Al-Qur’an

0
51 views

rohayadi.wordpress.comSecara etimologi merupakan mashdar (kata benda) dari kata kerja Qoro-’a (قرأ) yang bermakna Talaa (تلا) [keduanya berarti: membaca], atau bermakna Jama’a ((جمع(mengumpulkan, mengoleksi). Berdasarkan makna pertama (Yakni: Talaa) maka ia adalah mashdar (kata benda) yang semakna dengan Ism Maf’uul, artinya Matluw (yang dibaca). Sedangkan berdasarkan makna kedua (Yakni: Jama’a) maka ia adalah mashdar dari Ism Faa’il, artinya Jaami’ (Pengumpul, Pengoleksi) karena ia mengumpulkan/ mengoleksi berita-berita dan hukum-hukum.

Secara istilah para ulama mendefinisikan: al-Qur`an adalah Kalam Allah swt yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s yang sampai kepada kita secara mutawatir, yang pembacaannya merupakan suatu ibadah.

 

Nama-Nama Lain Dari Al-Qur’an.

Dalam Al-Qur’an sendiri terdapat beberapa ayat yang menyertakan nama lain yang digunakan untuk merujuk kepada Al-Qur’an itu sendiri. Berikut adalah nama-nama tersebut dan ayat yang mencantumkannya:

 

  • Al-Kitab, QS(2:2),QS (44:2)
  • Al-Furqan (pembeda benar dan salah): QS(25:1)
  • Adz-Dzikr (pemberi peringatan): QS(15:9)
  • Al-Mau’izhah (pelajaran/nasehat): QS(10:57)
  • Al-Hukm (peraturan/hukum): QS(13:37)
  • Al-Hikmah (kebijaksanaan): QS(17:39)
  • Asy-Syifa’ (obat/penyembuh): QS(10:57), QS(17:82)
  • Al-Huda (petunjuk): QS(72:13), QS(9:33)
  • At-Tanzil (yang diturunkan): QS(26:192)
  • Ar-Rahmat (karunia): QS(27:77)
  • Ar-Ruh (ruh): QS(42:52)
  • Al-Bayan (penerang): QS(3:138)
  • Al-Kalam (ucapan/firman): QS(9:6)
  • Al-Busyra (kabar gembira): QS(16:102)
  • An-Nur (cahaya): QS(4:174)
  • Al-Basha’ir (pedoman): QS(45:20)
  • Al-Balagh (penyampaian/kabar) QS(14:52)
  • Al-Qaul (perkataan/ucapan) QS(28:51)

 

Struktur Dan Pembagian Dalam Al-Qur’an

 

Surat, ayat dan ruku’

Al-Qur’an terdiri atas 114 bagian yang dikenal dengan nama surah (surat). Pembagian al-Qur’an menjadi surah-surah merupakan pembagian yang dituliskan oleh al-Qur’an sendiri. Ayat-ayat yang memuat kata “Surah” antara lain surah an-Nur ayat 1, at-Taubah ayat 86, dan al-Baqarah ayat 23. Umumnya, pemberian nama surah disesuaikan dengan tema yang dibicarakan surah tersebut atau dengan nama yang telah ada dalam surah, seperti “al-Baqarah“, “Ali ‘Imran“, dan “al-Isra“. Sifat suatu surah juga dapat digunakan untuk menamakan surah itu, seperti surah “Fatihatul Kitab“, “Ummul Kitab“, “as-Sab’ul Matsani“, “al-Ikhlas“. Nama-nama dan sifat-sifat ini telah ada pada masa awal Islam berdasarkan kesaksian asar dan sejarah. Bahkan, nama sebagian surah telah disebutkan dalam beberapa hadits Nabi saw, seperti surah al-­Baqarah, Ali ‘Imran, Hud, dan al-Waqi’ah yang mengindikasikan bahwa nama surah-surah tersebut telah ditentukan dizaman nabi Muhammad saw. Setiap surat akan terdiri atas beberapa ayat, di mana surat terpanjang dengan 286 ayat adalah surat al-Baqarah dan yang terpendek hanya memiliki 3 ayat yakni surat al-Kautsar, an-Nasr dan al-‘Așr. Surat-surat yang panjang terbagi lagi atas sub bagian lagi yang disebut ruku’ yang membahas tema atau topik tertentu.

 

Makkiyah Dan Madaniyah

Al-Qur’an tidak turun sekaligus. Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Para ulama membagi masa turun ini dibagi menjadi 2 periode, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Periode Mekkah berlangsung selama 12 tahun masa kenabian Rasulullah saw dan surat-surat yang turun pada waktu ini tergolong surat Makkiyyah. Sedangkan periode Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah berlangsung selama 10 tahun dan surat yang turun pada kurun waktu ini disebut surat Madaniyah.

 

Juz dan manzil

Dalam skema pembagian lain, al-Qur’an juga terbagi menjadi 30 bagian dengan panjang sama yang dikenal dengan nama juz. Pembagian ini untuk memudahkan mereka yang ingin menuntaskan bacaan al-Qur’an dalam 30 hari (satu bulan). Pembagian lain yakni manzil memecah al-Qur’an menjadi 7 bagian dengan tujuan penyelesaian bacaan dalam 7 hari (satu minggu). Kedua jenis pembagian ini tidak memiliki hubungan dengan pembagian subyek bahasan tertentu.

 

Menurut ukuran surat

Kemudian dari segi panjang-pendeknya, surat-surat yang ada didalam al-Qur’an terbagi menjadi empat bagian, yaitu:

  1. As-Sab’uththiwaal (tujuh surat yang panjang). Yaitu Surat al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisaa’, al-A’raaf, al-An’aam, al-Maaidah dan Yunus.
  2. Al-Miuun (seratus ayat lebih), seperti Hud, Yusuf, Mu’min dan sebagainya.
  3. Al-Matsaani (kurang sedikit dari seratus ayat), seperti al-Anfaal, al-Hijr dan sebagainya.
  4. al-Mufashshal (surat-surat pendek), seperti adh-Dhuha, al-Ikhlas, al-Falaq, an-Nas dan sebagainya.

Penulisan Al-Qur’an Dan Perkembangannya

Penulisan (pencatatan dalam bentuk teks) al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad saw. Kemudian transformasinya menjadi teks yang dijumpai saat ini selesai dilakukan pada zaman khalifah Utsman bin Affan.

Pengumpulan Al-Qur’an dimasa Rasullulah saw.

Pada masa ketika Nabi Muhammad saw masih hidup, terdapat beberapa orang yang ditunjuk untuk menuliskan al-Qur’an yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Ka’ab. Sahabat yang lain juga kerap menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan. Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat langsung menghafalkan ayat-ayat al-Qur’an setelah wahyu diturunkan.

 

Pengumpulan Al-Qur’an dimasa Khulafaur Rasyidin

 

Pada masa pemerintahan Abu Bakar

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, terjadi beberapa pertempuran (dalam perang yang dikenal dengan nama perang Ridda) yang mengakibatkan tewasnya beberapa penghafal al-Qur’an dalam jumlah yang signifikan. Umar bin Khattab yang saat itu merasa sangat khawatir akan keadaan tersebut lantas meminta kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan seluruh tulisan al-Qur’an yang saat itu tersebar di antara para sahabat. Abu Bakar lantas memerintahkan Zaid bin Tsabit sebagai koordinator pelaksana tugas tersebut. Setelah pekerjaan tersebut selesai dan al-Qur’an tersusun secara rapi dalam satu mushaf, hasilnya diserahkan kepada Abu Bakar. Abu Bakar menyimpan mushaf tersebut hingga wafatnya kemudian mushaf tersebut berpindah kepada Umar sebagai khalifah penerusnya, selanjutnya mushaf dipegang oleh anaknya yakni Hafsah yang juga istri Nabi Muhammad saw.

 

Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan

www.facebook.comPada masa pemerintahan khalifah ke-3 yakni Utsman bin Affan, terdapat keragaman dalam cara pembacaan al-Qur’an (qira’at) yang disebabkan oleh adanya perbedaan dialek (lahjah) antar suku yang berasal dari daerah berbeda-beda. Hal ini menimbulkan kekhawatiran Utsman sehingga ia mengambil kebijakan untuk membuat sebuah mushaf standar (menyalin mushaf yang dipegang Hafsah) yang ditulis dengan sebuah jenis penulisan yang baku. Standar tersebut, yang kemudian dikenal dengan istilah cara penulisan (rasam) Utsmani yang digunakan hingga saat ini. Bersamaan dengan standarisasi ini, seluruh mushaf yang berbeda dengan standar yang dihasilkan diperintahkan untuk dimusnahkan (dibakar). Dengan proses ini Utsman berhasil mencegah bahaya laten terjadinya perselisihan di antara umat Islam di masa depan dalam penulisan dan pembacaan al-Qur’an.

Menurut Syaikh Manna’ al-Qaththan dalam Mahabits fi ‘Ulum Al Qur’an, keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Utsman telah disepakati oleh para sahabat. Demikianlah selanjutnya Utsman mengirim utusan kepada Hafsah untuk meminjam mushaf Abu Bakar yang ada padanya. Lalu Utsman memanggil Zaid bin Tsabit al-Anshari dan tiga orang Quraish, yaitu Abdullah bin az-Zubair, Said bin al-Ash dan Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam. Ia memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, dan jika ada perbedaan antara Zaid dengan ketiga orang Quraish tersebut, hendaklah ditulis dalam bahasa Quraish karena al-Qur’an turun dalam dialek bahasa mereka. Setelah mengembalikan lembaran-lembaran asli kepada Hafsah, ia mengirimkan tujuh buah mushaf, yaitu ke Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah, dan sebuah ditahan di Madinah (mushaf al-Imam).

 

Hubungan dengan kitab-kitab lain

Berkaitan dengan adanya kitab-kitab yang dipercayai diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Muhammad saw dalam agama Islam (Taurat, Zabur, Injil, lembaran Ibrahim), al-Qur’an dalam beberapa ayatnya menegaskan posisinya terhadap kitab-kitab tersebut. Berikut adalah pernyataan al-Qur’an yang tentunya menjadi doktrin bagi ummat Islam mengenai hubungan al-Qur’an dengan kitab-kitab tersebut:

  1. Bahwa al-Qur’an menuntut kepercayaan ummat Islam terhadap eksistensi kitab-kitab tersebut. QS(2:4).
  2. Bahwa al-Qur’an diposisikan sebagai pembenar dan batu ujian (verifikator) bagi kitab-kitab sebelumnya. QS(5:48).
  3. Bahwa al-Qur’an menjadi referensi untuk menghilangkan perselisihan pendapat antara ummat-ummat rasul yang berbeda. QS(16:63-64).
  4. Bahwa al-Qur’an meluruskan sejarah. Dalam al-Qur’an terdapat cerita-cerita mengenai kaum dari rasul-rasul terdahulu, juga mengenai beberapa bagian mengenai kehidupan para rasul tersebut. Cerita tersebut pada beberapa aspek penting berbeda dengan versi yang terdapat pada teks-teks lain yang dimiliki baik oleh Yahudi dan Kristen.

Referensi.

  1. Al-A’zami, M.M., (2005), Sejarah Teks Al-Qur’an dari Wahyu sampai Kompilasi, (terj.), Jakarta: Gema Insani Press, ISBN 979-561-937-3.
  2. Rahman, A., (2007), Ensiklopediana Ilmu dalam Al-Quran: Rujukan Terlengkap Isyarat-Isyarat Ilmiah dalam Al-Quran, (terj.), Bandung: Penerbit Mizania, ISBN 979-8394-43-7.
  3. Manna’ Al-Qaththan, Mahabits fi ‘Ulum Al Qur’an.
  4. www.wikipedia.org.