Aminah

0
55 views

Oleh Abd. Muid N.

Ini kisah tentang amanah.

Kita pasti tahu Aminah. Itu nama Ibunda Muhammad. Amînah adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti ‘perempuan pengemban amanah’. Ibunda Muhammad wafat saat dalam perjalanan antara Makkah dan Madinah bersama Muhammad dalam rangka menziarahi makam ayahanda Muhammad, Abdullah bin Abdul Muththalib yang jauh lebih dahulu wafat. Ketika itu, Muhammad masih sangat kecil. Sekira enam tahun.

Kedatangan Aminah ke muka bumi memang seperti kelebat. Seakan-akan beliau hanya datang sekadar untuk mengantar kelahiran Muhammad. Ketika tugas itu usai, beliau pun pergi. Seperti matahari yang harus pergi waktu petang saat tugasnya menyinari bumi telah rampung. Tugas Aminah adalah sebuah amanah, yaitu mengantarkan kelahiran seorang calon pemimpin manusia. Mungkin itulah sebabnya beliau bernama Aminah, perempuan pengemban amanah. Bisa dipercaya.

Muhammad kemudian tumbuh dewasa dan remaja, lalu di kemudian hari beliau mendapatkan julukan yang mirip nama ibunya, al-Amîn, ‘laki-laki pengemban amanah’ atau ‘laki-laki yang bisa dipercaya’. Julukan itu adalah pemberian orang-orang di Makkah. Julukan itu kemudian menjadi jarang disebut ketika Muhammad mulai memprokamirkan diri sebagai rasul dan menyampaikan risalah Ketuhanan sekaligus kemanusiaan.

Sepertinya orang-orang Makkah mulai enggan menyebut Rasulullah saw dengan al-Amin sejak itu karena toh meski mengakui kejujuran Rasulullah saw sampai sumsum, mereka tetap menolak ajarannya. Terlepas dari itu, kita jadi paham bahwa baik Aminah maupun al-Amin adalah kata yang serupa. Keduanya berbicara tentang orang-orang yang bisa dipercaya untuk mengemban amanah.

Kisah ini harus dipersingkat. Sampailah suatu waktu di dalam kehidupan Rasulullah saw ada perintah untuk menjalankan puasa pada bulan Ramadhan lewat sebuah ayat yang sangat popular, dimulai dengan penyebutan ‘Wahai orang-orang âmanû’ dan diakhiri dengan ‘semoga kalian menjadi muttaqîn’.

Jika amînah dan al-amîn berarti orang yang bisa dipercaya untuk mengemban amanah, maka âmanû seharusnya tidak berbeda makna jauh. Kata-kata tersebut bersaudara. Karena itu, perintah berpuasa pada al-Baqarah/2: 183 bisa diartikan dengan: Wahai orang-orang yang bisa dipercaya untuk mengemban amanah. Diwajibkan bagi kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan bagi orang-orang sebelum kalian. Agar kalian menjadi muttaqîn.

Bulan Ramadhan sesungguhnya adalah bulan pelatihan agar umat Muslim bisa menjadi orang-orang yang bisa dipercaya untuk mengemban amanah. Satu hal yang menjadi kata kunci dalam amanah adalah adanya kesadaran manusia bahwa mereka sedang dititipkan sesuatu amanah yang harus mereka tunaikan secara sempurna. Ibarat seorang kurir yang sedang bertugas mengantarkan sebuah barang berharga dari suatu tempat ke tampat lain. Setiap barang titipan harus diperlakukan istimewa, dipergauli dengan sangat hati-hati. Pada titik itulah kata âmanû di awal ayat al-Baqarah/2: 183 memiliki relevansi yang kuat dengan muttaqîn yang terletak pada ayat di ayat yang sama.

Muttaqîn sendiri berarti orang-orang yang berhati-hati, sebagaimana firman Allah dalam al-Anfal/8: 25: Hati-hatilah kepada siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Hubungan antara âmanû (para pengemban amanah) dengan muttaqîn (para pehati-hati) bisa dipahami sebagai berikut.

Siapapun yang mengemban amanah, harus berhati-hati membawa amanah yang dititipkan kepadanya. Karena itu, menjadi muttaqîn berarti menjadi orang-orang yang berhati-hati mengemban amanah. Allah swt menitipkan sangat banyak amanah yang harus ditunaikan. Jasad dengan segala asesorisnya serta ruh dengan segala tantangannya adalah amanah yang suatu saat pasti harus dikembalikan kepada pemiliknya. Ramadhan mendidik kita untuk menjadi para pengemban amanah yang pembuktiannya berada di luar bulan Ramadhan.