Netizen

0
204 views

by Abd. Muid N.

Apa yang disebut dengan “media sosial” saat ini adalah kelanjutan dari ledakan teknologi komunikasi yang dulu telah dimulai revolusinya sejak ditemukan internet. Internet pada dasarnya memang adalah alat yang mengoneksi manusia di seluruh penjuru dunia tanpa lagi ada halangan ruang dan waktu yang berarti.

“Tanpa halangan ruang dan waktu” itulah mungkin kata kunci awal yang menggambarkan dahsyatnya internet. Begitu besar ruang dan waktu yang terpangkas antara seorang  yang mengirim e-mail, dari Sabang dan langsung diterima oleh sahabatnya di Merauke. Kisah seperti itu dulunya hanya ada dalam angan di saat orang-orang masih menggunakan jasa pos dan perangko.

Ketika internet pertama kali digunakan, belum banyak pengguna (users) yang memanfaatkan internet. Situs internetworldstats.com mencatat bahwa di tahun 1995, tercatat hanya 16 juta pengguna (0,4% populasi dunia). Namun di tahun 2017, tercatat 3,7 miliar orang di seluruh belahan bumi yang menggunakan internet (49,6% populasi dunia). Itu berarti ada 3,7 miliar orang yang saling terkoneksi satu sama lain secara intensif.

Jika hampir setengah populasi penduduk dunia saling terkoneksi secara intensif lewat internet, maka sesungguhnya internet adalah sebuah dunia tersendiri karena jumlah pengguna internet jauh melampaui jumlah penduduk sebuah negara. Diibaratkan sebuah negara atau dunia, maka pengguna internet adalah penduduk sebuah negara atau dunia juga. Mereka disebut netizen dan wilayah yang mereka diami disebut mayantara atau dunia maya (cyberspace). Namun berbeda dengan wilayah di dunia nyata, hampir-hampir tidak ada pemerintahan di dunia maya.

Benarkah tidak ada pemerintahan di dunia maya? Mungkin benar tidak ada pemerintahan di sana, tetapi apakah itu berarti di sana tidak ada semacam kekuatan yang digenggam oleh sekelompok orang dan yang lain hanya obyek kekuasaan? Patut dicurigai bahwa meski di mayantara tidak ada pemerintahan, namun sebentuk kekuatan bak hantu berkuasa di balik setiap huruf yang diketikkan di status Facebook, Instagram, Twitter, dan lain-lain. Kekuatan tersebut mengendalikan pola pikir, emosi, selera, pengetahuan, dan tingkah laku para penduduk mayantara. Kekuatan itu bisa hadir dalam bentuk kekuatan politik, trend fashion, film blockbuster, atau bahkan religiusitas semu.

Mari kita cermati benarkah ada kekuatan yang mengendalikan di dunia maya? Kegemaran kita terhadap gadget tertentu, benarkah semata keinginan kita atau karena dunia maya yang membuat kita menjadi menggemarinya? Kegandrungan kita terhadap isu politik tertentu, benarkah semata kepentingan kita atau dunia maya yang menghanyutkan kita dengan isu-isunya? Kesukaan kita pada ritual dalam agama–seperti mengkhatamkan al-Quran bersama-sama secara virtual–, benarkah cerminan kedewasaan spiritual kita atau semata serbuan media sosial yang memaksa kita untuk mengikutinya? Jika kita membuka tabir kejujuran, mungkin jawaban yang kita temukan tidak seideal yang kita bayangkan.[]