihat dan mungkin dengan melihatnya akan memancing hasrat Anda untuk membelinya.

Spirit yang mirip seperti itu yang terkadung pada buku-buku yang berjenis bunga rampai. Dan itu yang membuatnya menarik. Untuk mendapatkan banyak informasi tentang revolusi Islam, kita tidak perlu membaca atau memiliki semua buku yang membahas tentang revolusi Islam karena itu tentu akan sangat banyak. Kita hanya cukup membaca satu buku kumpulan tulisan tentang tema revolusi Islam dan kita akan menemukan begitu banyak informasi tentang revolusi Islam seperti bentuk, organisasi, cara kerja, dan periodisasi revolusi Islam.

Karenanya, khusus buku kumpulan khutbah, buku dengan model seperti ini memang bukan lagi barang langka. Aspek kemudahan yang ditawarkannya bagi para dai yang mencari atau untuk sekadar menambah wawasan ceramahnya membuat buku semisal ini tidak pernah lekang oleh waktu selalu diburu oleh mereka yang memang berkecimpung dalam dunia dakwah atau mereka yang hanya ingin sekadar ingin tahu banyak tentang Islam secara lebih mudah.

Ber-Angka

Ada buku yang berjudul Kumpulan Khutbah Jumat Imam Masjidi Haram, terbitan Nun Publisher. Pastinya, buku ini lebih menekankan pada bahwa khutbah yang terkumpul di dalam buku itu adalah milik Imam Masjidil Haram, apapun temanya. Berbeda dengan buku KH. Hasyim Muzadi yang berjudul Radikalisme Hancurkan Islam (Kumpulan Khutbah Jumat), terbitan Center for Moderate Muslim, karena buku ini lebih menekankan isinya pada tema-tema tertentu, bukan pada siapa penulisnya.

Akan halnya buku 53 Materi Khotbah Ber-Angka, tidak berada pada salah satu format yang disebutkan sebelumnya. Bukan pada siapa penulisnya dan juga bukan pada apa temanya, namun pada bagaimana judulnya dibuat. Setiap judul khutbah di dalam buku ini dimulai dengan kata: dua, tiga, empat, lima, dan enam. Hanya sampai enam, tidak ada angka tujuh dalam buku ini. Ada kemungkinan, membahas tujuh hal dalam sebuah khutbah terlalu banyak memakan waktu. Seperti salah satu judulnya yang berbunyi Tiga Bentuk Pluralisme Islam atau Enam Manfaat Percaya pada Akhirat. Kerana itulah buku ini diberi judul 53 Materi Khotbah Ber-Angka. Sebuah format berbeda dari buku-buku kumpulan khutbah biasanya.

Lalu mengapa ada 53 judul? Kemungkinan besar buku ini dipersiapkan sebagai bahan khutbah selama setahun yang biasanya memang berisikan 53 pekan. Namun jika demikian, buku ini seharusnya berisikan 55 judul khutbah karena dua di antaranya pasti terpakai untuk Idul Fitri dan Idul Adha, bukan hanya untuk khutbah Jumat. Itulah masalah yang sering diidap oleh segala yang ber-angka. Setiap angka, terutama yang lebih dari satu, selalu menawarkan alternatif pilihan sehingga memberikan peluang untuk memilih. Namun sebenarnya, selain memberikan peluang untuk memilih, segala hal yang berjumlah juga sekaligus membatasi pilihan hanya pada angka yang disebutkannya. Lebih dari itu, tidak ditawarkannya.

Lintas Tema

Salah satu yang sering terjadi buku bunga rampai yang tidak mendasarkan diri pada sebuah tema juga terjadi pada buku ini yaitu tema yang dibahas sangat bermacam-macam, meski tidak mencakup semua hal. Namun nilai lebihnya adalah banyak hal yang dicakup buku ini dan jika memang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan khutbah selama setahun, maka hal itu menjadi sangat wajar.

Jika dicermati, tema-tema khutbah dalam buku ini membentang dari masalah spiritualitas, pendidikan, pluralisme, keimanan, politik, dan sebagainya. Namun secara singkat bisa dikatakan tema-tema khutbah dalam buku ini mencakup aspek sosial dan ritual dalam Islam. Kedua aspek ini memang harus mendapatkan perhatian untuk didamaikan. Sebagaimana manusia mempunyai aspek lahir dan batin yang tidak boleh ditanggalkan salah satunya, maka agama pun mempunyai aspek lahir atau sosial dan batin atau ritual. Khutbah-khutbah yang ada di dalam buku ini memadukan kedua aspek tersebut secara berkesinambungan.

Hal ini bisa kita lihat pada salah satu khutbah yang berjudul Tiga Nilai Puasa Ramadhan. Oleh penulis, ketiga nilai itu adalah: habl min Llaah (hubungan dengan Allah), habl min nnaas (hubungan dengan manusia), dan kedisiplinan. Karena puasa adalah salah satu ritual penting dalam Islam, maka fungsinya sebagai habl min Llaah tentu hal yang pasti. Namun bagaimana dengan habl min nnaas? Penulis menyebutkan kata kuncinya, yaitu: kebersamaan. Bagi penulis, puasa menawarkan kebersamaan kepada sesama manusia. Sama-sama lapar, sama-sama haus, dan karenanya, sama-sama lemah. Dan karena itu semua, maka semua manusia itu sama. Lengkap sudah. Tiga nilai puasa Ramadhan ini ­syukur-syukur bisa dilaksanakan semuanya. Paling tidak, penulis ingin menekankan bahwa sebuah ritual selalu mempunyai makna sosial. Dari tiga nilai puasa Ramadhan dalam khutbah ini, makna sosialnya dua dan makna ritualnya hanya satu.

Oke, puasa adalah persoalan yang pasti ada dalam setahun dan karena itu harus pula ada dalam sebuah buku kumpulan Khutbah Jumat yang diniatkan untuk dibaca setahun. Namun buku ini juga memuat tema yang dalam setahun belum tentu menjadi salah satu tema penting. Salah satunya adalah karena tidak tercantum dalam kalender hari besar Islam. Tema yang saya maksud adalah pluralisme. Sangat mungkin tema ini lahir untuk merespon persoalan yang muncul ketika khutbah itu dibikin dan memang pernah hangat beberapa waktu lalu. Tema ini dimuat dalam judul Tiga Bentuk Pluralisme Beragama.

Tiga bentuk pluralisme beragama yang dimaksud dalam judul ini adalah tiga bentuk yang dilarang, yaitu pluralisme yang menganggap keyakinan agama lain itu benar; melaksanakan peribadatan agama lain, dan mengikuti syariat agama lain.

Bentuk yang kedua dan ketiga mungkin tidak perlu mendapatkan penjelasan lebih lanjut karena sudah pasti salah jika seorang penganut agama Islam justeru melaksanakan ritual agama lain atau mengikuti syariat agama lain. Namun bentuk yang pertama masih perlu mendapatkan penjelasan lebih jauh. Karena terlarang untuk melihat adanya kebenaran pada keyakinan agama lian, apakah itu berarti penganut agama Islam harus “menyalahkan” keyakinan lain demi kebenaran keyakinan Islam? Atau apakah itu berarti penganut agama Islam harus “mencari-cari” kekeliruan keyakinan lain demi “menambah” keyakinan akan kebenaran keyakinan Islam? Mungkin karena ini adalah khutbah Jumat maka terlalu panjang jika semua itu dijelaskan panjang lebar.

Walhasil, buku ini telah berhasil menampakkan fungsinya di era dunia bunga rampai ini. Mudah dan memudahkan untuk semua pembaca, baik dai maupun bukan dai. Sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa peng-angka-an itu bersifat menguraikan tetapi sekaligus membatasi, maka itu terjadi juga dalam tema-tema yang ada di dalam buku ini. Misalnya, ketika penulis menyebutkan “ada tiga nilai”, apakah memang cuma ada tiga? Minimal tiga atau maksimal tiga? Sebagaimana mall atau supermarket telah bertindak memberikan sedemikan banyak pilihan untuk dibeli, sebenarnya di saat bersamaan mall dan supermarket juga sekaligus membatasi pilihan menurut seleranya sendiri, bukan selera pembeli karena—sebenarnya lagi—selera itu telah ditentukan sedari awal oleh produsen dan pembeli hanya “bebas” memilih di antara selera-selera yang ditawarkan, bukan seleranya sendiri. Buku telah mendisplay pilihan lewat angka yang tentu pas dengan selera penulisnya, bukan berdasar keinginan pembaca. Namun yang pasti, buku ini sangat menarik dan layak dikoleksi.

Judul                 : 53 Materi Khotbah Ber-Angka

Penulis               : Drs. H. Ahmad Yani

Tebal                 : 418 halaman

Penerbit             : Al Qalam, Jakarta

Terbit                : Desember 2008

 

BAGI
Artikel SebelumnyaCalon Penghuni Surga
Artikel BerikutnyaKecerdasan Qalbiah