Al-Insaan Fii Al-Qur’an

0
242 views

www.nuansaislam.com/infobukuSetelah Allah swt berkehendak untuk menciptakan Adam sebagai khalifah di muka bumi, namun sebelum jasad Adam terbentuk, Allah meminta pendapat malaikat mengenai kehendaknya itu. Malaikat pun bereaksi dengan mengatakan: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?”. Allah pun kemudian menjawab: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS Al-Baqarah [2]: 30)

Selanjutnya, setelah jasad Adam selesai diciptakan, Allah memerintahkan kepada malaikat (makhluk yang Allah ciptakan dari cahaya [nuur/نور]) untuk sujud kepada Adam. Lalu malaikat pun sujud (QS Al-A’raaf [7]: 11). Namun, ada makhluk ciptaan Allah lainnya yang menolak untuk sujud kepada Adam, yaitu Iblis. Iblis menolak karena ia merasa lebih mulia daripada Adam. Ia diciptakan dari api (naar/ نار), sedangkan Adam dari tanah (thiin/ طين). Begitulah setidaknya yang dikisahkan dalam al-Qur’an mengenai awal penciptaan manusia ke alam ini.

 

Di dalam al-Qur’an, Allah menyebut manusia dengan beberapa nama, yaitu al-insaan, an- naas, banii Aadam, dan al-basyar. Manusia disebut al-insaan karena dia sering menjadi pelupa sehingga diperlukan teguran dan peringatan. Kata al-insaan itu sendiri, menurut Quraish Shihab dalam bukunya Tafsir Al Qur’anul Karim, terambil dari akar kata yang salah satu artinya berarti lupa.

 

Sedangkan kata an-naas (terambil dari kata an-naws yang berarti gerak; dan ada juga yang berpendapat bahwa ia berasal dari kata unaas yang berarti nampak) digunakan Al-Qur’an dalam arti kata “jenis manusia” (misalnya pada QS Al-Hujuraat [49] : 13), atau “sekelompok tertentu dari manusia” (misalnya pada QS Ali ‘Imraan [3] : 173).

 

Manusia disebut sebagai banii Aadam karena dia menunjukkan pada asal-usul yang bermula dari nabi Adam as sehingga dia bisa tahu dan sadar akan jati dirinya. Misalnya, dari mana dia berasal, untuk apa dia hidup, dan kemana ia akan kembali.

 

Manusia juga disebut al-basyar. Kata al-basyar terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Kata ini digunakan untuk menekankan kepada hal-hal yang bersifat jasmaniyah dan naluriyah, misalnya manusia itu bersifat tampak dan bisa dilihat, diraba, dan hal-hal yang bersifat fisik lainnya seperti memerlukan makan, minum, serta berkembang biak.

 

Buku Al-Insaan fii al-Qur’an al-kariim: min al-bidaayah ilaa al-Nihaayah karya `Abd Al-Kariim Al-Khathiib ini mencoba menjelaskan secara detail hal ihwal kehidupan manusia mulai dari kelahirannya, kehidupannya di dunia, sampai kehidupan yang akan dialaminya setelah kematiannya, seperti alam Barzakh, Kiamat, dan seterusnya.

 

Untuk info selengkapnya mengenai buku ini, silahkan mengunjungi IDLA (Ikhlas Digital Library of Al-Qur’an), Jl. K.H. Fakhruddin no.6 Tanah Abang Jakarta Pusat, telp. 021-3912369.

 

 

 

Judul Buku : الإنسان فى القرآن الكريم ؛ من البداية إلى النهاية

                   Al-Insaan fii al-Qur’an al-kariim: min al-bidaayah ilaa al-Nihaayah

 

Pengarang : `Abd Al-Kariim Al-Khathiib

Penerbit     : Daar al-Fikr al-`Arabiy

Tahun         : 1979

Bahasa       : Arab

Volume       : 491 halaman

Dimensi      : 17×24 cm

BAGI
Artikel SebelumnyaKaramah
Artikel BerikutnyaMenerima Kritik Anak