Al-Qur’an Pemberi Syafa’at

0
9 views

facebook.comSetiap orang mendambakan kedamaian, ketenangan, kebahagiaan dan keselamatan dalam hidupnya baik di dunia maupun di akhirat, tentu saja untuk mendapatkannya bukanlah suatu perkara yang mudah, perlu kerja keras, perjuangan, pengorban dan keikhlasan dalam setiap melakukan amal shaleh.

Ibadah dan amal shaleh yang kita lakukan sesungguhnya masih belum cukup untuk mendapatkan surga-Nya, bila Allah swt tidak menganugrahkan rahmat-Nya kepada kita. Di hari kiamat nanti tidak ada satupun mahluk yang bisa memberikan syafaat kepada seseorang untuk masuk surganya Allah swt kecuali yang telah mendapat izin dari-Nya. Salah satu yang diizinkan oleh Allah swt bisa memberikan syafa’at selain Rasulullah saw adalah orang yang hafal al-Quran serta mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Hal ini berdasarkan salah satu hadis Rasulullah saw, sebagai berikut:

Dari Ali ra, berkata; bahwa Rasulullah saw bersabda,Barang siapa membaca al-Quran dan menghafalnya kemudian menghalalkan apa yang dihalalkan al-Quran, serta mengharamkan apa yang diharamkan-Nya, maka Allah akan memasukannya ke dalam surga dan menjaminnya untuk memberi syafa’at kepada sepuluh orang keluarganya yang wajib neraka baginya. “ ( HR. Ahmad, Tirmidzi menurut Abu Isa hadis ini Gharib dan sanadnya tidak shahih).

Insya Allah, setiap mukmin akan dimasukan ke dalam surga meskipun ia harus di bersihkan terlebih dahulu dengan azab karena dosa-dosanya. Akan tetapi seorang yang hafal al-Quran dan senantiasa memelihara nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, maka ia memiliki keutamaan masuk surga sejak pertama kali. Bahkan Ia dapat memberi syafa’at kepada sepuluh orang yang berdosa. Sementara orang kafir tetap tidak memperoleh syafaat itu. Allah swt, berfirman: “Sesungguhnya orang mempersekutukan Allah swt (dengan sesuatu) maka Allah swt haramkan baginya surga dan tempatnya adalah neraka, dan tak ada bagi orang-orang yang zhalim itu seorang penolong pun.” (QS al-Maidah [5]: 72).

Dalam firman-Nya yang lain: “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah swt) bagi orang-orang musyrik.” (QS al-Taubah [9]:113).

Ayat-ayat di atas dengan jelas menyatakan bahwa tidak ada ampunan bagi orang-orang musyrik. Dengan demikian, syafa’at seorang hafizh hanya terbatas untuk kaum muslimin, yang karena dosa-dosanya, mereka dimasukan ke dalam neraka. Oleh karena itu, barang siapa ingin selamat dari api neraka, jika dirinya bukan seorang hafizh al-Quran, paling tidak ia berusaha menjadikan diantara keluarganya atau kerabatnya untuk menjadi hafizh al-Quran disamping dirinya senantiasa berusaha menjauhi segala dosa, sehingga ia akan terhindar dari azab.

Al-Quran adalah kalamullah (firman Allah) yang di turunkan kepada nabi Muhammad saw, melalui perantara malakat Jibril, secara berangsur-angsur yang dimulai dari surat al-Fatihah dan diakhiri dengan suart al-Nas. Dan siapapun yang membacanya dinilai sebagai ibadah. Menurut orientalis Gibb,seperti yang dikutip oleh M. Quraish Shihab dalam bukunya secercah cahaya Ilahi, “Tidak ada seorangpun dalam seribu lima ratus tahun ini, yang telah memainkan alat bernada nyaring yang demikian mampu dan berani, dan demkian luas getaran jiwa yang diakibatkannya seperti apa yang dibaca oleh Muhammad saw, yakni al-Qur’an.”  

Bahasanya yang demikian mempesonakan, redaksinya yang demikian teliti, dan mutiara pesan-pesanya yang demikian agung, telah mengantar kalbu masyarakat yang ditemuinya berdecak kagum, walau nalar sebagian mereka menolaknya. Nah, terhadap yang menolak itu, al-Quran tampil sebagai mu’jizat, sedangkan fungsinya sebagai “hudan” yakni petunjuk kepada seluruh umat manusia. Sekalipun yang memfungsikannya dengan baik sebagai “hudan” hanyalah orang orang yang bertaqwa: “Alif lam mim. Itulah (al-Quran) kitab yang sempurna, tiada keraguan di dalamnya. Ia adalah petunjuk untuk orang orang yang bertakwa (QS al-Baqarah [2]:1-2).

Selain sebagai mu’jizat, al-Quran akan memberikan manfaat kepada siapa saja yang berusaha untuk memberikan perhatian terhadapnya, baik dari membaca, menulis, menghafal, mempelajari, menjaga apalagi mengamalkannya. Beruntunglah orang-orang yang terpilih oleh Allah swt, sebagai orang yang mampu menghafal al-Quran, serta berusaha memelihara nilai-nlai yang tekandung di dalamnya. Menghalalkan apa yang dihalalkan dan mengharamkan yang apa yang diharamkan al-Quran. Kelak dia akan menjadi penghuni surga dan akan bisa memberikan syafa’at atau pertolongan kepada sepuluh orang yang sudah tercatat sebagai ahli neraka.    

BAGI
Artikel SebelumnyaHati Nurani
Artikel BerikutnyaHari Jumat dan Surah Al-Kahfi