Afghanistan: Malangnya Anak-Anak

0
44 views

Oleh Helena Malikyar

 

Pada 2 Februari, dengan bangga Taliban mengaku bertanggung jawab atas terbunuhnya Wasil Ahmad. Anak itu tewas dengan dua butir peluru di kepalanya. Umurnya baru 10 tahun.

Hidup Wasil, anak asli selatan-tengah Uruzgan, sebuah provinsi di Afghanistan, terhenti ketika mampir di sebuah bazar untuk beli apel dalam perjalanannya pulang dari sekolah.

Sementara tidak ada yang membenarkan tindakan barbar seperti itu, sejumlah elemen berkontribusi penting pada kejadian itu. Enam bulan sebelumnya, Wasil telah menjadi seorang tentara anak di unit Polisi Afghanistan yang dipimpin oleh pamannya.

Ayahnya dan selusin anggota klannya dibunuh oleh Taliban. Ketika pamannya terluka parah, kemarahan, dendam atau mungkin sekadar naluri untuk tetap hidup telah membuat si kecil Washil bergabung dengan barisan para pejuang.

Setelah kelompok milisi berhasil memukul mundur serangan Taliban, kepala polisi distrik memuji Wasil dan merayakan keberaniannya. Foto-fotonya beredar di media sosial.

Tentara Anak

Dengan tidak adanya angka yang pasti, laporan kombatan anak Afghanistan bergantung pada cerita dan saksi. Fenomena ini tampaknya lebih luas hadir di antara organisasi-organisasi teroris. Siswa remaja dari madrasah agama, terutama di Pakistan, terdiri dari sebagian besar Taliban dan prajurit Jaringan Haqqani. Anak-anak juga digunakan sebagai pembom bunuh diri.

Sejumlah besar anak-anak digunakan oleh kedua belah pihak sebagai juru masak, pelayan dan, pekerja, posisi yang oleh semua instrumen hukum internasional terhadap penggunaan anak-anak dalam pertempuran dimasukkan dalam definisi “tentara anak”.

Konflik, kemiskinan, kebijakan yang cacat dan aplikasi suram aturan hukum pembunuhan anak-anak Afghanistan terjadi setiap hari. Setiap tahun, ratusan anak-anak tewas dalam perang bersenjata, serangan udara, serangan bunuh diri, bom mobil, atau ranjau darat.

Selama pendudukan Soviet di tahun 1980-an anak-anak mulai menjadi korban perang dan penderitaan dalam berbagai dimensi. Pemboman acak terhadap desa-desa, hilangnya anak-anak dari sekolah tinggi karena dicurigai mempunyai hubungan dengan gerakan perlawanan. Anak-anak itu terjebak dalam di antara dua pihak yang selamanya berperang.

Umumnya dipercaya bahwa sekitar 50.000 anak-anak, sebagian besar anak-anak yatim, dikirim ke Uni Soviet pada 1980-an untuk diindoktrinasi Marxisme.

Kenyataan bahwa anak-anak Afghanistan menjadi pengungsi di kamp-kamp pengungsi di Pakistan dan Iran selama perang Afghanistan-Soviet didokumentasikan dengan baik di berbagai laporan organisasi hak asasi manusia dan laporan bantuan kemanusiaan.

Masa Kecil Yang Hilang

Kemenangan Mujahidin dan pertikaian mereka berikutnya pada 1992-1996 menurunkan angka yang telah disebutkan sebelumnya. Anak-anak harus bergabung dengan milisi dari berbagai faksi pertempuran, baik serius atau hanya demi untuk mendapatkan sepotong roti untuk keluarga mereka.

Munculnya Taliban di pertengahan 1990-an membawa sejumlah perampasan baru. Bermain olahraga menjadi dilarang. Para gadis tidak bisa lagi bersekolah. Musik dinyatakan haram.

Telah ada beberapa perbaikan bagi keadaan anak-anak Afghanistan. Tapi 14 tahun kehadiran pihak internasional dan miliaran dolar bantuan seharusnya telah memberikan hasil yang jauh lebih baik.

Konflik dalam dekade terakhir telah menyebabkan sekitar 28.000 kematian warga sipil dan lebih dari 100.000 cedera. Mengingat bahwa hampir 70 persen dari populasi Afghanistan adalah di bawah usia 25, demografi ini telah terpengaruh secara signifikan.

Prospek bagi mereka yang tidak mati dalam konflik tidak terlalu menjanjikan, juga.

Enam juta anak usia sekolah terlibat sebagai buruh. Sekitar 60.000 anak-anak mengemis di jalanan Kabul saja, sebagian besar dipaksa untuk memberikan penghasilan mereka kepada geng-geng kota. Kemiskinan memaksa banyak orang tua untuk melakukan hal seperti itu.

Pemerintah dan lembaga donor internasional membual tentang delapan juta anak-anak yang terdaftar di sekolah-sekolah. Bahkan, karena kemiskinan dan kondisi keamanan yang memburuk, sekitar 40 persen anak-anak usia sekolah dasar tidak bersekolah.

Para gadis dipaksa menikah, sebelum mereka memasuki masa remaja, demi pertukaran untuk mahar atau untuk melunasi utang yang ayah mareka tidak mampu dibayar. Fenomena baru-baru ini “pengantin opium” melibatkan petani yang dipaksa untuk menyerahkan anak perempuan mereka kepada gembong obat bius lokal.

Ada lonjakan penculikan dan perdagangan anak sejak 2014. Afghanistan yakin bahwa impunitas dinikmati oleh penculik dan pedagang adalah karena keterlibatan individu yang berpengaruh dan pasukan keamanan di bisnis yang menguntungkan ini.

Pembantu Rumah Tangga

Anak yang diculik digunakan dalam kerja paksa atau menjadi pembantu rumah tangga, baik di dalam negeri atau di negara tetangga seperti Iran dan Pakistan. Beberapa anak direkrut dalam organisasi teroris dan lain-lain yang dijual untuk digunakan dalam bisni seks komersial. Praktek “bacha bazi” (mainan anak) telah diperluas secara eksponensial dengan munculnya elit kaya baru.

Tiga dekade perang telah menjadikan Afghanistan sebagai bangsa yang secara fisik dan psikologis cacat. Diperkirakan, setengah populasi Afghanistan yang adalah anak-anak, sebagian besar mereka cacat.

Satu dari 10 anak meninggal sebelum mencapai ulang tahun kelima mereka; kekurangan gizi mencapai 55 persen, mengakibatkan tingginya jumlah anak yang terhambat pertumbuhannya.

Untuk setiap 100.000 warga Afghanistan terdapat 0,01 spesialis kesehatan mental. Layanan psikiatri untuk anak tidak ada. Dengan tidak adanya evaluasi psikologis, perawatan jauh lebih sedikit untuk anak-anak, satu-satnya yang terjadi adalah tingkat kerusakan yang semakin meningkat.

Tapi, apapun yang terjadi, anak-anak Afghanistan terus berharap. Mereka masih berharap bersenang-senang dengan es krim, berharap naik sepeda dan bermimpi menjadi seorang dokter atau seorang pemain sepak bola terkenal. Mereka pantas mendapatkan kembali masa kanak-kanak mereka.

Helena Malikyar adalah seorang analis politik Afghanistan dan sejarawan.

Sumber: http://www.aljazeera.com/indepth/opinion/2016/02/afghanistan-pity-children-160210082008267.html

 
BAGI
Artikel SebelumnyaMasjid dan Pasar
Artikel BerikutnyaMembendung Propaganda LGBT