Al-Quran, Lailatul Qadar, dan Kultur Kita

0
341 views
http://www.nu.or.id

Oleh ZA Husain Cangkelo

(Peneliti The Nusa Institute Jakarta)

Ia, Al-Quran adalah kalam; ujaran Allah. Ia turun dari langit sebagai wahyu. Turun dari langit ke bumi. “Langit” dan “atas” adalah perlambang keagungan. Allah SWT, Zat sumber datangnya kalam itu diyakini di luar tempo dan tempat. Sedang kata “atas” menunjuk posisi tertentu. Maka, sekali lagi kata “atas” maupun “langit” dimaknai secara konotatif atau metaforis, majazi, melambangkan kemuliaan dan keagungan.

Pada bulan Ramadan, Al-Quran turun sekaligus ke langit dunia lalu secara berangsur diwahyukan sela 24 tahun qamariyah ke bumi. Ia diturunkan pada suatu malam yang mulia, Lailatul Qadar, Malam Kemuliaan. Kemuliaannya melebihi seribu bulan, saking mulianya . Tempo turun yang mulia menunjuk pada kemuliaan kitab yang diturunkan.

Terdapat dua fungsi utama kitab Al-Quran. Fungsi ke dalam (gawwani, internal), sebagai sumber ajaran bagi insan beriman. Fungsi keluar (barrani, eksternal), selaku mukjizat bagi mereka yang ragu atau ingkar.

Di bulan Ramadhan, Al-Quran dibaca secara ta’abbudi, mengharap pahala ibadah; mengharap rida dan perkenan Ilahi. Maka, Al-Quran dibaca sebanyak-banyaknya, bukan ditadabburi dan difahami sedalam-dalamnya, di rumah ataupun sambil iktikaf di balai peribadatan. Faidahnya, menurut ulama, agar memancing pemahaman lebih baik lagi di bulan-bulan lain. Agaknya karena itulah, maka tak jarang kita dengar kabar seorang ulama mengkhatamkan Al-Quran sampai puluhan kali selama bulan suci. Tak heran bila pemahaman mereka teramat mendalam. Sampai-sampai, menulis tafsir lebih dari sekali.

Sebagai mukjizat, artinya meskipun ia dalam kadar surah terpendek, tidak dapat ditandingi oleh ujaran mana pun, untuk selamanya. Surah terpendek dalam Al-Quran terdiri dari tiga ayat, surah Al-Kautsar. Karena tidak seorang atau sekelompok orang pun yang mampu membuat setara dengan surah itu, berarti, tidak seorang pun yang dapat mencipta karya sastra “sependek” tiga ayat sekalipun, yang dapat menandinginya. Selamanya. Subehanallaaah… Ini bukti kebenaran Al-Quran. Sejarah telah membuktikan.

Artinya, umat Islam mempercayai Al-Quran tidak sekadar keyakinan imani. Tetapi juga berdasarkan bukti kebenaran yang empiris. Data empiris itu berasal dari sejarah bahwa tidak seorang pun yang dapat meladeni tantangan kemukjizatan Al-Quran. Andai orang-orang Arab yang kesohor sebagai penyair dan orator ulung itu sanggup, tak sebilah pedang kan mereka hunus tak sebatang lembing kan mereka tajamkan untuk membendung persebaran ayat-ayatnya.

Bagaimanakah gambaran keindahan bahasa Al-Quran itu? Mengapa rasanya berbeda manakala mendengarnya dengan mendengar Barzanji, misalnya? Ya, memang berbeda. Sebab, keindahan Al-Quran adalah keindahan yang multi. Ia indah, ia juga kudus. Ia dapat diakrabi sekaligus memancing haru, takzim, takwa. Maknanya pun multi-level. Andai reaksi subjektif psikologis pembaca dapat diberi tanda warna: afektif, apresiatif (aspek estetika, poetika, stilistika, dst), kognitif, intelektual, saintifik (filosofi, sains, humaniora, dst), dapat dipindai dengan warna, maka akan terlihat betapa kaya warna pembacaan Al-Quran. Keragaman warna pembacaan dapat dilihat dari aneka tafsir yang ada.

Al-Quran datang ke tengah masyarakat yang memiliki budaya oral, mengandalkan pertukaran dan penyebaran informasi secara lisan, hafalan. Lalu, dalam tempo singkat, masyarakat itu bertransformasi ke kultur literal (keaksaraan), menghargai baca-tulis. Belakangan ini, kita menyaksikan mushaf didigitalkan. Sehingga, mushaf dapat diakses dengan perangkat telepon cerdas. Kita dalam kultur digital? Barangkali. Allahu a’lam.[]

ZA Husain Cangkelo adalah peneliti di The Nusa Institute Jakarta dan saat ini sedang merampungkan Doktoral di Program Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta

BAGI
Artikel SebelumnyaBulan yang Terbelah
Artikel BerikutnyaNilai Ikhlas dalam Ibadah