Agenda Sebelum Mati (1)

0
43 views

Kematian merupakan sesuatu yang pasti meskipun kita tidak tahu kapan hal itu akan terjadi. Karena itu, tidak penting kapan enaknya mati dan tidak pentingnya juga dimana enaknya mati. Tapi yang terpenting adalah dalam keadaan bagaimana seharusnya kita mati, yakni dalam keadaan tunduk, taat dan berserah diri kepada Allah swt sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenarbenar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan muslim (QS Ali Imran [3]:102).

          Kematian seharusnya menjadi saat yang menyenangkan bagi orang yang mati, meskipun hal itu menjadi kesedihan, bahkan kesedihan yang amat dalam bagi orang yang ditinggalkannya. Namun, yang amat tragis adalah bila kematian itu tidak hanya membuat sedih orang yang ditinggalkan, tapi yang matipun mengalami kesedihan, bahkan kesedihan yang amat dalam dan berkepanjangan karena banyak hal yang tidak diselesaikan atau tidak ditunaikannya semasa hidup. Karena itu, melalui tulisan ini akan kita bahas hal-hal yang harus kita segera lakukan sebelum kita mati, apalagi satu hal yang harus kita ingat kembali bahwa kematian bisa saja datang secara tiba-tiba.

1.   Bayar Utang

          Bagi seorang muslim, utang merupakan sesuatu yang harus segera dibayar, ia tidak boleh menyepelekan utang meskipun nilai atau jumlahnya kecil. Bila seorang muslim memiliki perhatian yang besar dalam urusan membayar utang, maka ia bisa menjadi manusia yang terbaik. Rasulullah saw bersabda:

 خَيْرُ النَّاسِ خَيْرُهُمْ قَضَاءً

Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam membayar utang (HR. Ibnu Majah).

          Karena itu, sebagai manusia apalagi sebagai muslim yang memiliki harga diri, sedapat mungkin utang itu tidak dilakukan, apalagi kalau tidak mampu membayarnya, kecuali memang sangat darurat, karena itu seorang muslim harus hati-hati dalam masalah utang, Rasulullah saw bersabda:

ِايَّاكُمْ وَالدَّيْنِ فَاِنَّهُ هَمٌّ بِاللَّيْلِ وَمَذَلَّةٌ بِالنَّهَاِر

Berhati-hatilah dalam berutang, sesungguhnya berutang itu suatu kesedihan pada malam hari dan kerendahan diri (kehinaan) pada siang hari (HR. Baihaki)

           Namun apabila manusia yang berutang tidak mau memperhatikan atau tidak mau membayarnya, maka hal itu akan membawa keburukan bagi dirinya, apalagi dalam kehidupan di akhirat nanti, hal ini karena utang yang tidak dibayar akan menggerogoti nilai kebaikan seseorang yang dilakukannya di dunia, kecuali bila ia memang tidak mempunyai kemampuan untuk membayarnya, Rasulullah saw bersabda:

 اَلدَّيْنُ دَيْنَانِ فَمَنْ مَاتَ وَهُوَيَنْوِىْ قَضَاءَهُ فَأَنَا وَلِيُّهُ وَمَنْ مَاتَ وَلاَيَنْوِىْ قَضَاءَهُ فَذَالِكَ الَّذِىْ يُؤْخَذُمِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ يَوْمَئِذٍ دِيْنَارٌ وَلاَدِرْهَمٌ.

Utang itu ada dua macam, barangsiapa yang mati meninggalkan utang, sedangkan ia berniat akan membayarnya, maka saya yang akan mengurusnya, dan barangsiapa yang mati, sedangkan ia tidak berniat akan membayarnya, maka pembayarannya akan diambil dari kebaikannya, karena di waktu itu tidak ada emas dan perak (HR. Thabrani).

Bahkan bila utang tidak mau dilunasi, seseorang terancam tidak masuk surga, dalam satu hadits dijelaskan:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدًا حَيْثُ تُوْضَعُ الْجَنَائِزُ فَرَفَعَ رَأْسَهُ قِبَلَ السَّمَاءِ ثُمَّ حَفَضَ بَصَرَهُ فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَى جَبْهَتِهِ  فِى سَبِيْلِ اللهِ الْجَنَّةَ فَقاَلَ: سُبْحَان اللهِ, سُبْحَان اللهِ, مَاأَنْزَلَ مِنَ التَّشْدِيْدِ. قاَلَ: فَفَرَقْنَا وَسَكَتْنَا حَتَّى إِذَا كَانَ الْغَدُ سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا: مَا التَّشْدِيْدُ الَّذِى نَزَلَ؟. قاَلَ: فِى الدَّيْنِ, وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ قُتِلَ رَجُلٌ فِى سَبِيْلِ اللهِ ثُمَّ عَاشَ. ثُمَّ قُتِلَ ثُمَّ عَاشَ ثُمَّ قُتِلَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ مَا دَخَلَ الْجَنَّةَ حَتَّى يُقْضَى دَيْنَهُ

Rasulullah saw pernah duduk di sekitar beberapa jenazah diletakkan, lalu beliau mengangkat kepalanya ke arah langit kemudian menundukkan pandangannya, lalu meletakkan tangannya ke keningnya seraya bersabda: Maha Suci Allah, Maha Suci Allah, betapa keras ancaman yang diturunkan. Ia menuturkan, maka kami bubar dan kami diam hingga keesokan harinya, aku bertanya kepada Rasulullah saw, kami berkata: “ancaman keras apa yang telah turun?”. Beliau bersabda: :Tentang hutang, demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalau seandainya seseorang gugur di jalan Allah, kemudian hidup lagi, lalu gugur dan kemudian hidup lagi, lalu gugur lagi sedangkan ia menanggung hutang, niscaya ia tidak akan masuk surga hingga hutangnya dilunasi (HR. Nasa’i, Thabrani dan Hakim).

          Dengan demikian, bila orang yang sudah meninggal dunia kemungkinan memiliki utang kepada pihak lain dan keluarga belum mengetahuinya, maka paling tidak harus ada pernyataan bahwa pihak keluarganya akan menanggung atau membayarnya sehingga dengan begitu orang yang meninggal dunia sudah tidak memiliki utang, dalam satu hadits diceritakan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ فَقَالَ: هَلْ تَرَكَ شَيْئًا؟ قَالُوْا: لاَ. قَالَ: هَلْ عَلَيْهِ مِنْ دَيْنٍ؟. قَالُوْا: نَعَمْ, عَلَيْهِ دِيْنَارَانِ. قَالَ: صَلُّوْا عَلَى صَاجِبِكُمْ. قَالَ أَبُوْ قَتَادَةَ هُمَا عَلَيَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَصَلَّ عَلَيْهِ

Suatu ketika ada jenazah didatangkan kepada Rasulullah saw untuk beliau shalatkan, lalu beliau bertanya: “Apakah jenazah ini meninggalkan sesuatu?.” Para sahabat menjawab: “Tidak.” Lalu beliau bertanya lagi: “Apakah ia memiliki tanggungan utang?.” Para sahabat menjawab: “Ya, dua dinar.”Lalu beliau berkata: “Kalau begitu, maka shalatkanlah jenazah teman kalian ini.” (Maksudnya beliau tidak mau menshalatkan jenazah yang masih punya utang), lalu Abu Qatadah ra siap membayarnya dengan berkata: “Saya yang menjamin utang tersebut ya Rasulullah.” Lalu beliaupun menshalatkannya (HR. Bukhari, Ahmad, Nasai, Ibnu Hibban dan Ahmad).

Oleh karena itu bila kita punya utang harus segera membayarnya dan bila uangnya sudah ada tapi kita tidak segera membayarnya, maka hal itu tergolong kezaliman yang tidak disadari atau tidak dipahami oleh manusia, karena yang lebih bagus adalah membayar utang sebelum jatuh tempo, Rasulullah saw bersabda:

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ وَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِيْءٍ فَلْيَتْبَعْ

Penundaan pembayaran utang oleh orang yang mampu adalah kezhaliman. Dan apabila salah seorang dari kalian dialihkan (pembayaran utangnya) kepada orang kaya, maka hendaklah ia menerima pengalihan itu (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah).

Bagi manusia, jangankan matinya biasa-biasa saja, mati yang dicapai dalam keadaan syahid, yakni dalam perang di jalan Allah swtيقضى بين الناس yang merupakan kematian yang sangat mulia juga tidak memuluskan seseorang dalam kehidupan di akhirat bila ia meninggalkan utang yang belum ditanggung oleh keluarganya, Rasulullah saw bersabda:

يُغْفَرُ لِلشَّهِيْدِ كُلَّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنِ

Diampuni bagi orang yang mati syahid segala dosanya, kecuali utang (HR. Muslim).

          Dengan demikian, menjadi jelas bagi kita bahwa utang kepada siapapun harus segera kita lunasi dan bila sampai kematian menjemput tapi utang belum dibayar, maka dibayar utang itu dengan harta waris yang ditinggalkannya dan bila tidak ada harta warisnya, maka seharusnya pihak keluarga yang ditiinggalkannya mau menanggung utang tersebut.

Drs. H. Ahmad Yani

Email: ayani_ku@yahoo.co.id

PIN 275d0bb3

 

 

 

 

 

 

BAGI
Artikel SebelumnyaMengawali Percakapan
Artikel BerikutnyaMonoteisme Plus