Kisah Cinta Kebebasan yang Tersesat

0
12 views

infobuku-nuansaislam.comFenomena menjadi best sellernya beberapa karya novel di banyak penerbit dan toko buku belakangan ini, menunjukkan bahwa novel memiliki daya pikat tersendiri bagi para pecinta buku di negeri ini.

Sebagai karya sastra yang memiliki banyak peran yang cukup strategis, novel menjadi hidangan bernuansa estetika yang mampu menyentuh batin para penikmatnya.  Lewat novel pengarang juga seolah mendapat fasilitas dan ruang yang seluas-luasnya untuk menuangkan ide dan pemikiran yang ingin disampaikan kepada publik.

Selain itu, kehadiran novel juga diharapkan mampu berperan untuk mencerdaskan, mencerahkan, terlebih lagi mampu membangun sistem kehidupan masyarakat yang lebih baik lagi. Lewat karyanya, Kemi: Cinta Kebebasan yang tersesat, inilah Adian Husaini mencoba mengambil media yang dianggapnya cukup efektif ini untuk mengungkapkan pemikirannya.

Novel fiksi unik karya intelektual muslim

Adian Husaini memang dikenal sebagai aktivis yang bergulat di bidang pemikiran Islam. Beliau juga selalu berada di garda terdepan dalam membendung arus liberisme saat ini. Puluhan buku tentang Pemikiran dan Peradaban Islam telah ditulisnya. Di antaranya ialah: Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan, dan Jawabannya (Jakarta: GIP, 2002), Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi Islam (Jakarta: GIP, 2009), dan Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal (2005).

Pemilihan tema liberalisme yang diangkat dalam karya novelnya ini dianggap pas untuk diketengahkan ke masyarakat saat ini,  karena memang tema sepilis  sedang hangat menjadi perbincangan di kalangan akademisi maupun aktivis Islam di negeri ini.

Paham pemikiran yang datangnya dari Barat ini, dinilai oleh banyak kalangan muslim telah menimbulkan ghazwul fikri (perang pemikiran) di tengah-tengah umat Islam. Bahkan, paham ini dianggap telah menyimpang dari sendi-sendi ajaran Islam dan merusak keyakinan serta pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam.

Dalam sebuah acara bedah buku, penulis yang merupakan ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, mengatakan bahwa sebenarnya liberalisme itu bukan saja musuh Islam. Karena, jauh sebelum itu, ternyata Yahudi dan Kristen juga dipusingkan dengan virus liberalisme yang dapat meruntuhkan kemurnian ajaran mereka. Bedanya, jika liberalisme dalam kedua agama itu lebih dilatari oleh motif ideologi. Sedang liberalisme yang mengancam umat Islam, lebih dilatari oleh motif ekonomi, dalam hal ini sponsor dari dunia Barat terhadap para pengusung liberalisme.

Penulis menambahkan bahwa paham liberal yang kian meluas saat ini, mulai menjelajahi pola pikir kaum muslimin, bahkan berusaha masuk kedalam kurikulum pendidikan bangsa ini.

Novel Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat yang ditulisnya ini adalah salah satu bentuk perhatian dan kepeduliannya terhadap masa depan pendidikan Islam, khususnya pendidikan pesantren yang menurutnya secara terang-terangan telah diserbu oleh gelombang liberalisasi.

Novel yang dianggap “unik” ini mengungkap liku-liku pemikiran dan kondisi kejiwaan sejumlah aktivis liberal di negeri antah berantah yang belum pernah terungkap dalam karya-karya para penulis fiksi sebelum ini.

Novel ini mengisahkan tentang seorang santri cerdas bernama Kemi. Kemi melanggar amanah sang kyai dengan meninggalkan pesantren dan menjadi aktivis liberal. Angan-angan kebebasan telah  menjerumuskannya. Kemi terjerat, terperosok,, dan terperangkap dalam kebebasan yang didambakannya, bahkan mengancam jiwanya.

Selain Kemi, novel ini juga menghadirkan tokoh lain bernama Rahmat. Rahmat juga merupakan santri cerdas dari pesantren yang sama dengan Kemi. Ia diutus oleh sang kyai untuk berusaha menyelamatkan Kemi. Sejumlah tokoh terkemuka berhasil ditaklukkannya. Bahkan, seorang kyai liberal wafat di ruang diskusi setelah bertemu dengan Rahmat.

Saat menikmati perjalanan kisah tokoh-tokohnya, pembaca juga diajak menikmati tingkat intelektualitas penulis. Penguasaan sang penulis akan tema yang diangkat dalam novel ini, membuat novel ini bernilai edukasi yang mampu memberikan wawasan lebih kepada pembacanya.  

Selain itu, penulis berhasil menguak praktik-praktik kehidupan dan cara berpikir kaum liberal yang terjadi di dunia nyata, kemudian membawanya ke dalam dunia fiksi dengan bahasa yang mudah dicerna serta enak dibaca. Sehingga, secara tidak langsung, pembaca diajak mengikuti episode-episode kehidupan Kemi dan tokoh lainnya yang merupakan gambaran dari kehidupan kaum liberal yang belum banyak diketahui masyarakat luas.

Menariknya lagi, penulis banyak mengupas topik yang seringkali dijadikan bahan perdebatan di antara kalangan kaum liberal dengan para penentangnya. Seperti munculnya dialog panjang lebar antara Rahmat dengan Prof. Malikan (dosen mata kuliah Metodologi Studi Agama-agama) di ruang kuliah. Mereka memperdebatkan paham yang mengatakan bahwa semua agama adalah benar, apa itu Islam eksklusif – inklusif, bisakah seorang muslim melihat agama-agama yang ada pada posisi netral, dan lain sebagainya.

Dari kisah demi kisah para tokohnya yang diurai penulis, novel ini seolah memberi pesan kepada pembaca, khususnya keluarga Muslim, agar berhati-hati terhadap jeratan angan-angan dan gurita liberalisme, yang tiap detik menyerbu pikiran mereka.

 

Judul Buku     : Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat

Penulis          : Adian Husaini

Penerbit        : Gema Insani Press

Tahun terbit   : 2010

Volume          : 316 halaman