Agama dan Radikalisme

0
51 views

Agama merupakan kekuatan paling dahsyat dan berpengaruh di dunia. Nilai-nilai dan ajaran agama menjadi komitmen yang memengaruhi setiap individu bahkan sekelompok orang untuk tunduk dan patuh pada suatu tujuan yang besar. Komitmen pada agama juga sering menggerakkan penganutnya untuk meninggalkan kepentingan pribadi yang sempit demi pencapaian tujuan besar yang tertuang dalam teks-teks agama yang dianutnya.

Tujuan yang paling mendasar dari setiap agama adalah mengajarkan sekaligus mengajak penganutnya untuk melakukan kebaikan. Cinta kasih, kedamaian, tolong menolong, dan penghargaan pada kemanusiaan adalah sedikit dari sekian banyak isu-isu kebaikan yang diajarkan secara mendasar dalam setiap ajaran agama. Pada dasarnya, setiap agama mengajarkan umatnya untuk berlaku kasih dan sayang kepada sesamanya. Pesan mendasar dari setiap agama adalah hidup secara damai dengan seluruh makhluk ciptaan Tuhan (Nasaruddin Umar, 2009: 8). Tidak mengherankan jika sejarah mencatat sekian banyak perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia dilakukan dengan mengatasnamakan dirinya sebagai seorang penganut agama atau melakukannya atas nama agama. Sayangnya, sejarah kelam kemanusiaan juga banyak terjadi karena alasan-alasan keagamaan. Pembunuhan, perang, penistaan kemanusiaan atau sejumlah perilaku buruk sering dikaitkan secara langsung dengan agama. Dengan dalih membela atau mempertahankan kemurnian dari keyakinan agamanya, atau demi menegakkan ajaran agama, para penganut agama mengabaikan nilai-nilai dasar kebaikan yang justru tertuang jelas dalam ajaran agama tersebut.

Catatan sejarah tersebut tak pelak menampilkan agama dalam dua wajah yang berbeda. Berbicara agama seperti berbicara tentang sesuatu yang paradoks. Satu sisi, agama mengajarkan kebaikan, keselamatan dan kedamaian, serta mengajak penganutnya untuk mencapai kebaikan tertinggi di hadapan Tuhan; tetapi pada saat yang sama, di sisi lain, agama sering ditampilkan sebagai sumber bencana dan kebencian. (Sindhunata, dalam Kimball, 2003: 13). Kata agama, dengan sendirinya menampilkan sejumlah citra, gagasan, pengalaman, keyakinan, dan ritual yang sebagian positif dan sebagian lainnya negatif. Menyatukan unsur-unsur yang bertentangan ini menjadi satu kerangka acuan yang koheren sama sekali bukanlah pekerjaan mudah.

Yang mengkhawatirkan karena agama pada kenyataannya lebih banyak ditampilkan dalam perilaku destruktif dan menjengkelkan ketimbang agama yang mendamaikan; dan ketika perilaku destruktif itu diberikan legitimasi agama, akibat yang ditimbulkannya sangat serius. Terbukti, korban yang ditimbulkan oleh perilaku destruktif atau kebencian atas nama agama melampaui batas-batas nalar dan geografis. 

Pertanyaannya, mengapa orang bisa melakukan hal buruk dengan mengatasnamakan agama ketika agama justru mengajarkan kebaikan hakiki?

Mendefinisikan radikalisme agama selalu menjadi sesuatu yang tidak mudah. Sebab kata “radikalisme” dan kata “agama” masing-masing memiliki muatan-muatan makna yang tidak sederhana dan tidak tunggal. Penggunaan istilah radikalisme agama untuk menyebut perbuatan satu kelompok tertentu juga sering menimbulkan perdebatan dan pertentangan. Ada kecenderungan untuk menghindari pengaitan agama dan tindakan keburukan yang dilakukan. Sebagian mengatakan bahwa sikap beragama yang ketat, tekstual, dan menjurus pada intoleransi dan sikap buruk pada pihak lain; sesungguhnya adalah bentuk dari menguatnya kecenderungan untuk mengamalkan agama secara murni, sehingga menyebutnya sebagai tindakan radikal adalah penamaan yang tidak tepat untuk disematkan pada sikap beragama seperti itu. Maka, istilah “radikalisme agama” membutuhkan penjelasan yang spesifik untuk menghindari pemaknaan yang ambigu dan salah tafsir.

Kata “agama” sendiri menampilkan banyak makna dan kemudian melahirkan perdebatan. Sumber perdebatan itu pun beragam; sebagian memperdebatkan apakah agama sebagai produk budaya atau sesuatu yang turun dari langit, sebagian lagi memperdebatkan kebenaran-kebenaran yang saling bersinggungan dalam keyakinan setiap agama, bahkan persinggungan itu juga menguat dan dijumpai dalam satu agama yang sama.  

Jika “agama” diartikan sebagai suatu tatanan nilai yang mengatur kehidupan manusia, maka pengenalan manusia akan agama telah ada jauh sebelum kata agama itu didefinisikan. Pengenalan manusia akan nilai hadir bersamaan dengan kehadiran manusia itu sendiri. Hal pertama yang diajarkan oleh Tuhan kepada manusia adalah pengetahuan, yang di dalamnya mencakup tata nilai dalam bentuk perintah dan larangan. Pelanggaran Adam, sebagai manusia pertama, terhadap perintah Tuhan adalah wujud pelanggaran terhadap tata nilai yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Lebih jauh lagi, tata nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat tidak serta merta lahir karena adanya “agama”. Sekian banyak masyarakat mengatur tata nilai kehidupannya bukan berdasarkan agama, tetapi lebih sebagai kearifan local yang merangkai aturan-aturan yang disepakati dan diterima secara bersama-sama.

Karena itu, agama tidak bisa dipahamai sebatas tata nilai yang membentuk akar kesalehan atau perilaku baik. Agama, karenanya, harus dipahami sebagai tatanan nilai yang bersumber dari Tuhan. Konsekuensi logis dari pemahaman tersebut adalah nilai kebenaran yang terkandung di dalamnya juga bersifat keilahiaan. Kebenarannya tidak terletak pada manusia yang melaksanakan agama, tetapi pada Tuhan yang mengajarkan agama itu. Persoalannya adalah kita tidak dapat menjangkau nilai kebenaran mutlak yang ada pada Tuhan; yang bisa dilakukan hanyalah melaksanakan ajaran agama sesuai tingkat pemahaman dan pengenalan terhadap nilai agama. Kebenaran pada tingkat manusia itu pun menjadi relatif dan tidak tunggal, sebab setiap manusia memiliki nilainya masing-masing.

Radikalisme agama muncul karena sikap berlebihan dalam mempertahankan nilai dan ajaran yang dianutnya dan menyalahkan kelompok lain yang berbeda atau berseberangan dengan pahamnya. Radikalisme agama biasanya sulit menerima perbedaan dan keragaman, mengklaim paham dan ajarannya sebagai yang paling benar, dan melakukan tindakan radikal dalam bentuk pemaksaan kepada kelompok lain atau memerangi kelompok lain yang berbeda dan berseberangan.