Al-Walid bin Mughirah

0
185 views

Nama lengkapnya al-Walid ibnul Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.  Orang-orang Quraisy biasa memanggilnya dengan sebutan Abu Abdi Syams, ia adalah tokoh senior dikalangan kaum Quraisy, ia merupakan orang yang paling kaya dari Bani Makhzum yang menjadi rujukan, Ia memiliki putra yang terpandang pula, yaitu Khalid bin al-Walid. Quraisy memberikannya julukan al-Idl sebagaimana dia dijuluki pula Al-Wahiid (satu-satuya) –satu-satunya orang Arab- karena dia seorang diri yang membuat kiswah Ka’bah pada suatu tahun, Ia adalah seorang hakim di masyarakat Arab jahiliyah, tokoh di Darun Nadwah dan dianggap pemersatu bangsa Arab.

Pada suatu waktu Quraisy bersidang di Darun Nadwah, Kafir Quraisy mengambil keputusan untuk bertatap muka dengan Rasulullah saw, mereka berharap dengan perbincangan ini dapat menyelesaikan masalah. Maka mereka mengirim al Walid bin Mughirah, orang yang paling berpengaruh dan paling fasih berbahasa di kalangan Quraisy. Al Walid menemui Rasulullah saw ketika itu beliau sedang duduk seorang diri di tepi Ka’bah. Dengan bijaksana al Walid melontarkan pertanyaan kepada Nabi Muhammad saw:

Al-Walid:  “Wahai Muhammad, apakah sebenarnya yang telah terjadi? Apa yang kamu perjuangkan? Perjuangan kamu telah memecah-belah kami. Apa mungkin engkau sakit? Kalau begitu kami bersedia mengumpulkan uang untuk mengobati kamu. Kami dapat membayar tabib yang paling hebat. Kalau kamu mengharapkan harta dan uang dari perjuangan kamu ini, Quraisy bersedia mengumpulkan harta dan uang untuk kamu sehingga kamu jadi orang yang paling kaya di kalangan kami.”Rasulullah hanya mendengar dengan baik, walaupun kata-kata yang disampaikan oleh al Walid itu telah menyebabkan Nabi saw terasa sedih. Al Walid menyambung lagi, “Kalau kamu ingin kemuliaan, kami jadikan kamu ketua kami. Kalau kamu ingin kekuasaan, kami angkat kamu jadi raja kami di Mekah. Kalau kamu ingin isteri, kami kawinkan kamu dengan siapa saja yang kamu ingin dari kalangan gadis Quraisy. Apa saja yang kamu inginkan wahai Muhammad kami akan tunaikan. Hanya satu permintaan kami yaitu hentikanlah perjuangan kamu ini!”

Rasulullah saw dengan bijaksana bertanya balik kepadanya, “Apakah engkau sudah selesai wahai al Walid?”

“Benar!” jawab al Walid.

Rasulullah saw bersabda, “Kalau begitu izinkan aku berbicara pula, kemudian Rasulullah membacakan beberapa ayat dari Surah Fussilat kepada al Walid:

حم، تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ، كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ، بَشِيرًا وَنَذِيرًا فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ، وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ وَفِي آذَانِنَا وَقْرٌ وَمِنْ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ إِنَّنَا عَامِلُونَ، قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ ۗ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ

“Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Haa Mim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan. Mereka berkata: “Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)” Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, “ (QS. Fussilat[41]: 1-6)

Setiap ayat yang dibaca oleh Rasulullah saw telah menguasai seluruh perasaan, pikiran dan pancaindera al Walid. Dia telah mendengar mukjizat al-Quran dari mulut Rasulullah saw sendiri. Sedangkan al-Quran diturunkan dalam Bahasa Arab yang sangat luar biasa. Sampai pada ayat berikutnya, al Walid tidak tahan lagi. Al Walid merasa terlalu takut. Dia sadar manusia yang sedang berbicara dihadapannya itu adalah Sodiqul Amin, bahkan dia yakin kata-kata itu bukan dari Nabi Muhammad saw tapi dari Allah swt. Bila Rasulullah saw sampai ke ayat ini:

فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ

Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud”. (QS. Fussilat[41]: 13)

Al Walid bangun menerpa ke arah Rasulullah saw sambil meletakkan tangannya di mulut Baginda. Dia memohon kepada Rasulullah saw agar jangan menyambung lagi. Al Walid merasakan seolah-olah kilat petir akan menyambar kaum Quraisy juga. Setelah itu al Walid duduk kembali ke tempatnya.

Nabi Muhammad saw menyambung lagi bacaan ayat-ayat tadi hingga sampai ke ayat sujud, ayat ke 37

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Maka Nabi Muhammad saw pun sujud. setelah itu Nabi saw menoleh kepada al Walid sambil berkata, “Inilah jawaban daku.”

Al Walid bangun dari pertemuan itu dalam keadaan lemah lunglai bahkan tak mampu bercakap apa-apa lagi. Dia benar-benar terkejut, tertegun bahkan tersentuh. Inilah pertama kali dia mendengar al-Quran secara langsung dari mulut Rasulullah saw. Dia segera kembali kepada pembesar Quraish yang sedang menunggunya di Darul Nadwah.

Ketika al Walid masuk, dari air mukanya saja kaum Quraisy sudah dapat melihat perubahan yang jelas pada al Walid. Memang dia sangat terkesan dengan ayat-ayat yang baru saja didengarnya tadi. Benarlah sabda Rasulullah saw:

أن النبي قال: (( إن من البيان لسحراً )) روى البخاري ومسلم في صحيحهما

“Sesungguhnya pada kata-kata yang indah tersusun itu ada sihir.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Para pembesar Quraisy berbisik sesama mereka, “Demi Allah, al Walid tidak pulang dengan wajahnya sewaktu dia pergi.” Mereka bertanya, “Apa yang telah berlaku, wahai al Walid?”

وماذا أقول؟ فوالله! ما فيكم رجل أعلم بالأشعار مني، ولا أعلم برجز ولا بقصيدة مني، ولا بأشعار الجن، والله! ما يشبه الذي يقول شيئا من هذا، ووالله! إن لقوله الذي يقول حلاوة، وإن عليه لطلاوة، وإنه لمثمر أعلاه مغدق أسفله، وإنه ليعلو وما يعلى، وإنه ليحطم ما تحته

“Apa menurutmu yang harus kukatakan pada mereka? Demi Allah! Tidak ada di tengah-tengah kalian orang yang lebih memahami syair Arab daripada aku. Tidak juga pengetahuan tentang rajaz dan qashidahnya yang mengungguli diriku. Tapi apa yang diucapkan Muhammad itu tidak serupa dengan ini semua. Juga bukan sihir jin. Demi Allah! Apa yang ia ucapkan (Alquran) itu manis. Memiliki thalawatan (kenikmatan, baik, dan ucapan yang diterima jiwa). Bagian atasnya berbuah, sedang bagian bawahnya begitu subur. Perkataannya begitu tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya, serta menghantam apa yang ada dibawahnya.”

Al-Walid menjawab, “Aku telah mendengar kata-kata yang belum pernah aku dengar dalam hidupku.”

Pembesar Quraisy bertanya, “Apakah kamu telah meninggalkan agama kamu?

Al-Walid: “Tidak…tidak…,” jawab al Walid. “Tetapi aku tak pernah mendengar kata-kata seperti itu.”

Kaum Quraisy berhujah lagi, Itu Syair!

Bukan Syair! , bentak al Walid. Bukankah aku orang yang paling mahir tentang syair di kalangan kamu!”

Kalau begitu, Muhammad adalah seorang Pendeta, ujar mereka,

Al-Walid menafikan, Tidak! Aku cukup kenal penampilan seorang pendeta.

Kalau begitu, Muhammad seorang yang gila! Tidak! Aku cukup mengenali perwatakan orang gila, bantah al Walid.

Kalau begitu, Muhammad adalah seorang ahli sihir! tuduh kaum Quraisy.

Bukan! Aku juga cukup kenal tipu-daya seorang ahli sihir. Muhammad sama sekali bukan seperti yang kamu sebutkan. Aku dapat merasakan dia lain dari yang lain! ujar al Walid.

Pembesar Quraisy mengalami kebuntuan,  apakah yang hendak kita labelkan kepada Muhammad?

Al-Walid bertanya kepada kaumnya: Berterus-teranglah, apakah kamu ingin mendengar pandangan aku? Silakan! jawab mereka.

Al Walid: Wahai kaum Quraisy, aku beri dua pilihan kepada kamu semua dalam masalah ini:

Pertama, kita ikut Muhammad karena dia sebenarnya memperkatakan kebenaran. Kata-katanya benar! Tidak mungkin! bentak Quraisy.

Al Walid menyambung lagi, Kalau begitu, biarkan dia, jangan ganggu dia. Sekiranya dia menang dan berjaya menguasai seluruh Arab, bukankah itu juga kemenangan dan kemuliaan kamu. Bukankah dia juga dari bangsawan Quraisy. Sekiranya dia ditentang dan dibunuh, bukankah itu yang kamu inginkan selama ini? Namun kaum Quraisy tetap tidak menerima kedua usulan yang diajukan olehnya.

Demi mengambil hati kaumnya lagi dan karena tidak sanggup kehilangan pengaruhnya, al-Walid berkata kepada mereka, Kalau begitu, kita anggap dia ahli sihir! Tuduhan yang agak sesuai ialah ahli sihir. Rasulullah saw memang memiliki kata-kata yang dapat menyihir masyarakat. Al Walid sudah melihat kebenaran Rasulullah saw tetapi malah mempengaruhi kaumnya menolak kebenaran. Karena takut kehilangan kedudukan dan pengaruhnya, dia telah menolak bahkan menghina kebenaran dan Nabi Muhammad saw. Allah swt sangat murka kepada manusia yang bersikap begitu. Allah swt menurunkan wahyu surat al-Mudatsir, ayat 11-26

ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا، وَجَعَلْتُ لَهُ مَالًا مَمْدُودًا، وَبَنِينَ شُهُودًا، وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيدًا، ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ، كَلَّا ۖ إِنَّهُ كَانَ لِآيَاتِنَا عَنِيدًا ، إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ، فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ، ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ، ثُمَّ نَظَرَ، ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ، ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ، فَقَالَ إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ، إِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ

 

Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian, 12. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, 13. dan anak-anak yang selalu bersama dia, 14. dan Ku-lapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, 15. kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya, 16. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Al Quran). 18. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), 19. maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan?, 20. kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan?, 21. kemudian dia memikirkan, 22. sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, 23. kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, 24. lalu dia berkata: “(Al Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), 25. ini tidak lain hanyalah perkataan manusia”. (QS. Al-Mudatsir[74]:11-26)

Allah swt juga menurunkan firman-Nya berkenaan dengan Al-Walid

وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَٰذَا الْقُرْآنُ عَلَىٰ رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ

Dan mereka berkata, ‘Mengapa Alquran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Tha’if) ini?’” (QS. Az-Zukhruf[43]: 31)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Allah swt menurunkan sebanyak 104 ayat berkenaan dengan Al-Walid bin al-Mughirah.”

Diakhir hayatnya Al-Walid mengalami sakit parah di Kakinya, dan dia selalu menutupi kakinya itu dengan selalu memakai pakain yang panjang dan menutupi kakinya, dia meninggal 3 bulan setelah Nabi saw hijrah ke Madinah, dalam usia 95 th, sungguh merugilah dia karena diberi usia yang panjang tapi tidak beriman padahal kebenaran itu nampak dihadapnnya.

Hikmah dari kisah diatas:

Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad saw dan juga ummatnya. Orang yang mengetahui kebenaran tetapi tidak mau menerimanya, maka Allah swt akan memasukan ke Neraka-Nya sebagaimana Al-Walid yang mengetahui kebenaran tetapi tidak mengimaninya.

Sumber bacaan:

  1. Shofiyurrohman Al-Mubarofury, Ar-Rohiqulmakhtum
  2. Ibnu Hisyam, Siroh Nabawiyah
  3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah

BAGI
Artikel SebelumnyaDisekuilibrium I: Subyek-Obyek
Artikel BerikutnyaPedang