Agenda Sebelum Mati (3)

0
40 views

Satu demi satu hal-hal yang harus kita lakukan sebagai muslim memang harus kita lakukan, sedangkan hal-hal yang harus kita tinggalkan harus kita jauhi sebelum kematian betul-betul terjadi kepada kita sehingga tidak ada penyesalan dalam kehidupan sesudah kematian. Selain membayar utang, menunaikan amanah dan memperkuat silaturrahim yang sudah kita bahas pada tulisan terdahulu, ada lagi agenda yang harus kita tunaikan sebelum kita mati.

     1.   Taubat

Surga merupakan tempat yang suci dan hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang suci. Karena itu, bila seseorang ingin masuk ke dalam surga, janganlah ia mati dalam keadaan bergelimang dengan dosa. Untuk itu, setiap manusia harus bertaubat sebelum mencapai kematian. Taubat adalah kembali kepada Allah, sedangkan orang yang berdosa adalah orang yang menjauhi Allah dengan segala ketentuan-Nya. Karena kita tidak tahu kapan kematian akan datang kepada kita dan kita menyadari bahwa kematian itu bisa datang kapan saja, maka taubat harus kita lakukan sesegera mungkin, jangan ditunda besok, pekan depan, bulan depan, tahun depan apalagi kalau ditunda hingga bila usia kita mencapai tua, hal ini karena belum tentu kita bisa hidup sampai tua, Allah swt berfirman: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (QS Ali Imran [3]:133).

Manakala kita sudah bertaubat, maka kita akan menjadi manusia yang dicintai Allah swt, ini tentu sangat kita harapkan, sebab jangankan kecintaan dari Allah swt Yang Maha Kuasa, dicintai oleh sesama manusia saja sangat kita dambakan. Allah swt berfirman: Sesunggunya Allah mencintai orang yang bertaubat dan mensucikan diri (QS Al Baqarah [2]:222).

Di dalam suatu hadits, Rasulullah saw bersabda yang berkaitan dengan dicintainya orang yang bertaubat oleh Allah swt:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ الْمُفْتَتَنَ التَّوَّابَ

Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba mukmin yang terjerumus dosa tetapi bertaubat (HR. Ahmad).

Rasulullah saw juga menggambarkan bagaimana kecintaan Allah kepada orang yang bertaubat dalam satu haditsnya:

اَللهُ أَفرحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيْرِهِ وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضٍ فَلاَةٍ

Sesungguhnya Allah lebih suka menerima taubat seorang hamba-Nya, melebihi dari kesenangan seseorang yang menemukan kembali dengan tiba-tiba untanya yang hilang daripadanya di tengah hutan (HR. Bukhari dan Muslim).

Disamping itu, dalam konteks kecintaan Allah swt kepada orang yang bertaubat, Dia lebih mencintai lagi bila yang bertaubat itu adalah seseorang yang masih tergolong muda, Rasulullah saw bersabda:

مَامِنْ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الشَّبَابِ التاَّ ئِبِ

Tiada sesuatu yang lebih disukai Allah daripada seorang pemuda yang bertaubat (HR. Ad Dailami).

Keinginan kita untuk bertaubat harus diwujudkan dengan taubat yang sebenar-benarnya, yakni dengan memahami dan menyadari bahwa kita telah melakukan kesalahan, menyesali kesalahan itu, bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan itu, menyatakan permintaan maaf, dan membuktikan kehidupan yang lebih baik. Bila hal ini sudah kita laksanakan, niscaya Allah swt memberikan tiket kepada kita untuk bisa masuk ke dalam surga, Allah swt berfirman: Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai (QS At Tahrim [66]:8).

Dengan demikian, amat menyenangkan bagi siapa saja yang wafat bila taubat yang sungguh-sungguh sudah dilakukan karena selain dosanya telah diampuni, Allah swt amat mencintainya sehingga iapun mendapat tempat yang istimewa di sisi-Nya.

2.   Menginfakkan Harta

          Dalam hidup ini kita sering sekali diingatkan untuk bersedekah atau berinfak dengan harta yang kita miliki untuk keluarga dan orang lain serta perjuangan di jalan Allah swt karena hal ini merupakan salah satu sifat orang yang bertaqwa, baik saat harta kita sedikit apalagi banyak. Namun ajakan untuk berinfak tidak selalu kita sambut dengan semangat, ada kalanya karena kita kikir atau bakhil dan begitu sayang pada harta maupun karena hawa nafsu kita menggunakan dan menikmati harta hanya untuk kesenangan diri dan keluarga.

          Berinfak atau mengorbankan harta untuk kepentingan orang lain dan berbagai kebaikan tidaklah dimaksudkan untuk mengurangi harta, bahkan sudah dijamin bahwa harta kita tidak berkurang hanya karena infak atau sedekah, tapi justeru malah bertambah karena keberkahannya. Karena itu, manakala seseorang tidak mau berinfak dalam kebaikan, penyesalan yang amat dalam akan dirasakannya, ia minta ditangguhkan saat kematiannya, namun hal itu tidak mungkin, ini dinyatakan dalam firman Allah swt: Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, Mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan Aku dapat bersedekah dan Aku termasuk orang-orang yang saleh?.” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya dan Allah Maha mengenal apa yang kamu kerjakan. Al Munafikun [63]:10-11).

          Salah satu faktor yang menyebabkan seseorang tidak mau berinfak adalah karena ia suka bermegah-megahan dengan harta yang dimiliki sehingga menjadi sombong dengan harta itu, inilah yang membuat manusia lalai dengan harta yang dimilikinya dan terlambat menyadari hal ini membuatnya lebih menyesal lagi, penyesalan yang amat dalam, Allah swt berfirman: Bermegah-megahan Telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), Dan janganlah begitu, kelak kamu akan Mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (QS At Takatsur [102]:1-8).

Manakala seseorang tidak mau menginfakkan hartanya untuk digunakan di jalan Allah, lalu ia menimbun hartanya sekadar untuk memperkaya diri, maka orang tersebut akan memperoleh akibat di akhirat yang sangat mengerikan, Allah swt berfirman: Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka, (lalu dikatakan) dikatakan kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu” (QS At Taubah [9]:34-35).

Dalam hadits riwayat Bukhari, Anas bin Malik ra berkata: Abu Thalhah adalah orang yang paling banyak hartanya dari kalangan Anshar di kota Madinah berupa kebun kurma dan harta benda yang paling dicintainya adalah Bairuha’ (sumur yang ada di kebun itu) yang menghadap ke masjid, Rasulullah saw sering memasuki kebun itu dan meminum airnya yang baik.

Ketika turun firman Allah swt: “Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai” (QS Ali Imran: 92), Abu Thalhah mendatangi Rasulullah saw lalu berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha’ itu dan aku menshadaqahkannya di jalan Allah dengan berharap kebaikan dan simpanan pahala di sisi-Nya, maka ambillah wahai Rasulullah sebagaimana petunjuk Allah kepadamu.”

Rasulullah saw kemudian bersabda: “Wah, inilah harta yang menguntungkan, inilah harta yang menguntungkan. Sungguh aku sudah mendengar apa yang kamu niatkan dan aku berpendapat sebaiknya kamu shadaqahkan buat kerabatmu.”

Maka Abu Thalhah berkata: “Aku akan laksanakan wahai Rasulullah. Maka Abu Thalhah membagi untuk kerabatnya dan anak-anak pamannya.”

          Dengan demikian, kematian dan hidup sesudahnya menjadi amat menyenangkan bila apa yang harus kita lakukan sudah kita lakukan dalam kehidupan di dunia ini sebelum kematian betul-betul terjadi pada kita.

Drs. H. Ahmad Yani

Email: ayani_ku@yahoo.co.id

BAGI
Artikel SebelumnyaGurutta
Artikel BerikutnyaMereka pun Kembali