Agenda Sebelum Mati (4)

0
42 views

Hidup sesudah mati yang kita yakini adanya membuat kita harus mengefektifkan perjalanan hidup di dunia yang tinggal sisa sehingga waktunya tidak banyak. Karena itu yang kita inginkan adalah adanya pengaruh yang baik dalam kehidupan di akhirat dari kehidupan kita di dunia ini, karenanya agenda sebelum mati yang harus kita laksanakan, yakni Menyiapkan Aliran Pahala.

Mati merupakan saat berhentinya manusia dari beramal, amal yang baik maupun amal yang buruk. Meskipun demikian, dosa dan pahala tetap bisa ia dapatkan dari apa yang dilakukannya semasa hidup di dunia. Oleh karena itu amat menyenangkan bila kita sudah mati, tapi masih mendapatkan pahala yang terus mengalir. Karenanya kesempatan kita hidup di dunia ini seharusnya bisa kita manfaatkan untuk membuat aliran pahala dengan melakukan hal-hal penting.

 

1.  Dakwah

Dakwah adalah mengajak dan menyeru manusia agar beriman dan taat kepada Allah swt. Hakikat dakwah adalah mengubah manusia dari keadaan yang apa adanya seperti bodoh, malas, bakhil dan sebagainya kepada yang seharusnya seperti berilmu, rajin, dermawan dan sebagainya. Manakala dakwah kita lakukan dan orang yang kita dakwahi melakukan amal yang shaleh, tentu ia mendapat pahala dan kitapun akan mendapatkan pahala yang terus mengalir meskipun kita sudah mati, Rasulullah saw bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرِ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِفَاعِلِهِ.

Barangsiapa yang menunjukkan pada suatu kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang mengerjakannya (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud dan Tirmudzi).

2.  Mengajarkan ilmu

Salah satu keharusan orang yang berilmu adalah mengajarkan ilmunya itu agar orang yang diajarkan bisa melakukan berbagai kebaikan yang membuatnya memperoleh pahala. Ilmu yang dimaksud bukanlah ilmu yang hanya bersifat keagamaan, tapi ilmu apa saja yang baik dan bisa diamalkan dalam kebaikan seperti ilmu perdagangan dan ketrampilan membuat sesuatu sehingga orang yang diajarkan bisa berusaha mencari rizki secara halal dan tentu hal itu mendatangkan pahala tidak hanya bagi yang berusaha, tapi juga bagi yang mengajarkan ilmu tersebut. Karena itu, semakin banyak orang yang melakukan kebaikan dengan sebab ilmu yang kita ajarkan, semakin banyak pahala yang mengalir kepada kita meskipun kita sudah wafat tanpa dikurangi sedikitpun pahala orang tersebut, dalam hadits Rasulullah saw bersabda:

مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا فَلَهُ أَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الْعَامِلِ شَيْئُ

Barangsiapa mengajarkan ilmu, maka dia memperoleh pahala orang yang mengamalkannya dan pahala orang yang mengamalkannya tidak berkurang sedikitpun (HR. Ibnu Majah).

3.  Giat Dalam Berjihad

Berjuang di jalan Allah swt adalah menyebarkan dan menegakkan nilai-nilai atau ajaran yang datang dari Allah swt. Perjuangan seperti ini merupakan sesuatu yang amat mulia sehingga seadainya seseorang mati saat sedang giat-giatnya berjuang di jalan Allah swt, maka kematiannya akan mengalirkan pahala baginya karena dengan sebab perjuangannya itu, ajaran Islam masih terus tersebar dan ditegakkan di muka bumi ini, Rasulullah saw bersabda:

أَرْبَعٌ تَجْرِى أُجُوْرَهُمْ بَعْدَ الْمَوْتِ: مَنْ مَاتَ مُرَابِطًا فِى سَبِيْلِ اللهِ وَمَنْ عَلَّمَ عِلْمًاأَجْرَى لَهُ عِلْمُهُ وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ  فَأَجْرُهَا لَهُ مَاوُجِدَتْ وَرَجُلٌ تَرَكَ وَلَدًا صَالِحًا يَدْعُوْلَهُ

Ada empat perkara yang mengalir pahalanya setelah pelakunya meninggal dunia, yaitu, orang yang meninggal selagi giat-giatnya berjuang di jalan Allah, orang yang mengajarkan ilmunya, senantiasa mengalir pahala baginya, orang yang memberikan sadaqah  akan mengalir shadaqah di mana saja shadaqah itu terletak dan orang yang meninggalkan anak yang shaleh dan anak tersebut selalu berdo’a untuk kebahagiaan. (Hr. Ahmad dan Thabrani).

 

4.  Mewakafkan Harta

Memiliki banyak harta merupakan salah satu kesenangan manusia, karena itu Allah swt mempersilahkan manusia mencarinya sebanyak mungkin secara halal, tapi kita berkewajiban mengeluarkan sebagian kecilnya untuk kepentingan Islam serta umatnya. Dalam konteks inilah kita dianjurkan untuk mewakafkan harta kita sehingga akan kita dapatkan pahala yang terus mengalir meskipun kita sudah wafat sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas. Diantara bentuk mewakafkan harta misalnya membuat aliran sungai atau sumur untuk memenuhi kebutuhan air bagi konsumsi, mencuci dan pertanian, membangun masjid meskipun kita tidak bisa seluruhnya tapi hanya bagian kecilnya saja, mewakafkan Al-Quran agar orang membacanya serta bahan bacaan lain dalam rangka memahami Al Quran dan sebagainya, hal ini tercermin dalam hadis Rasulullah saw yang bersabda:

سَبْعٌ يَجْرِى لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ وَهُوَ فِى قَبْرِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ: مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا أَوْ أَجْرَى نَهْرًا أَوْ حَفَرَ بِئْرًا أَوْ غَرَسَ نَخْلاً أَوْ بَنَى مَسْجِدًا أَوْ وَرَّثَ مُصْحَفًا أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُلَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ

Tujuh amal yang pahalanya berlaku bagi hamba, padahal ia di dalam kubur sesudah meninggal: orang yang mengajarkan ilmu, orang yang mengalirkan sungai, orang yang menggali sumur, orang yang menanam pohon korma, orang yang membangun masjid, orang yang mewariskan mushaf dan orang yang meninggalkan anak yang memohonkannya ampunan sesudah matinya (HR. Bazzar dari Anas ra).

Bila harta yang dimiliki belum diinfakkan dalam kebaikan dan pemiliknya mencapai kematian, maka saat kematian datang itulah ia amat bermohon agar ditunda kematiannya agar bisa bersedekah, namun hal itu sudah tidak mungkin lagi sebagaimana firman Allah swt:  Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. (QS Al Munafiqun [63]:9-11)

5.  Menanam Pohon

Kita dan masyarakat dunia menyadari betapa penting keberadaan pohon agar lingkungan hidup yang kita diami tetap asri dan lestari. Banyak keuntungan yang kita peroleh; misalnya penghijauan, air hujan bisa menyerap lebih banyak ke dalam tanah sebagai cadangan air, udara tidak terlalu panas, buah yang dihasilkan serta kayu yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia. Anjuran menanam pohon ini terdapat dalam hadits Nabi saw:

 

إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِى يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيْلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَلاَّ تَقُوْمَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

Jika hari kiamat datang dan pada tangan seseorang diantara kamu terdapat sebuah bibit tanaman, jika ia mampu, jika ia mampu sebelum datangnya kiamat itu, maka hendaklah ia menanamnya (HR. Ahmad dan Bukhari)

Manakala pohon yang ditanam itu menghasilkan buah yang banyak, maka pahala untuk orang yang menanam pohon itu akan lebih besar lagi, Rasulullah saw bersabda:

مَامِنْ رَجُلٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلاَّ كَتَبَ اللهُ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ قَدْرَ مَايَخْرُجُ مِنْ ثَمَرِ ذَالِكَ الْغَرْسِ

Tidak seorangpun menanam tanaman, kecuali ditulis baginya pahala sesuai dengan buah yang dihasilkan oleh tanaman itu (HR. Ahmad).

            Nilai sedekah dari pohon yang ditanam dan buah yang dihasilkannya merupakan pahala yang mengalir bagi orang yang menanamnya meskipun ia sudah meninggal dunia, Rasulullah saw bersabda:

مَامِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلاَّ كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ. وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ. وَمَا أَكَلَ السَّبْعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ. وَمَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ. وَلاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ

Tidaklah seorang muslim menanam tanaman kecuali dia mendapat pahala sedekah dari apa yang bisa dimakan dari tanaman itu. Apa yang dicuri dari tanaman itu adalah sedekah bagi penanamnya, apa yang dimakan oleh binatang buas dari tanaman itu adalah sedekah bagi penanamnya, apa yang dimakan oleh oleh burung adalah sedekah bagi penanamnya, dan tidaklah tenaman itu dikurangi (dirusak) oleh serangga melainkan menjadi sedekah bagi penanamnya (HR. Muslim dari Jabir ra)

6.  Meninggalkan Anak Yang Shaleh

            Tiap orang yang menikah, pasti ingin punya anak, dan tiap orang tua yang muslim, pasti ingin agar anaknya menjadi anak yang shaleh. Karenanya anak harus dididik dengan sebaik-baiknya sehingga bila anak menjadi shaleh dengan sebab didikan orang tuanya, maka pahala sang anakpun akan mengalir kepada orang tuanya itu, dan bila seseorang tidak punya anak, ia bisa mendidik anak orang lain yang kemudian disebut dengan anak didik, Rasul saw bersabda:

 إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ أَوْ عِلْمٌ يُنْفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُوْ لَهُ

Jika seorang anak Adam meninggal dunia, terputuslah seluruh amalannya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya (HR. Bukhari dan Muslim).

 

            Diantara maksud keharusan orang tua untuk mendidik anak adalah agar sang anak memiliki adab atau akhlak yang mulia, ini merupakan sesuatu yang amat ditekankan oleh Rasulullah saw sebagaimana disebutkan dalam haditsnya:

أَدِّبُوْا أَوْلاَدِكُمْ وَأَحْسِنُوا أَدَبَهُمْ

Didiklah anak-anakmu dan perbagus adab mereka (HR. Ibnu Majah)

           

Dengan demikian, amat bahagia seseorang yang meninggal dunia bila aliran pahala sudah disiapkannya sejak dalam kehidupan di dunia ini.

Drs. H. Ahmad Yani