2012: Ketika Kiamat Menjadi Jualan

0
39 views

Oleh Abd. Muid N.

Pantaskah film 2012 menyulut kontroversi? Bisa ya, bisa tidak. Jika merunut sejarah perfilman Hollywood, maka 2012 termasuk dalam genre film bencana (disaster movies) yang telah ada bahkan sejak tahun 1910-an, jauh sebelum special effects diperkenalkan ke dunia film. Tahun 1970-an disebut-sebut sebagai masa keemasan film-film bencana karena pada dekade itu dilahirkan begitu banyak film bencana dan sukses di pasaran. Bahkan beberapa di antaranya lalu dibuat ulang (remake) di tahun 1990-an dan 2000-an semisal film The Omega Man (1971) dibuat ulang menjadi I Am Legend (2007) yang dibintangi oleh Will Smith.

Di tahun 1980-an, film-film bergenre bencana ini menurun produksinya. Sejak pertengahan tahun 1990-an sampai sekarang, film semacam ini kembali menemukan momentumnya, apalagi mendapatkan suntikan teknik special effects. Film-film ini bercerita tentang bencana spektakular yang mengancam sebagian besar atau seluruh umat manusia; walau kemudian yang diadegankan adalah hanya sekelompok orang yang berusaha mempertahankan hidup. Bentuk-bentuk ancaman dalam film-film bencana kini juga semakin beragam; dari ancaman invasi makhluk asing, virus pembunuh, terorisme—termasuk psikopat, tornado, gunung berapi, tumbukan meteor, monster, atau ancaman senjata pembunuh massal seperti nuklir.

Film model ini menjadikan bencana sebagai jualannya. Bencana dalam hal ini bisa bencana alam seperti pada film 2012 (2009), The Day After Tomorrow (2004), Twister (1996), dan lain-lain. Bisa juga dalam bentuk invasi makhluk asing (alien) seperti dalam film War of the Worlds (2005), Independence Day (1996), The Faculty (1998), dan lain-lain. Bentuk lain dari film bencana itu adalah serangan binatang sepeti film Jaws (1975), Deep Blue Sea (1999), Lake Placid (1999), dan lain-lain. Bencana dalam film ada dalam bentuk bencana alam yang merupakan dampak dari ulah manusia sendiri dengan sadarnya seperti film The Day After Tomorrow  yang mengangkat tema global warming. Ada juga semacam bencana yang berawal dari human error seperti film Titanic (1997).

Lalu di mana menempatkan 2012? Mungkin ada gunanya membandingkan 2012 dengan The Day After Tomorrow karena dua-duanya disutradarai oleh Roland Emmerich, seorang sutradara yang terkenal karena telah melahirkan film-film fenomenal. Selain dua film tadi, dunia mengenal The Patriot (2000), Godzilla (1998), The Independence Day (1996), Stargate (1994), dan lain-lain.

Bagi yang pernah menonton film The Day After Tomorrow (TDAT), film 2012 menjadi terasa klasik dan klise. Menit-menit awal 2012 sangat mirip dengan TDAT; hujan deras yang menjadi latar pertemuan ilmuwan yang lalu melahirkan informasi awal bagi bencana yang akan terjadi sepanjang durasi film selanjutnya. Persamaan lainnya adalah pertemuan ilmuwan itu tidak berlangsung di Barat, tapi di Timur. Dalam 2012, pertemuan ilmuwan itu terjadi di India. Satu lagi yang sama, kedua film ini sama-sama menggambarkan hancurnya Amerika Serikat, tapi itu bukan gambaran kelemahannya, namun justru sebagai gambaran bagaimana adikuasanya AS. AS hancur bukan karena ada negara lain yang lebih kuat darinya, tetapi AS hanya bisa dikalahkan oleh alam yang sedang marah.

Di antara sekian banyak kemiripan itu, ada juga perbedaan seperti presiden terakhir Amerika Serikat—sebelum negara adidaya itu hilang dari peta bumi—pada 2012 berkulit hitam, sedangkan TDAT berkulit putih. Itu mungkin karena presiden sekarang berkulit hitam, walaupun bukan hanya sekali ini film Hollywood menampilkan presiden AS berkulit hitam. Ilmuwan pada film 2012 pun berkulit hitam,  berbeda dengan TDAT. Dan jika pada TDAT prediksi bencana berdasar murni pada analisis “ilmiah”, maka pada 2012 lebih kepada hasil ramalan manusia lampau.

Namun secara umum, TDAT lebih memukau daripada 2012. Jika kemudian 2012 begitu laris, khususnya di Indonesia, itu karena terbantu oleh kontroversi kiamat yang dipicu oleh film tersebut.

Saya jadi teringat perkataan seorang kawan ketika di suatu siang bercakap-cakap tentang 2012. Katanya, “Itu tidak lebih dari jualan kaum kapitalis.” Ya, memang salah satu kehebatan kapitalisme adalah kemampuannya untuk menyeret semua orang dalam pusarannya, bahkan orang yang anti terhadap kapitalisme bisa menjadi alat bagi kapitalisme untuk menggemukkan dirinya. Hal ini sangat jelas tergambar betapa sikap mengharamkan 2012 justru menjadi iklan gratis bagi 2012 untuk semakin banyak menyedot penonton.

Ironisnya, film ini ternyata tidak berbicara tentang kiamat dalam arti berakhirnya kehidupan seluruh makhluk hidup di bumi—sebagaimana selama in ramai dibicarakan, tetapi hanya berbicara tentang bencana yang maha dahsyat. Sebait lagu yang dengan irama blues mengalun lembut dalam film ini memperkuatnya: It’s not the end of the world, it’s just the end of the song (Ini bukan akhir dunia, ini hanya akhir dari lagu).

Seandainya film ini berbicara tentang kiamat, maka dia tidak akan sempat menghabiskan izin masa tayangnya yang diberikan oleh Lembaga Sensor Film (LSF) hingga 2014. Dan dunia pun berakhir di ujung lagu.[]

Bahan Bacaan:

“Disaster Films” dalam http://www.filmsite.org/disasterfilms.html

Beth Rowen, “Lights! Camera! Disaster! The greatest disaster films of all time”, dalam http://www.infoplease.com/spot/disaster1.html