Ambisi Akhirat

0
128 views

Sebagai muslim sejati, setiap kita tentu memahami dan menyadari bahwa kehidupan akhirat jauh lebih baik dibanding kehidupan di dunia ini. Karenanya kehidupan dunia hanya batu loncatan untuk meraih kenikmatan dalam kehidupan akhirat. Oleh karena itu, sangat beruntung apabila kita berhasrat kepada kehidupan akhirat, dibanding kehidupan dunia yang perbandingannya seperti air lautan dengan tetesan air dari jari tangan yang baru dicelupkan.

Rasulullah saw mengemukakan keuntungan bila kita berorientasi pada kehidupan akhirat dalam satu haditsnya:

مَنْ كَانَتِ اْلأَخِرَةُ هِمَّتَهُ وَسَدَمَهُ وَلَهَا شَخَصٌ وَإِيَّاهَا يَنْوِى جَعَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ الْغِنَى فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ صَاغِرَةٌ

Dan barangsiapa yang akhirat adalah semangat dan hasratnya dan kepadanya ia mencurahkan perhatian dan untuknya ia berniat, niscaya Allah azza wa jalla menjadikan kekayaan di dalam hatinya dan Dia memperbaiki segala urusannya, dan kekayaan dunia datang kepadanya dalam keadaan hina (HR. Bazzar, Thabrani dan Ibnu Hibban).

Dari hadits di atas, kesimpulan yang bisa kita ambil adalah bahwa paling tidak, ada tiga keuntungan yang akan kita peroleh bila ambisi kita adalah untuk kehidupan akhirat yang bahagia.

1.    Kaya Hati

Orang yang berorientasi kepada kebahagiaan hidup di akhirat akan memiliki kekayaan jiwa yang luar biasa. Kesusahan hidup tidak membuatnya berputus asa lalu sampai menghalalkan segala cara untuk memperoleh harta agar tidak susah lagi. Bahkan ketika ia memiliki banyak harta, iapun tetap sederhana dan bersahaja sehingga tidak terjadi kesenjangan antara dirinya yang kaya dengan orang miskin yang harus menjaga jarak, ini menunjukkan bahwa kekayaan tidak membuatnya menjadi lupa diri. Karena itu, dalam konteks harta, orang yang kaya jiwa akan selalu berbagi dalam situasi banyak harta atau sedikit harta, dia tidak hanya berinfak pada saat banyak harta tapi juga pada saat sedikit, karenanya kaya tidak membuatnya lupa untuk berinfak sedangkan saat miskin ia tidak berkeluh kesah, inilah orang bertaqwa yang seharusnya dihasilkan melalui ibadah Ramadhan, Allah swt berfirman: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS Ali Imran [3]:133-134).

Disamping itu, orang yang kaya hati pada ayat di atas juga akan membuat dirinya menjadi lapang dada sehingga selalu berusaha menahan diri, tidak melampiaskan kemarahan dan berusaha memaafkan kesalahan orang lain, ini juga membuatnya tidak mudah stres.

2.    Urusan Menjadi Baik

quakeragitator.files.wordpress.comOrang yang berorientasi pada kebahagiaan akhirat tentu menyadari bahwa ada pertanggungjawaban atas sikap dan prilaku yang dilakukan di dunia ini, sekecil apapun dia, karenanya ia sangat khawatir bila melakukan penyimpangan, karena ada pertanggungjawabannya berat di sisi Allah swt. Oleh karena itu urusan yang dijalankannya menjadi baik karena memang tidak ada penyimpangan yang dilakukan, sedangkan kesulitan yang dihadapi dalam suatu urusan akan membuatnya mendapat kemudahan.

Oleh karena itu, apapun yang dimiliki dan dilakukan oleh orang yang berorientasi pada kebahagiaan akhirat akan membuatnya memberi kontribusi manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemaslahatan masyarakat. Karena itu, suatu kebahagiaan bahkan kebahagiaan yang besar bila kita bisa memberi manfaat dalam kebaikan karena inilah salah satu ciri manusia terbaik, Rasulullah saw bersabda:

خَيْرُالنَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ  

Sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudha’i dari Jabir ra).

Bisa jadi setiap orang memiliki kebiasaan-kebiasaan baik dalam hubungannya dengan sesama manusia. Namun, kebiasaan baik itu kadangkala ditinggalkan oleh seseorang ketika ia telah memiliki jabatan atau kedudukan. Namun tidak demikian halnya dengan Khalifah Abu Bakar Ash Shiddik. Baginya, jabatan atau kedudukan adalah penambah amal shaleh yang membuat amal yang biasa dilakukan sebelum menjadi khalifah tidak harus ditinggalkan, meskipun hal itu masalah yang sangat teknis. Inilah salah satu sebab yang membuatnya menjadi agung.

Abu Bakar memiliki banyak tetangga yang harus ia perlakukan sebaik mungkin, apalagi diantara mereka adalah janda para syuhada dan anak-anak yatim. Karena itu, dalam kehidupannya sehari-hari, ia biasa mengunjungi rumah-rumah itu dan memerahkan susu domba mereka, bahkan anak-anak yatim dikunjungi juga untuk memasakkan makanan bagi mereka. Ketika ia menjadi khalifah, banyak orang menduga ia akan meninggalkan kebiasaannya yang satu ini, Sehingga terjadi kesenjangan hubungan antara pemimpin dengan rakyatnya. Namun, ternyata dugaan mereka itu sama sekali tidak terbukti.

Suatu ketika, Abu Bakar mendatangi rumah yang biasa didatanginya sebelum menjadi khalifah. Ketika seorang gadis kecil membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk, ia berseru: “Bu, Pemerah susu kita datang!”.

Dengan terburu-buru, sang ibu menemui anaknya dan tentu saja ia amat terkejut karena yang datang adalah seorang khalifah, dengan perasaan yang amat malu, ia berkata kepada anaknya: “Bodoh kamu, mengapa tidak kamu sebutkan khalifah Abu Bakar yang datang?”.

Dengan penuh kesantunan, Abu Bakar berkata: “Biarlah, tidak apa-apa. Sungguh ia telah memanggil nama saya dengan pekerjaan yang paling saya sukai terhadap Allah”.

3.    Kekayaan Dunia Tunduk Dengan Kehinaan

Orang yang berorientasi pada kebahagiaan akhirat tidak akan tunduk dengan penuh hina kepada segala yang berbau materi duniawi dengan menjatuhkan citra dan harga dirinya serta melepas idealisme yang dimiliki dan diperjuangkannya demi kenikmatan duniawi, tapi justeru materi duniawi itulah yang datang kepadanya dengan hina dan tidak berdaya dalam mempengaruhinya. Kita tentu masih ingat bagaimana Nabi Yusuf tidak mau memenuhi ajakan untuk berzina dari wanita yang cantik dan secara pribadi iapun tertarik pada kecantikannya. Kitapun tidak lupa bagaimana seorang anak gembala tidak mau menjual susu kambing dan tidak mau juga menjual seekor kambing meskipun Khalifah Umar bin Khattab yang akan membelinya dengan harga yang mahal karena ia merasa tidak punya hak untuk melakukannya.

Contoh lain, hari pertama sebagai Khalifah, Umar bin Abdul Aziz dikejutkan dan mengejutkan banyak orang. Setelah menyelesaikan prosesi penguburan Khalifah Sulaiman, kepadanya disiapkan sejumlah kendaraan yang terdiri dari kuda pengangkut barang, beberapa ekor kuda tunggangan lengkap dengan peralatan dan kusirnya. Beliau bertanya: “Apakah ini?”.

Mereka menjawab: “Ini kendaraan buat khalifah”.

Umar menegaskan: “Hewanku lebih sesuai bagiku”.

Maka Umar menjual semua hewan itu dan uangnya diserahkan kepada Baitul Maal. Begitu pula semua tenda, permadani dan semua tempat alas kaki yang disediakan untuk khalifah-khalifah yang baru. Iapun melakukan evaluasi dan kesimpulannya ia harus menjauhkan diri dari kenikmatan duniawi, maka dikembalikanlah semua tanah perkebunan yang dulu diberikan kepadanya dan dilepaskan harta yang dulu diberikan kepadanya karena ia yakin semua itu bukan harta yang halal, bahkan iapun menanggalkan pakaian yang mahal dan beralih kepada yang murah, kesederhanaan dimulai dari dirinya sebagai pemimpin.

Dengan demikian, kita amat menyayangkan terhadap banyaknya orang yang menjatuhkan harga dirinya hanya karena persoalan kenikmatan duniawi yang hanya sesaat. Oleh karena itu, menjadi amat penting bagi kita untuk terus mempertahankan nilai-nilai kebenaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, baik secara pribadi, keluarga maupun masyarakat dan negara.

By Drs. H. Ahmad Yani (ayani_ku@yahoo.co.id)

BAGI
Artikel SebelumnyaHayaatan Thayyibah
Artikel BerikutnyaSunnah