Agama Pribadi

0
12 views

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Di sebuah kelas yang sedikit berbicara tentang filsafat dan sedikit berbicara tentang agama, seorang mahasiswa mengacungkan tangan, ingin berbicara. Mimiknya serius seperti akan menyampaikan sesuatu yang sangat penting.

Ya, dia benar-benar menyampaikan sesuatu yang penting. Kata dia, agama bukan hal yang menarik untuk dibicarakan (apalagi menjadi mata kuliah). Agama tidak lebih merupakan urusan pribadi dan karena itu, tidak untuk dibicarakan di ruang publik.

Sulit untuk tidak setuju kepada pandangan mahasiswa ini atau paling tidak sulit untuk tidak membiarkan dia untuk menggunakan haknnya mempunyai pandangan apapun yang menurut dia baik dan benar. Namun benarkah agama tidak penting dan menarik hingga tidak layak dibicarakan, apalagi dimatakuliahkan?

Saya mungkin lebih keberatan terhadap pernyataan kedua karena itu menggugat pendidikan agama Islam sebagai mata kuliah. Itu bisa membuat saya kehilangan salah satu pekerjaan.

Penting atau tidak pentingnya agama sulit diukur karena kata mahasiswa itu benar, agama adalah urusan pribadi sehingga pribadi yang menganggap agama itu penting akan berlawanan dengan mereka yang menganggap agama tidak penting. Namun jika penting dan tidak pentingnya sesuatu diukur dari sudut itu urusan pribadi atau bukan, maka seharusnya cinta bukan sesuatu yang penting karena cinta adalah urusan yang sangat pribadi. Tetapi jika ukurannya adalah peran agama di ruang publik, maka sulit untuk mengatakan agama tidak penting.

Seorang peramal modern (futurolog) pernah mencoba mengukur ajal agama yang menurutnya tidak lagi lama. Meskipun ada yang tersisa, maka itu tidak lebih dari spritualitas. Orang-orang sudah mulai bosan dengan agama yang terlembagakan lalu lebih memilih kedalaman spiritual yang lepas dari aturan ritual agama yang pelik dan membelenggu. Ramalan itu telah dipublikasikan dan sepertinya belum menemukan bukti.

Memang ada gejala penguatan spiritualitas namun ritualitas juga cukup kuat menampakkan diri. Jumlah jamaah haji Indonesia saja tidak pernah mengalami penurunan, padahal haji adalah salah satu ritual terbesar dan kolosal. Terorisme adalah contoh yang buruk tetapi tepat untuk menggambarkan betapa agama begitu penting di ruang publik dan bisa menjadi pemicu tergeraknya massa.

Kini, di Indonesia, di setiap angkutan umum di mana pun, termasuk di kota-kota besar, selau saja ada orang yang mengekspresikan keberagamaannya di ruang publik, misalnya dalam bentuk pakaian jilbab. Ini fenomena baru yang tidak ditemukan beberapa dekade lalu.

Sang mahasiswa tidak bisa disalahkan karena tidak tertarik pada hal-hal yang berbau keagamaan. Mungkin dia hanya keliru jika dia menganggap orang lain sama dengan dirinya. Sama-sama menganggap agama bukan hal penting.[]