Agenda Sebelum Mati (2)

0
197 views

Hidup kita di dunia ini boleh dibilang tinggal sisa, yakni sisa hidup. Biasanya yang disebut sisa itu tidak banyak karena memang tidak banyak kesempatan kita untuk hidup di dunia ini dibanding dengan perjalanan hidup yang sudah kita lalui. Bila usia kita sudah di atas 30 tahun, maka bila dibanding umumnya orang yang meninggal dunia dalam usia di atas 50 tahun, maka kesempatan hidup kita memang sisa yang tidak banyak. Oleh karena itu, selain harus membayar utang sebelum mati, agenda lain yang mendesak amat penting untuk kita pahami dan kita laksanakan.

  1.   Tunaikan Amanah

Dalam hidup ini, kita mendapatkan begitu banyak amanah, baik dari Allah swt maupun dari sesama manusia. Secara harfiyah, amanah artinya dipercaya. Secara khusus, amanah berarti mengembalikan sesuatu yang dititipkan oleh seseorang kepadanya. Adapun makna umumnya adalah menyampaikan atau melaksanakan sesuatu yang ditugaskan kepadanya. Sifat ini bukan hanya penting karena termasuk akhlak yang mulia, tapi justeru kualitas keimanan seseorang sangat tergantung pada apakah ia bisa menjalankan amanah atau malah berkhianat. Oleh karena itu, dalam satu hadits, Rasulullah saw bersabda:

لاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ، وَلاَدِيْنَ لِمَنْ لاَعَهْدَلَهُ.

Tidak (sempurna) iman seseorang yang tidak amanah, dan tidak (sempurna) agama seseorang yang tidak menunaikan janji (HR. Ahmad).

          Karena amanah merupakan sesuatu yang sangat penting, maka Allah swt memerintahkan kepada manusia untuk menunaikan amanah sebagaimana firman-Nya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimannya (QS An Nisa [4]:58).

     Begitu penting menjaga dan melaksanakan amanah yang dibebankan kepada kita, maka jangan sampai kita mencapai kematian kecuali setelah amanah kita tunaikan dengan sebaik-baiknya. Bila sampai kita mati tapi amamah belum kita tunaikan, maka jangankan kematian kita yang biasa-biasa, yang mati syahid di medan perang dalam perjuangan di ja;lan Allah swt saja masih ada persoalan dalam kehidupan di akhirat, Rasulullah saw bersabda dalam hadis yang diceritakan oleh Abdullah bin Mas’ud ra:

اَلْقَتْلُ فِى سَبِيْلِ اللهِ يُكَفِّرُ الذُّنُوْبَ كُلَّهَا إِلاَّ اْلأَمَانَةَ. قَالَ: يُؤْتَ بِالْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ –وَإِنْ قَتَلَ فِى سَبِيْلِ اللهِ- فَيُقَالُ: أَدِّ أَمَانَتَكَ, فَيَقُوْلُ: أَيْ رَبِّ, كَيْفَ وَقَدْ ذَهَبَتِ الدُّنْيَا؟. قَالَ: فَيُقَالُ: اِنْطَلِقُوْا بِهِ إِلَى الْهَاوِيَةِ, فَيُنْطَلَقُ بِهِ إِلَى الْهَاوِيَةِ, وَتُمَثِّلُ لَهُ أَمَانَتُهُ كَهَيْئَتِهَا يَوْمَ دُفِعَتْ إِلَيْهِ, فَيَرَاهَا فَيَعْرِفُهَا, فَيَهْوِيْ فِى أَثَرِهَا حَتَّى يُدْرِكَهَا, فَيَحْمِلَهَا عَلَى مَنْكِبَيْهِ, حَتَّى إِذَا نَظَرَ, ظَنَّ اَنَّهُ خَارِجٌ زَلَّتْ عَنْ مَنْكِبَيْهِ, فَهُوَ يَهْوِيْ فِى أَثَرِهَا أَبَدَ اْلآبِدِيْنَ, ثُمَّ قَالَ: الصَّلاَةُ أَمَانَةٌ, وَالْوُضُوْءُ أَمَانَةٌ, وَالْوَزْنُ أَمَانَةٌ, وَالْكَيْلُ أَمَانَةٌ, وَأَشْيَاءُ عَدَّدَهَا وَأَشَدُّ ذَلِكَ الْوَدَائِعُ

Terbunuh di jalan Allah itu menghapus semua dosa, kecuali amanah. Ia berkata: “Akan didatangkan seorang hamba pada hari kiamat kelak, meskipun ia terbunuh di jalan Allah, lalu dikatakan kepadanya “laksanakan amanahmu”. Ia menjawab: “Ya Rabbi, bagaimana, sedangkan dunia telah sirna?.” Ibnu Mas’ud berkata: “Lalu dikatakan bahwa ia ke neraka hawiyah, iapun dibawa ke neraka hawiyah, lalu amanahnya mewujudkan diri seperti bentuknya ketika diserahkan kepadanya. Kemudian orang itu melihatnya dan mengenalnya, lalu ia turun mengikuti jejak amanah itu hingga ia berhasil mendapatinya, lalu memikulnya di atas kedua pundaknya hingga apabila ia melihat, ia mengira kalau ia sudah keluar, maka amanat itu terlepas dari kedua pundaknya, dan ia kemudian mengejarnya dari belakang selama-lamanya”. Kemudian Ibnu Mas’ud berkata: “shalat adalah amanah, wudhu adalah amanah, timbangan adalah amanah, takaran adalah amanah, kemudian Ibnu Mas’ud menyebutkan beberapa hal lagi dan yang paling berat adalah barang titipan.” (HR. Baihaki)

2.   Perkuat Silaturahim.

             Hubungan antar sesama manusia harus dijalin dengan sebaik-baiknya, terutama mereka yang berasal dari rahim ibu yang sama yang kemudian disebut dengan saudara dalam nasab. Bila ini selalu kita perkokoh, maka kita mendapatkan jaminan surga dari Rasulullah saw bersabda:

أَيُّهَاالنَّاسُ, أَفْشُوا السَّلاَمَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصِلُوا اْلأَرْحَامَ وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِالسَّلاَمِ

Wahai manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makan, sambunglah hubungan silaturrahim, shalatlah diwaktu malam sementara orang-orang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim).

             Karena itu, ketika Rasulullah saw bertanya kepada pada sahabat tentang maukah aku beritahukan kepada kalian tentang orang yang akan menjadi penghuni surga?, diantaranya beliau menjawab:

اَلرَّجُلُ يَزُوْرُ أَخَاهُ فِى نَاحِيَةِ الْمِصْرِ لاَ يَزُوْرُهُ إلاَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di penjuru kota dengan ikhlas karena Allah (HR. Ibnu Asakir, Abu Na’im dan Nasa’i).

             Bila persaudaraan bila kita putuskan, maka kitapun terancam tidak masuk surga, Rasulullah saw bersabda:

لاَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ. قَالَ سُفْيَانُ فِى رِوَايَتِهِ: يَعْنِى قَاطِعُ رَحِمِ

Tidak akan masuk surga orang yang suka memutuskan, Sufyan berkata dalam riwayatnya: yakni memutuskan tali persaudaraan (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, sebelum kita mati, pastikan hubungan persaudaraan kita yang kuat dengan keluarga besar, khususnya yang amat dekat ikatan kekeluargaannya seperti kakak dengan adik atau sebaliknya, keponakan dengan paman dan sebagainya. Manakala ikatan keleuragaan itu putus, apalagi hanya karena sebab-sebab sepele, maka hal ini menbuat seseorang cepat memperoleh siksaan atau azab dari Allah swt, Rasulullah saw bersabda:

 

مَامِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوْبَةَ فِى الدُّنْيَا مَعَ مَا بَدَّخِرَ لَهُ فِى اْلاَخِرَةِ مِنْ قَطِيْعَةِ الرَّحِمِ وَالْخِيَانَةِ وَالْكَذِبِ

Tidak ada dosa yang disegerakan siksanya oleh Allah kepada pelakunya di dunia –dengan siksanya di akhirat- selain dari memutuskan silaturrahim dan khianat (HR. Thabrani).

Adapun  kepastian masuk surga bagi orang yang menyambung silaturrahim disebutkan oleh Allah swt dalam firman-Nya: Orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang Itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (QS Ar Ra’du [13]:21-23).

Dengan demikian, beban-beban hidup yang sudah kita laksanakan dengan baik akan membuat kita memiliki perasaan yang ringan dalam menghadap Allah swt melalui kematian yang pasti terjadi.

 Drs. H. Ahmad Yani

Email: ayani_ku@yahoo.co.id

PIN 275d0bb3