Anak Pejuang

0
47 views

kisah teladanBagi Abu Bakar ash-Shiddik, anak dan isteri bukanlah sekadar dambaan dalam kehidupan rumah tangga. Tapi anggota keluarga seharusnya bisa menjadi penopang dan pelanjut perjuangan menegakkan agama Allah swt.

Ketika Abu Bakar mendampingi Rasulullah saw dalam perjalanan hijrah menuju Madinah, beliau tidak hanya melibatkan semua anggota keluarga bahkan pembantunya untuk keberhasilan perjalanan yang berat dan menegangkan itu, tapi ia juga membawa semua uang yang dimilikinya sebanyak enam ribu dirham sehingga tidak banyak uang yang ditinggalkan untuk keluarganya.

Sesudah menggerebek rumah Nabi dan orang-orang kafir tidak mendapati beliau ada di rumahnya, maka mereka mendatangi rumah Abu Bakar padahal beliau sedang bersembunyi di gua Tsur bersama Rasul. Puteri Abu Bakar yang bernama Asma ditanya oleh orang-orang kafir tentang keberadaan ayahnya, namun dengan tegas dan berani, Asma menjawab tidak tahu, meskipun sebenarnya ia tahu. Ini membuat orang-orang kafir memukul wajah Asma dan ia tetap tidak memberi tahu keberadaan ayahnya, ini membuat orang-orang kafir meninggalkan rumah Abu Bakar, mereka tidak mau membuang-buang waktu sampai kehilangan jejak dimana Rasulullah berada.

Tidak lama kemudian, Abu Quhafah yang merupakan bapak dari Abu Bakar dengan mata yang buta bertanya kepada Asma, cucunya: “Aku dengar ayahmu pergi dan ia menyusahkan kalian dengan tidak meninggalkan harta untuk kalian?”.  Asma langsung menjawab: “Tidak kek, ayah telah meninggalkan untuk kita harta yang banyak”.

Asma kemudian segera mengambil beberapa kerikil batu dan memasukkan ke tempat yang biasa ayahnya menyimpan uang, lalu ditutupinya dengan kain serta menyerahkan kepada kakeknya untuk dipegang: “Kek, inilah harta yang ditinggalkan untuk kita”. Abu Quhafah kemudian berkata: “Baguslah jika dia meninggalkan harta untuk kalian”.

Apa yang dilakukan Asma hanyalah untuk memberi ketenangan kepada kakeknya setelah ayahnya pergi ke Madinah dan tidak jelas kapan ia akan kembali.

Selama tiga hari Rasulullah saw dan Abu Bakar bersembunyi di dalam gua Tsur, Asma yang membawakan kebutuhan makan dan minum bagi beliau berdua, agar tidak dicurigai oleh orang kafir, maka Asma membelah ikat pinggangnya menjadi dua untuk memudahkan dan menyembunyikan makanan dan minuman yang dibawanya, karenanya ia juga diberi gelar dengan dzatun nithooqoin (sang pemilik dua ikat pinggang).

Begitulah Asma, puteri Abu Bakar Ash Shiddik yang usianya sepuluh tahun lebih tua dari adiknya, Aisyah yang kemudian menjadi isteri Rasulullah saw.

Asma bukan sekadar anak dari seorang pejuang, tapi ia memang seorang anak yang terlibat dalam perjuangan. Ayahnya telah mendidiknya menjadi pejuang sehingga keluarga Abu Bakar tidak pernah mempersoalkan bila ia mengorbankan semua harta yang dimilikinya untuk perjuangan di jalan Allah swt.

Dari kisah di atas, pelajaran yang harus kita ambil adalah:

1.      Orang tua yang sudah baik, apalagi berjuang di jalan Allah swt, tidak hanya harus memberi pengertian agar anaknya menjadi baik dan berjuang, tapi juga harus melibatkan mereka dalam perjuangan.

2.      Kerjasama dalam keluarga tidak hanya dalam urusan keluaga, tapi juga urusan sosial kemasyarakatan dan perjuangan menegakkan nilai-nilai perjuangan.