Al-Haya-u (Malu)

0
67 views

Oleh Mulyana, Lc.

 Menurut bahasa berarti perubahan, kehancuran perasaan atau duka cita yang terjadi pada jiwa manusia karena takut di cela. Adapun asal kata al-hayaa u (malu) berasal dari kata al-hayaatu (hidup), juga berasal dari kata al-hayaa (air hujan).

Sedangkan menurut istilah adalah akhlaq yang sesuai dengan sunnah yang membangkitkan fikiran untuk meninggalkan perkara yang buruk sehingga akan menjauhkan manusia dari kemaksiatan dan menghilangkan kemalasan untuk menjalankan hak Allah.

Keutamaan Malu
Pertama, Malu pada hakikatnya tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan. Malu mengajak pemiliknya agar menghias diri dengan yang mulia dan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang hina.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ (متفق عليه) وفي رواية مسلم : اَلْـحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ.

“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.” (Muttafaq ‘alaihi)
Dalam riwayat Muslim disebutkan,“Malu itu kebaikan seluruhnya.” (HR. Muslim).
Kedua, Malu adalah akhlak para Nabi dan orang-orang sholeh

Para umat terdahulu sebelum di utusnya Nabi Muhammad saw sudah mengenal dan menyadari bahwa sifat malu itu baik dan merupakan ajaran semua para Nabi terdahulu. Nabi sawbersabda:

إن مما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى : إذا لم تستح فاصنع ما شئت

Sesungguhnya diantara hal yang sudah diketahui manusia yang merupakan perkataan para Nabi terdahulu adalah perkataan: ‘jika engkau tidak punya malu, lakukanlah sesukamu’” (HR. Bukhari).

Bahkan Nabi saw pun dikenal sebagai orang yang sangat pemalu. Sahabat Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ الْعَذْرَاءِ فِـيْ خِدْرِهَا.

“Nabi Shallallahu \’alaihi wa sallam lebih pemalu daripada gadis yang dipingit di kamarnya.” (HR. Bukhâri ).

Dan sifat malu ini juga merupakan sifatnya orang-orang shalih. Lihatlah bagaimana Nabi saw memuji Utsman bin ‘Affan karena ia dikenal dengan sifat pemalunya sampai-sampai Malaikat pun malu kepada beliau. Nabi bersabda,

ألا أستحي من رجلٍ تستحي منه الملائكةُ

Bukankah aku selayaknya merasa malu terhadap seseorang (Utsman) yang Malaikat saja merasa malu kepadanya?” (HR. Muslim).
Ketiga, Malu Adalah Cabang Keimanan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ.

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘Lâ ilâha illallâh,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman.”( HR. Bukhâri dan Muslim).
Keempat, Allah swt Cinta Kepada Orang-Orang Yang Malu. Rasulullah saw bersabda,

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيْرٌ يُـحِبُّ الْـحَيَاءَ وَالسِّتْرَ ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ.
 

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Pemalu, Maha Menutupi, Dia mencintai rasa malu dan ketertutupan. Apabila salah seorang dari kalian mandi, maka hendaklah dia menutup diri.” (HR.Abû Dawud, Nasâ-I dan Ahmad).
Kelima, Malu Adalah Akhlak Para Malaikat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ أَسْتَحْيِ مِنْ رُجُلٍ تَسْتَحْيِ مِنْهُ الْـمَلاَ ئِكَةُ.

“Apakah aku tidak pantas merasa malu terhadap seseorang, padahal para Malaikat merasa malu kepadanya.”( HR.Muslim)
Keenam, Malu Adalah Akhlak Islam.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا وَخَلُقُ اْلإِسْلاَمِ الْـحَيَاءُ.

“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.”( HR.Ibnu Mâjah).
Ketujuh, Malu Sebagai Pencegah Pemiliknya Dari Melakukan Maksiat.
Ada salah seorang Shahabat Radhiyallahu anhu yang mengecam saudaranya dalam masalah malu dan ia berkata kepadanya, “Sungguh, malu telah merugikanmu.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْهُ ، فَإِنَّ الْـحَيَاءَ مِنَ الإيْمَـانِ.

“Biarkan dia, karena malu termasuk iman.”( HR. Bukhâri dan Muslim).
Kedelapan, Malu Senantiasa Seiring Dengan Iman, Bila Salah Satunya Tercabut Hilanglah Yang Lainnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ وَ اْلإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِـيْعًا ، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلاَ خَرُ.

“Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya.”( HR. Hâkim dan Thabrâni).
Kesembilan, Malu Akan Mengantarkan Seseorang Ke Surga.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَ َاْلإِيْمَانُ فِـي الْـجَنَّةِ ، وَالْبَذَاءُ مِنَ الْـجَفَاءِ وَالْـجَفَاءُ فِـي النَّارِ.

“Malu adalah bagian dari iman, sedang iman tempatnya di Surga dan perkataan kotor adalah bagian dari tabiat kasar, sedang tabiat kasar tempatnya di Neraka.”( HR.Ahmad dan Tirmidzî).

Jenis-Jenis Malu

Terdapat banyak jenis-jenis malu, diantaranya :

Pertama, Malu kepada Allah swt

Malu kepada Allah swt adalah jalan untuk menegakkan segala bentuk Ketaatan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Karena jika seorang hamba takut di cela Allah swt, tentunya ia tidak akan menolak ketaatan dan tidak pula mendekati kemaksiatan. Oleh karena itulah malu merupakan sebagian dari iman.

Kedua, Malu kepada Manusia,
Termasuk jenis malu adalah malunya sebagian manusia kepada sebagian yang lain. Sebagaimana malunya seorang anak kepada orangtuanya, isteri kepada suaminya, orang bodoh kepada orang pandai, serta malunya seorang gadis untuk terang-terangan menyatakan ingin menikah.

“Dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, bahwasannya ia berkata, ‘wahai Rasulullah Shollallahu\’alaihi Wa Sallam, sesungguhnya gadis itu malu. Maka Rasulullah Shollallahu\’alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Persetujuannya diketahui dari diamnya’”.

Ketiga, Malunya seseorang terhadap dirinya,
Dan ini salah satu bentuk malu yang di rasakan oleh jiwa yang terhormat, tinggi dan mulia, sehingga ia tidak puas dengan kekurangan , kerendahan dan kehinaan. Karena itu engkau akan menjumpai seseorang yang merasa malu kepada dirinya sendiri, seolah-olah di dalam raganya terdapat dua jiwa, yang satu merasa malu kepada yang lain.

Keempat, Rasa malu terhadap malaikat, khususnya malaikat qariin (HR. Muslim), dan para malaikat penjaga, pengawas dan pencatat amal manusia.

Kelima, Rasa malu terhadap saudara-saudara kita yang shaleh dari kalangan bangsa jin, dimana mereka diberi kemampuan melihat kita, sementara kita tidak bisa menyaksikan mereka (lihat QS. Al-A’raaf [7]: 27).

Keenam, Rasa malu terhadap sesama manusia, khususnya orang-orang shaleh diantara mereka dan orang-orang dekat yang mengenal kita.

Ketujuh, Rasa malu terhadap seluruh makhluk Allah swt yang lainnya, dimana selain manusia dan jin, semuanya pada taat dan patuh kepada Allah swt, sehingga sepatutnyalah kita merasa malu jika mau berlaku durhaka dan maksiat.

Perkara-Perkara yang Tidak Termasuk Malu

Pertama, Tidak berkata atau tidak terang-terangan dalam kebenaran,
Allah swt berfirman,
“… dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar …” (QS. Al-Ahzaab[33] : 53)

Kedua, Malu dalam mencari ilmu’
‘Aisyah berkata,
“Sebaik-baik wanita adalah para wanita Anshar. Rasa malu tidak menghalangi mereka mendalami ilmu agama”(Atsar shohih riwayat Bukhori)

Perkara-Perkara yang Dapat Meningkatkan Rasa Malu

Pertama, Muraqabatullaah (merasa terus diawasi Allah swt),
Kapan saja seorang hamba itu merasa Allah swt sedang melihat kepadanya dan berada dekat dengannya, ia akan mendapatkan ilmu ini (muraqabatullaah) karena rasa malunya kepada Allah swt.

Kedua, Mensyukuri nikmat Allah swt,
Sifat malu akan muncul dengan memikirkan nikmat Allah swt yang tidak terbatas, pada hakikatnya orang yang berakal akan merasa malu untuk menggunakan nikmat Allah swt untuk berbuat maksiat kepadanya.

Faktor-faktor penyebab hilang dan lemahnya rasa Malu

Pertama, Lemahnya aqidah dan rasa iman kepada Allah swt, karena sebagaimana telah disebutkan diatas bahwa, rasa malu adalah pasangan, buah dan konsekuensi iman, dimana antara keduanya tidak bisa dipisahkan.
Kedua, Banyak dan berulang-ulangnya tindak kemaksiatan yang menumpulkan iman dan membebalkan rasa malu.
Ketiga, Marak dan tersebarluasnya berbagai tindak kemungkaran secara terbuka dan vulgar di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Sehingga setiap pelaku kemaksiatan tidak lagi merasa malu karena yang lainnya dimana seharusnya dia merasa malu terhadapnya juga melakukan kemaksiatan yang sama seperti dia, atau bahkan lebih, juga tanpa rasa malu lagi. Dan jika demikian, biasanya kaedah-kaedah dan norma-norma jadi jungkir balik, dimana yang tabu menjadi tidak ditabukan lagi, dan yang semestinya tidak tabu malah dianggab tabu atau aneh atau nyeleneh dan seterusnya.
Keempat, Berada dan bergaul di tengah-tengah komunitas yang lemah atau bahkan hilang rasa malunya.
Kelima, Lemah atau hilangnya kontrol sosial berupa amar bilma’ruf dan nahi ‘anil munkar.

Problematika Masyarakat yang Meninggalkan Rasa Malu

Dalam Islam, rasa malu termasuk dalam kategori al-akhlâq al-mahmûdah (akhlaq terpuji). Karena itulah Rasûlullâh e mengatakan, “Seseorang tidak akan mencuri bila ia beriman, tidak akan berzina bila ia beriman.” Bahkan Rasûlullâhjuga menjelaskan qalîl al-hayâ’ (sedikit dan kurangnya malu) akan menyebabkan nilai ibadah menjadi hilang.

Saat ini, bila kita cermati di berbagai media, baik itu elektronik maupun cetak, kita akan dapati bahwa realitas kehidupan  masyarakat  Indonesia  sudah mulai kehilangan rasa malu, bahkan malu sudah menjadi barang langka di negeri ini. Rasa malu tidak hanya terkikis, bahkan habis pada semua level masyarakat Indonesia.

Seorang anak tidak punya rasa malu berkata-kata kasar dan tidak sopan kepada orang tuanya. Seorang bapak yang semestinya menjadi teladan, tidak malu mempertontonkan pertengkaran besar di hadapan anaknya. Kasus seorang ayah memperkosa anaknya, anak membunuh orang tuannya, pelajar tidak malu mencontek untuk meningkatkan nilai ujiannya atau polisi yang mau disogok, adalah karena hilangnya rasa malu. Perempuan dengan bangganya mempertontonkan auratnya dihadapan publik juga akibat telah hilangnya rasa malu. Seorang hakim yang sepatutnya menegakkan keadilan, tidak punya rasa malu lagi menerima titipan uang dari terdakwa untuk menghapus dakwaan atau mengurangi kadar hukumannya di pengadilan. Beginilah kondisi yang terjadi di negeri kita, dari rakyat kecil sampai kaum elit, dari komunitas keluarga sampai negara, dari anak-anak sampai orang dewasa, dari aparatur di tingkat desa sampai pemerintahan pusat, sudah mulai luntur budaya malu yang seharusnya menjadi tameng yang dapat menjaga kemuliaan pribadi seseorang.  Sebab, akibat tiadanya rasa malu, individu, kelompok, bahkan suatu bangsa akan hancur, sebagaimana sabda Rasûlullâh, “Jika Allâh hendak menghancurkan suatu kaum (negeri), maka terlebih dahulu dilepaskannya rasa malu dari kaum itu” (HR. Bukhâri dan Muslim).

Kesimpulan

Sifat malu itu terpuji dan merupakan bagian dari iman. Seorang muslim hendaknya memiliki sifat ini, sehingga ia terhindar dari perbuatan-perbuatan tercela dan dosa. Namun jangan sampai sifat malu menghalangi seseorang untuk menuntut ilmu, melakukan yang haq serta menjauhi kesalahan dan dosa.

Referensi :

1.       Mafaatiihul Fiqhi Fid Diin, Syaikh Musthafa Al ‘Adawi.

2.      Akhlâq al-Mu’min, Amru Khalid, (Terj.),  Buku Pintar Akhlaq, Memandu Anda Berkepribadian Muslim dengan Lebih Asyik, Lebih Otentik.

3.      Fat-hu Al-Qawiyy Al-Matin fi Syarh al-Arba’in wa Tatimm al-Khamsin, Abdulmuhsin Al-Abbad Al-Badr.

4.      Siyar A’lam an-Nubala. Muhammad bin Ahmad Adz-Dzahabi.

5.      Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Bahjah an-Nazhirin Syarh Riyadh ash-Shalihin.

6.      Raudhatul ‘Uqalâ wa Nuzhatul Fudhalâ\’.

7.      Madârijus Sâlikîn.

8.      al-Haya\’ fî Dhau-il Qur-ânil Karîm wal Ahâdîts ash-Shahîhah.