Pulang

0
297 views

By Dr. Abd. Muid N., MA.

Perjalanan malam Rasulullah saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha adalah salah satu peristiwa yang paling kontrovesial di antara banyak peristiwa luar biasa yang terjadi pada diri Rasulullah saw.

Kontroversial tidak hanya bagi orang-orang yang hidup ketika peristiwa tersebut terjadi, tetapi juga kontroversial hingga jauh setelahnya hingga saat ini. Kontrovesial bukan hanya bagi non-Muslim, tetapi bahkan bagi Muslim sendiri. Kontroversi paling awal dalam Islam tentang peristiwa tersebut adalah apakah Rasulullah saw mengalami peristiwa itu hanya dengan ruhnya atau dengan ruh beserta jasadnya.

Memasuki masa modern, di saat segala hal harus bisa dirumuskan secara ilmiah positivistik, godaan untuk mengilmiahkan peristiwa tersebut juga sangat kuat bahkan sampai melibatkan fisika kuantum. Pakar Muslim pun terbelah. Ada yang mengilmiahkannya dan ada pula yang membirkannya berada dalam wilayah iman. Namun ada pula yang mencoba cari jalan lain. Saya menyebutnya jalan ketiga.

Salah satu yang mencoba menempuh jalan ketiga ini adalah Muhammad Husain Haikal, penulis Hayât Muhammad, sebuah karya yang terbit pada 1935 dengan prakata Musthafa al-Maraghi, yang saat itu adalah rektor Al-Azhar. Bagi Haikal, peristiwa mi’râj adalah simbol kepemimpinan besar Nabi Muhammad saw “yang memiliki kekuatan yang dapat mengangkat manusia ke puncak-puncak ruh, yang di sana kehidupan terdiri atas persaudaraan dan cinta, dan keinginan keras untuk mengetahui segala yang ada di dunia.” Yang ingin dilakukan oleh Haikal—menurut salah seorang pengamat—adalah melihat peristiwa mi’râj tetap berada dalam koridor manusiawi namun tidak menghilangkan posisi religiusitasnya. Cara Haikal menafsirkan mi’râj ini mendapatkan protes karena bagi pemrotesnya, penafsiran seperti itu seperti tidak menganggap mi’râj sebagai mukjizat.

Lalu ada pemikiran lain tentang mi’râj yang saya sebut jalan keempat. Pemikiran ini dikemukakan oleh Sir Muhammad Iqbal dalam karyanya, The Reconstructions of Religious Thought in Islam yang terbit lima tahun sebelum karya Haikal (1930).

Iqbal tidak melibatkan diri dalam perdebatan ilmiah tentang mi’râj, bahkan tidak membahas mi’râj itu sendiri. Iqbal lebih tertarik kepada peristiwa setelah mi’râj, yaitu pulang, perjalanan malam dari Sidratul Muntaha ke Masjidil Haram.

Sambil mengutip seorang sufi bernama Abdul Quddus, Iqbal menegaskan bahwa ada yang lebih penting dari mi’râj-nya Rasulullah saw, yaitu kepulangan beliau. Kepulangan berarti meninggalkan segala kedahsyatan yang tersedia ketika seorang hamba berada di sisi Tuhannya. Kepulangan berarti memilih terlibat di dalam proses sejarah duniawi di mana di sana ada perjuangan, ada keringat, ada darah, dan ada air mata.

Dengan konsep kepulangannya, Iqbal ingin menegaskan bahwa itulah spirit Islam yang sesungguhnya yaitu Islam yang terlibat dalam lintasan sejarah, bertarung dengan segala tantangan duniawi untuk mewujudkan potensi kemanusiaan demi kemakmuran dunia dan terciptanya keadilan di dunia.[]

Bacaan

Muhammad Iqbal, Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam, Yogyakarta: Lazuardi, 2002.

Annemarie Schimmel, Dan Muhammad adalah Utusan Allah, Bandung: Mizan, 1998.