Alpa

0
245 views
omm.com

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Hiruk pikuk sosial dan politik dengan rona-rona agama sedang sering memberi mimik pada wajah kebernegaraan kita. Memang itu mengalami pasang surut dalam sejarah dan juga dinamika. Ada kalanya tampak begitu cerdas meresap di dalam sendi-sendi kehidupan bernegara hingga tidak menimbulkan gejolak, namun ada kalanya tampak dipaksakan dan kasar sehingga memancing pro dan kontra, bahkan di kalangan kaum beragama sendiri.

Mungkin saat ini sedang momentumnya. Dan karena ini momentum, maka juga adalah saat-saat yang kritis. Di sana ada pertaruhan apakah agama adalah solusi atau agama, sosial, dan politik tidak lebih merupakan unsur-unsur yang kadang saling memanfaatkan.

Namun ada yang alpa dari kenyataan yang terpampang itu, yaitu timbul-tenggelamnya intelektualitas di tengah hiruk pikuk sosial, politik, dan agama. Seharusnya intelektualitas menjadi suluh bagi setiap kritik sosial dan politik agar kritik itu tidak kehilangan sisi obyektivitasnya dan juga demi menjaga agar hasil yang didapatkan bisa berlangsung lama karena bisa dipertanggungjawabkan.

Indonesia pernah mengalami bagaimana ruang-ruang intelektual diberangus oleh kekuasaan di masa Orde Baru. Suara-suara dibungkam. Memang pada dasarnya kekuasaan—dalam bentuk apapun—senantiasa cenderung memberangus, namun kini, setelah Era Reformasi, bukan kekuasaan yang memberangus tetapi adalah ideologi-ideologi itu sendiri yang saling membungkam dan saling berebut massa.

Karena itu, tampak ada kesamaan antara Orde Baru dan kini. Jika pada Orde Baru, ruang-ruang intelektual dicaplok oleh kekuasaan, maka pada kini, ruang-ruang intelektual dicaplok oleh ideologi-ideologi yang sedang bertarung. Disebut dicaplok karena seperti ada kesengajaan untuk membiarkan ruang-ruang intelektual itu tidak ada. Yang ada hanyalah ideologi-ideologi yang saling berteriak tanpa adanya ruang dialog.

Satu-satunya ruang yang disediakan (dimanfaatkan) oleh ideologi-ideologi itu adalah media sosial yang kini telah menjadi Padang Kurukshetra di mana ideologi-ideologi itu saling membantai. Tentu saja bukan media sosial bukan tempat tumbuh yang subur bagi intelektualitas, bahkan mematikannya, namun barangkali media sosial tempat baik bagi bersemainya ide-ide (isu-isu) politik.

Dalam kondisi seperti ini, tidak perlu bermimpi tentang pencerdasan dan pencerahan. Keduanya tenggelam bersama alpanya intelektualitas atau terseret oleh banjir bandang kepentingan politik. Karena itu pula, kita patut khawatir jangan-jangan agama hanyalah solusi sesaat bagi kepentingan-kepentingan politik yang sedang bertarung.[]

BAGI
Artikel SebelumnyaProfil Dai
Artikel BerikutnyaDahsyat