Al-Ghazali Menggugat Kausalitas

0
15 views

Sekelompok anak sedang bermain di sebuah tanah lapang. Salah seorang di antara mereka tiba-tiba menangis seperti kesakitan. Lalu kawannya bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Mungkin yang bertanya hanya sekadar ingin tahu penyebabnya; mungkin juga ingin menawarkan solusi jika sudah tahu penyebabnya. Namun yang pasti, dia sedang mencari penyebab kejadian menangis itu bisa terjadi. Sang anak yang bertanya tidak harus pernah belajar teori kausalitas (sebab-akibat) hanya untuk mengeluarkan pertanyaan “mengapa”. Sepertinya, di kepala anak itu sudah terset sebuah cara berfikir bahwa setiap kejadian bisa dipahami jika ditelusuri penyebabnya. Dan penyebab itu tidak selalu sesuatu yang sakral.

Kejadian di atas adalah peristiwa sehari-hari dan karena itu, sederhana. Fenomena seperti ini bisa menjadi persoalan yang rumit ketika persoalan teologis merapat. Teologi selalu mengandaikan adanya yang sakral dan yang sakral itu harus mengisi semua ruang, termasuk ruang di antara sebab dan akibat atau bahkan mengisi kedua-duanya. Yang sakral bisa berkurang kesakralannya jika dia tidak mampu mengisi semua ruang. Dampaknya bisa menjadi sangat serius. Mengalpakan yang sakral bisa berdampak teologis dan dianggap menciderai kekuasaan Ilahi. Ini problematika kausalitas. Sekelompok anak tadi bukan masalah karena mereka masih anak-anak; belum ada kewajiban bagi mereka untuk memahami dan meyakini yang sakral.

Hukum kausalitas (sebab-akibat) pernah menjadi perdebatan panas dalam teologi Islam—juga filsafat Islam—ketika al-Ghazali membongkar kerancuan para filsuf lewat karyanya, Tahâfut al-Falâsifah (Kerancuan Para Filsuf). Puluhan buah pemikiran para filsuf, khususnya para filsuf peripatetik, dicecar oleh seorang al-Ghazali. Sebenarnya, dari puluhan kritik al-Ghazali itu, keberatan utama al-Ghazali hanya pada tiga buah pemikiran filsuf yang dianggapnya mengandung kekufuran. Salah satunya adalah tentang konsep kausalitas yang di masa belakangan dikritik balik oleh Ibnu Rusyd lewat karyanya, Tahâfut al-Tahâfut (Kerancuan Kitab Kerancuan).

Bagi al-Ghazali, di setiap kejadian, selalu ada Tuhan (sakral) yang terlibat. Al-Ghazali mencontohkan terbakarnya kapas yang bukan karena korek api yang menyala tetapi karena kehendak Allah. Bukan korek api yang menyala yang menjadi sebab utama bagi terbakarnya kapas, tetapi kehendak Allah. Mengalpakan Tuhan dalam kasus seperti ini berakibat fatal, bagi seorang al-Ghazali. Tuhan terlibat penuh bahkan sebelum terbakarnya korek api, apalagi terbakarnya kapas. Pemahaman seperti ini yang ditolak oleh Ibnu Rusyd yang bersikeras bahwa penyebabnya adalah korek api yang menyala.

Sepintas tampak bahwa cara berfikir al-Ghazali adalah cara berfikir yang sederhana. Manusia tidak harus bersibuk ria mencari penyebab segala hal lewat pemikiran mendalam dan berbagai macam teori. Cukup menyimpulkan bahwa semua sebab adalah Allah. Selesai perkara. Ancaman kekafiran pun tidak akan pernah datang. Benarkah sederhana? Seorang kawan mencoba berfikir sederhana dan berkata: “Jika teori al-Ghazali diterapkan, maka semua buku-bukuk yang dulunya dianggap buku ilmu kimia, fisika, matematika dan lain-lain akan menjadi buku teologi.”

Namun bisa saja justeru cara berfikir Ibnu Rusyd yang sebenarnya sederhana. Sesedarhana cara berfikir sekelompok anak yang bermain lalu salah seorang di antara mereka tiba-tiba menangis dan yang lain bertanya: “Mengapa?”.